Imam Ali pernah berkata, “Bacalah Alquran dan ajaklah bicara.” Bagaimana pandangan Anda?
Itulah yang oleh Muhammad Baqir al-Shadr dijadikan dasar bagi terciptanya metode mawdhu’i atau tawhidi. Anda punya problem, jangan cari solusi ke mana-mana, tetapi cari dan bukalah Alquran. Itu namanya “istintaq bil-quran”. Nanti, Alquran yang akan menjelaskan. Tapi, harus digarisbawahi bahwa penjelasan itu menurut versi dia (si pembaca).
Ini berarti ruang eksplorasi dalam tafsir lebih luas daripada fikih?
Kalau kita bicara Islam, sumber rujukannya adalah Alquran. Semua ilmu keislaman pun lahir dari Alquran. Mulai dari nahwu, sharaf, kalam, fikih, balâghah, dan lain-lain. Sehingga semua orang, bahkan yang non-muslim, yang ingin bicara tentang Islam pasti merujuk ke Alquran. Alquran tidak menjadi sekat. Alquran, yang perlu kita ketahui bersama, hanya akan menjadi sekat apabila pandangan kita picik, seperti ungkapan, “Lihat ini, Alquran berkata ini, yang lainnya tidak.” Tapi, bila pandangan kita luas, kita akan mengatakan bahwa yang berbeda-beda dengan kita pun mempunyai dalil.
Continue reading →