Riya Itu Halus, Berhati-hatilah
Tulisan ini merupakan perpanjangan dari note saya di Facebook. Jadi begini awalnya. Suatu hari sekitar jam tiga pagi saya mandi. Di saat mandi itu tiba-tiba saya teringat kisah mengenai Imam Khomeini. Tidak seperti ikhwan/akhwat kita yang malam-malam SMS-in orang lain untuk bangun shalat, Imam Khomeini justru tidak seperti itu.
Untuk menghindari sikap riya, Imam tidak melakukan hal tersebut sehingga terhindar dari ucapan yang seolah-olah berkata “Ini lho, saya bangun tengah malam. Saya melakukan tahajjud.” Lebih jauh lagi, Imam tidak membangunkan orang lain karena tidak ingin mengganggu dan justru perbuatannya itu bertujuan menjaga hak orang lain.
Menantu Imam, Agha Burujurdi bercerita: “Jika Imam bangun tengah malam untuk shalat malam, beliau tidak menyalakan lampu… Kemudian beliau berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ini karena beliau tidak ingin membangunkan orang lain. Sikap ini membuktikan beliau sangat menghormati orang lain, menjunjung tinggi hukum dan akhlak Islam.”
Saya teringat kisah tersebut karena waktu itu saya sedang mandi jam tiga pagi, sehingga khawatir suara air mengganggu yang lain (meski saat itu orang tua sudah bangun). Akhlak Imam di atas saya yakini berasal dari akhlak Rasul. Dalam Musnad Ahmad, Ummul Mukminin Aisyah pernah berkisah:
“Pada malam Rasulullah saw tinggal bersamaku, aku lihat beliau berbalik, lalu meletakkan selendangnya, melepas sendalnya, menghamparkan sarungnya di atas kasur lalu berbaring. Tidak berapa lama mungkin beliau mengira aku sudah tidur—beliau bangkit, mengambil selendangnya, mengenakan sandal, membuka pintu, keluar dan menutup pintu. Semuanya dilakukan dengan hati-hati…”
Kelanjutan kisah itu adalah Aisyah membuntuti Rasul yang ternyata—tidak seperti prasangka awal—Nabi berziarah ke Pemakaman Jannatul Baqi’. Di situ Rasul tidak membangunkan atau mengajak Aisyah untuk ziarah, karena beliau tahu ziarah bukan sebuah kewajiban dan menjaga hak (tidur) orang lain lebih utama dari sekedar perbuatan sunnah.
Ada yang berkomentar di note bahwa perbuatan ikhwan/akhwat dengan SMS malam-malam itu baik, karena mengajak kebaikan. Ya, ada benarnya, tapi menjaga hak orang lain atau tidak mengganggu orang lain (karena bisa saja orang yang kita SMS tidak menginginkannya) lebih utama dari perbuatan sunnah. Terlebih, SMS “nakal” (Hey teman2, bangun malam yuk, kita tahajud ^^) tersebut dikhawatirkan menimbulkan riya.
Saya akan contohkan lagi kisah dari Imam Khomeini, di mana beliau sangat memperhatikan keikhlasan suatu perbuatan, karena riya itu sangat halus. Suatu ketika menantu Imam (Fatimah Thabathabai) datang bersama putranya. Imam bertanya, “Mengapa penamilan Hassan lusuh seperti ini?” Sembari bergurau menantu Imam menjawab, “Beginilah kehidupan orang miskin, Agha.”
Wajah Imam Khomeini langsung berubah dan menegurnya, “Kau tidak ingin bersikap riya, kan?” Menantu Imam berkata, “Tidak. Apakah yang seperti ini riya?” Imam menjawab, “Berhati-hatilah, jangan memperhatikan penampilan luar. Jika kau ingin menunjukkan kepada orang bahwa kau begini atau begitu, itu berarti riya.”
Dalam kitabnya, Syarh Al-Arba’în Al-Hadîtsan, Imam Khomeini menempatkan hadis tentang riya pada posisi dua. Perbuatan Imam di atas merupakan wujud dari apa yang beliau tulis. Imam menyebutkan bahwa riya dalam ibadah merupakan riya yang paling jelas. Ditandai dengan penampilan terang-terangan dan meninggalkan perbuatan haram dengan motif riya. Hal ini persis seperti apa yang dikatakan Amru Khalid bahwa mengerjakan sesuatu amal karena manusia adalah riya, namun tidak mengerjakan sesuatu karena manusia adalah riya juga.
Ya Allah junjungan hati orang beriman. Terimalah ibadahku, shalatku, sedekahku, zikirku. Maafkan bila ibadahku tercampur dengan riya. Ampuni bila amal saleh yang aku lakukan tidak dengan seluruh keikhlasan hatiku… Wallâhua’lam.










visit my blog
http://jerzz.wordpress.com/