Habib Umar bin Hafidz Bicara tentang Syiah

Habib Umar bin Hafidz - Ust. Muhammad bin Alwi BSA - Ust. Hasan Daliel Alaydrus - Ust. Othman Shihab
Berbeda dengan apa yang disebutkan oleh albayyinat.net yang menyatakan bahwa Habib Umar bin Hafidz menyebut Syiah sebagai “sesat dan menyesatkan”, dalam pertemuan dengan habaib dan ustadz Syiah di Jakarta, Habib Umar mempunyai jawaban yang berbeda. Berikut transkrip pertemuan tersebut pada Februari 2008.
Habib Zen Umar bin Smith (Ketua Umum Rabithah Alawiyah Indonesia):
Assalamualaikum Wr. Wb. Terima kasih atas kedatangan saudara-saudara ikhwan semua. Maksud pertemuan kita ini, saya sengaja atas nama Rabithah dan atas nama saya secara pribadi menginginkan pertemuan ini dan sengaja meminta Habib Umar berada pada lingkungan kita untuk jalsah bersama-sama dan bisa sedikit banyak menyarankan segala sesuatu permasalahan yang sekarang menyelimuti kita saat ini. Di mana saat ini kita berada pada posisi yang, terutama Rabithah, menghadapi berbagai masalah yang ada di kalangan Bani Alawi atau Alawiyyin dan masing-masing mempunyai pendapat.
Bagi kami sebenarnya perbedaan itu pasti akan ada di mana-mana karena biar bagaimana saudara sekandung pun bisa berbeda tetapi mudah-mudahan tidak menyebutkan perpecahan karena ini yang kita inginkan bahwa semua kita ini satu. Kita harus menghormati. Kita beda baik beda tetapi saling menghormati perbedaan masing-masing. Ini yang kita inginkan. Dalam kaitan ini sengaja saya harapkan kepada ikhwan yang ada di sini tafadhal karena ada Habib Umar, ada habaib yang lain kita bisa berdiskusi secara bebas, rileks.
Fadhal kalau ada pertanyaan yang kami mintakan bahwa segala sesuatunya harus didasari dengan husnuzhan, ikhlas, dan tentunya dengan akhlak ini yang menjadi persyaratan bagi kita karena kalau kita bertanya, kita mengajukan suatu pendapat ada permasalahan di mana kita tidak bisa menghormati perbedaan akan sulit kita kembali kepada Tariqah Bani Alawi, Tariqah Alawiyah yang didasari dengan tentunya ‘ilm, amal, ikhlas, lalu wara’, lalu khauf. Hal ini menjadi dasar bagi kita semua.
Nah untuk itu saya persilahkan bagi saudara-saudara kita yang ada di sini tanpa canggung bertanya. Apabila kita sependapat, Alhamdulillah. Apabila kita tidak sependapat mari kita hormati perbedaan masing-masing. Ini yang kita harapkan jangan sekali-kali kita merasa yang paling benar sendiri karena kalau itu sudah menjadi permasalahan akan timbul permasalahan yang baru lagi. Kadang-kadang kita lupa bahwa kita menyelesaikan masalah tapi menimbulkan masalah baru. Nah ini yang terjadi. Tafadhal dan saya yakin karena kita semua berada pada dzuriyah Rasulullah saw, kita menjadi cucu Fatimah Az-Zahra pasti kita akan menonjolkan pada akhlak yang mulia dan saya tidak yakin di antara kita itu ada yang didasari dengan kedengkian, Insya Allah.
Di sini kita mulai tafadhal kalau ada pertanyaan. Di sini ada sudah beberapa yang apa namanya pertanyaan masuk tapi saya harapkan nanti ada pertanyaan yang akan diajukan dan kita minta bahwa permasalahan keluar dari tempat kita ini, Insya Allah. Kita tidak ada lagi ganjelan-ganjelan yang ada di hati, Insya Allah dan saya harapkan bahwa ini permintaaan saya sebagai ketua Rabithah Alawiyah dan juga sebagai shâhibul bait… Fadhal…
Ustadz Hasan Daliel Alaydrus:
Bismillâhirrahmânirrahîm. Pecintamu Hasan bin Ahmad bin Husain Alaydrus. Hari ini kami sangat bergembira sekali, ceramahan antum (Habib Umar bin Hafidz), arahan-arahan antum, membuat gembira dan sejuk kami. Sayyidah Nisa’il Alamin, Fatimah binti Rasulillah ‘alaihâ salâmullâh dan keturunan Sayyidah Fatimah di Indonesia banyak sekali sebagaimana antum ketahui. Adalah sebuah realitas wahai Habib, bahwa keturunan Sayyidah Fatimah saat ini… dan mereka adalah saudara-saudara antum kami ingin tentu perkataan antum di dengar karena itu kami bertanya di depan saudara-saudara kita, agar apa? Agar tidak ada lagi sesuatu yang samar atau tidak jelas. Agar jelas, hari ini, sebelum kita keluar dari rumah kediaman Sayyid Zen bin Smith, sebelum kita berpisah dan kembali ke rumah kita masing-masing, masalah ini harus jelas terlebih dahulu.
