Agama dan Ekonomi

Sebelum lebih jauh bicara tentang ekonomi Islam, bagaimana kalau kita mengenal dulu arti kata agama? Selain kata cinta, agama juga sebuah kata yang sulit untuk didefinisikan. Beberapa definisi yang diungkapkan antara lain; menurut KBBI, agama adalah sistem kepercayaan kepada Tuhan. Dalam Dictionary of Religion disebutkan bahwa “agama” berasala dari bahasa Sansekerta yang berarti “tradisi”.

Kata lain yang setara dengan “agama” adalah “religi” yang berasal dari bahasa Latin, re-ligare, yang berarti “mengikat kembali (kepada Tuhan)”. Di Eropa, agama itu adalah sesuatu yang tidak dapat dicapai hanya dengan akal dan pendidikan saja (McMuller dan Herbert Spencer). Beberapa definisi di atas menggambarkan bahwa agama hanya menghubungkan antara manusia dengan Tuhan.

Sedangkan dalam bahasa Arab, agama biasa disebut dengan ad-dîn. Jika agama atau religi hanya berisi hubungan manusia dengan Tuhan, namun ad-dîn tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan tapi juga hubungan manusia dengan manusia lainnya. Jadi berdasarkan penjelasan tersebut, agama atau religi merupakan bagian dari ad-dîn.

Ekonomi Islam

Yang menjadi poin penting dari definisi ad-dîn (yang diartikan sebagai agama oleh bahasa Indonesia) adalah bahwa agama (sebenarnya dan seharusnya) tidak hanya mengatur antara manusia dengan Tuhan, tapi juga mengatur segala aktivitas manusia, termasuk di dalamnya ekonomi. Ini artinya ekonomi Islam hadir ketika Islam tersebut dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, saya tidak sependapat dengan ahli yang mengatakan bahwa ekonomi Islam merupakan islamisasi ilmu ekonomi barat. Yang saya maksud adalah ekonomi Islam secara filosofi dan aturan dasar, bukan bagian tertentu dari ekonomi. Jika ada bagian dari ekonomi barat yang sesuai dan sejalan dengan pandangan Islam bukan berarti hal tersebut islamisasi ekonomi barat.

Islam telah memberikan filosofi dan aturan dasar dalam berekonomi ( juga) bukan berarti seluruh perhitungan ekonomi sudah Islam atur. Sama seperti bidang kehidupan yang lain, ekonomi dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman; namun aturan dasar dan norma ekonomi tidaklah berubah hanya karena perubahan waktu.

Bank Islam

Untuk mengganti istilah bank syariah, saya lebih memilih penggunaan istilah bank Islam. Artinya bahwa bank tersebut berbeda dengan bank lainnya; yakni bank Islam (yang ideal) memiliki semangat yang sama dengan agama Islam itu sendiri. Sekali lagi hal ini mengenai filosofi dasar dan aturan dasar, bukan praktik dari institusi bank tersebut.

Harus diakui bahwa praktik institusi perbankan zaman sekarang memang bukan murni berasal dari Islam. Bukan berarti juga “semangat” insitusi bank tidak ada di dunia Islam. Sistem titipan atau pinjaman (yang merupakan inti dari kegiatan bank) juga dikenal dalam dunia Islam. Tapi secara filosofi dan praktik, tentu bank Islam akan berbeda dari bank pada umumnya. Wallâhua’lam.

About these ads

5 thoughts on “Agama dan Ekonomi”

  1. Hem…akyu setuju sekali Li, yang aku pahami juga kurang lebih mirip dengan apa yang dikau kemukakan. Bahwa titik tolak ekonomi islam itu berangkat dari ketauhidan, sedangkan kapitalisme (baca: ekonomi barat) bertolak dari utility marginal yang individualistik, sedangkan untuk sosialis, bertolak dari pembuatan mekanisme produksi yang langsung di pegang oleh legal otoriter (Pemerintah) untuk kepentingan kaum proletar–yang dalam banyak literatur dikatakan overexpression–yang tertindas. Falsafah ekonomi Islam ini berangkat dari keserasian kerjasama antara Tuhan, Manusia dan alam, yang disebut oleh Bapak Mohammad Hidayat sebagai konsep “filsafat triangle”. Konsep ini membentuk sebuah bangunan piramid, dimana Tuhan berada pada posisi teratas (central) untuk memberikan irama perekonomian. Akan tetapi sayangnya bagi kaum prokapitalism & sosialism, bangunan piramid ini diputarbalikan menjadi sesuatu yang bukan pada rotasinya, yaitu manusia menjadi titik epicentrum dari triangle tersebut, hingga akhirnya isme-isme yang humanitarian focus membentuk diri pribadi-pribadi manusia misoriented dalam tindakan ke-ekonomiannya, yaitu manusia yang konsumerisme, materialistik bahkan liberal economist.
    Wa Allahu a’lam bi ash-shawab

    1. Kalo mau dihubungin ke bank Islam, kenapa masih “kecil” peminatnya, back to basic kali ya… Agama masyarakatnya dulu dikuatin; banyak yg meragukan “kemurnian” bank Islam karena tidak mengenal filosofi dasarnya. Terlepas dari realitas yang terjadi akibat beberapa oknum tertentu.

  2. ehmmm…kl g salah Nabi Muhammad ketika pertama kali berdakwah itupun waktunya lebih banyak untuk menguatkan sendi-sendi keimanan terlebih dahulu drpd muamalatnya kan! tentu saja tanggapan dikau itu bener sekali Li, cahyo deh untuk diskusi2nya yg seperti ini

  3. bukannya ragu ma sesuatu yang da islam2nya,,,akn tetapi pa kah bank2 islam trsbut mang dah mnjlankan asas2 keislaman, khwatirnya nma islam itu djual…jd pa pa yg brbau islam di anggap bner….kyak trik g2,,,so,, antra bank islam yg bneran n yg cm asal nama2 ja smpe2 g trliat bdanya,,,

    1. Tidak setiap muslim pasti menjalankan seluruh perintah agama Islam, tapi diwajibkan untuk terus mengarah yg lebih baik. Lembaga keuangan islami pun terus mengupayakan menjadi lebih baik. Karenanya di setiap lembaga itu ada Dewan Pengawas Syariah. Kalau yg tidak terlihat beda mungkin hanya di tataran operasional.

Bagaimana komentarmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s