Tentu kami mengharapkan dari antum bimbingan-bimbingan antum, perkataan dan fatwa antum, agar menjadi jelas. Kami ingin mencintai karena Allah Swt. Wahai Habib, kami menangisi perpecahan ini, kami sedih, kami malu kepada Allah, kepada Rasul… kami ingin… antum baru saja katakan bahwa ridha Allah, ridha Rasul saw akan turun dengan adanya jalinan hubungan antarsesama dan kami menginginkan hal itu. Akan tetapi ada suatu hal penting, di setiap majelis, di atas mimbar-mimbar yang diberkati, antum perlu selalu menyerukan persatuan ya Habib. Menyerukan persatuan barisan, khususnya diantara kita sesama Alawiyin.
Karena itu ya Habib, berilah kami pengetahuan, semoga Allah menganugrahi Antum pengetahuan, kita menemukan sebuah realitas di masyarakat Alawiyyin saat ini, bahwa sebagian dari mereka bermazhab Syiah ya Habib. Saya adalah seorang bermazhab Syiah. Saya adalah salah seorang murid Almarhum Al-Habib Abdullah Syami’, khususnya saya berguru kepada Habib Hadi bin Ahmad Assegaf dan Syaikh Hadi bin Sa’id Jawwas. Mereka semua tahu bahwa saya seorang Syiah. Saya duduk bersama mereka. Mereka mencintai saya. Banyak dari saudara-saudara kita menyaksikan. Saya, Ustadz Othman Shihab, Ustadz Muhammad bin Alwi Bin Syaikh Abu Bakar.
Kami bermazhab Syiah, namun sangat disayangkan, kadang-kadang sebagian orang berkata: “Mereka orang Syiah meninggalkan turats datuk-datuk mereka dari kalangan habaib dan para wali di Hadramaut.” Tidak! Kami membaca ratib, doa-doa, munajat-munajat. Bahkan terkadang kami mengutip ucapan antum dalam Adh-Dhiya’al Lami’. Kami ingin membangkitkan semangat para Alawiyyin, maka kami mengutip ucapan Antum dalam Adh-Dhiya’al Lami’: “Demi Allah, tidak disebut sang kekasih oleh pecinta, melainkan ia dibuatnya mabuk kepayang. Manakah gerangan para pecinta yang bagi mereka mengerahkan segenap jiwa dan hal-hal berharga adalah sesuatu yang tidak berarti.”
Kami tidak meninggalkan Hadramaut. Akan tetapi, terus terang, pada kenyataannya kami katakan bahwa kami bermazhab Syiah. Kami menganut mazhab Imam Ja’far Ash-Shadiq ‘alaihissalâm. Kami menukil ilmu fikih, ushûluddîn, dan lain-lain, sebagaimana Antum singgung tadi. Karena itu, saya ingin bertanya kepada Antum, dengan segala takzim dan hormat saya: Apakah Syiah kafir atau tidak? Inilah pertanyaan saya ya Habib, agar apabila jawabannya keluar dari lisan Antum yang diberkahi, Insya Allah saudara-saudara akan mendengar, dan tidak akan lagi ada ketidakjelasan, dan InsyaAllah, besok saya akan mengunjungi Habib Naqib bin Syaikh Abu Bakar, dan besok saya… ringan bagi saya Insya Allah. Saya pergi mengucapkan salam dan duduk bersama Habib siapa saja… seluruhnya. Maka, karena itu, ya Habib, berilah kami pengetahuan, semoga Allah menganugrahi Antum pengetahuan, terima kasih untuk Antum.
Al-Habib Umar bin Hafidz:
Semoga Allah memberkati dan memberi taufikNya kepada anda dan kita semua. Apa yang anda sebutkan, pada ucapan anda, mengenai adanya tali hubungan (ittishal) dengan dengan Sayyid Abdullah Syami’ atau yang lainnya, semua itu insya Allah akan tetap berlangsung. Seperti Anda ketahui, bahwa di antara kewajiban seorang yang muttashil (menyambungkan diri) dengan seorang guru, atau siapa pun, begitu pula berkaitan dengan mazhab Imam Ja’far Ash-Shadiq, perlu anda ketahui bahwa tidak ada seorang pun dari syaikh-syaikh Anda, syaikh-syaikh dan datuk-datuk kita semua, yang keluar dari manhaj Sayyidina Ja’far Ash-Shadiq atau bertentangan dengannya.
Berkaitan dengan penukilan masalah-masalah yang bersifat fiqhiyyah, maka dalam hal ini terdapat banyak jalur (periwayatan) dan menjadi bahan diskusi di antara apara ulama. Terdapat banyak jalur dalam hal metode penukilannya. Maka jika kita telah mengetahui demikian , kita katakan bahwa Sayyidina Ali Al-Uraidhi ra adalah penggalan jiwa ayahandanya, seperti saudara (Imam) Musa Al-Khazim ra apa yang berada pada keduanya tidak ada yang keluar dari manhaj ayah mereka, Sayyidina Ash-Shadiq ra.
Seperti Anda singgung dalam pembicaraan Anda, bahwa Anda berpegangan pada mazhab yang di pegang oleh mereka, kemudian, cabang-cabang ilmu fikih dalam syariat Islam sangat luas sekali, dan bukan masalah dalam mengambil satu dari sekian banyak cabang ilmu fikih, bahkan tak jarang ditemukan sebuah pendapat yang menjadi pegangan mazhab tertentu dan terdapat padanannya pada mazhab-mazhab lain yang populer di kalangan Ahlus Sunnah.
Karena itu di tempat kami terdapat kelompok Zaidiah di Yaman. Zaidiah adalah salah sebuah firqah Syiah, mereka adalah firqah Syiah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah. Kelompok ini hidup selama ratusan tahun, di antara mereka dengan kalangan ulama dan masyarakat kita terjalin hubungan baik, kehidupan bertetangga yang baik, dan akhlak yang baik, diantara mereka juga terjalin hubungan surat-menyurat dan saling kunjung mengunjungi, dan lain sebagainya. Mereka hidup berdampingan, di masjid-masjid mereka, mereka shalat dengan selain mereka tanpa ada perselisihan, masalah atau pertentangan.
Mereka memiliki banyak cabang dalam masalah fikih, bahkan sebagian mereka dinilai sebagai para penganut mazhab Hanafi karena banyaknya kesamaan dalam masalah-masalah fikih mereka dengan mazhab Imam Abu Hanifah. Padahal mereka bukan para penganut mazhab Hanafi. Terdapat banyak kesamaan pendapat di antara dua mazhab tersebut dan hal ini tidak masalah. Kalau hal ini Anda ketahui, maka jawaban atas pertanyaan Anda adalah bahwa kami tidak mengkafirkan suatu kelompok pun dari sekian banyak kelompok Islam kecuali yang secara terang-terangan menunjukkan pertentangan terhadap sebuah persoalan agama yang diketahui secara pasti, lalu mereka mengingkarinya.
Karena itu, kita tidak bisa menghukumi secara umum. Banyak dari pengikut Ahlus Sunnah yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kekufuran, apabila salah seorang dari mereka mengerjakan sesuatu yang dapat menyebabkan kekufuran yang disepakati secara ijma’, disepakati dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam maka status “pengkafiran” ini untuk pelaku perbuatan penyebab kekufuran tersebut, bersifat umum. Adapun dalam menindak si pelaku secara khusus, itu adalah tugas walî amr. Sedangkan penyebutan status “kafir” tidak dilakukan dengan menyebutkan nama individu terkait. Namun dengan cara menyebutkan perbuatan penyebab kekufuran, dan keyakinan penyebab kekufuran, karena itu orang-orang seperti Anda yang berpendapat apa pun, misalnya Anda berkata, “Saya Syiah, saya pengikut Imam Ja’far Ash-Shadiq,” tidak boleh dikafirkan, dengan ucapan ini, pandangan ini, tidak bisa dikafirkan.
Tidak yang diyakini orang-orang seperti Anda kecuali bahwa Anda mengagungkan Allah swt, mengagungkan rasulNya, mengagungkan Al-Quran, mengagungkan umumnya kaum mukminin dan kalangan khusus dari mereka, serta keinginan untuk mensucikan diri Anda dari berbagai bentuk cacian, laknat dan makian kepada yang kecil dan besar. Inilah yang diyakini dan diduga berada pada orang seperti Anda, dan dikenal pada Anda. Ini tentu tidak membuat Anda keluar dari maslak keislaman. Yakni seperti ucapan Anda, “Saya adalah seorang Syiah,” dari sini Anda tahu, bahwa kami, serta para ulama dan manusia-manusia terbaik umat ini, khususnya salaf shaleh kita dari Âl Abi Alawi, mereka adalah orang-orang yang paling jauh dari kebiasaan mengkafirkan, khususnya terhadap umat Islam, sampai seperti bunyi redaksi hadis Nabi saw, “Sampai kalian lihat mereka menunjukkan kekufuran secara benar-benar jelas.” Yakni tidak lagi perlu di takwil.
Namun demikian, mereka mengatasi perkara ini (kekufuran seseorang yang benar-benar jelas) tidak dengan atau dengan mencaci dan memaki, tetapi dengan memintanya bertaubat, dan menjelaskan masalah kepadanya, jika ia tidak juga bertaubat maka di serahkan kepada walî amr. Penyelesaian masalah oleh mereka hanya sampai di sini saja. Inilah cara yang di tempuh oleh para salaf shaleh kita.
Maka, kami sedikit pun tidak membenarkan takfir (pengkafiran) yang merupakan budaya kaum Khawarij yang telah mengkafirkan para sahabat, mengkafirkan Sayyidina Ali dan para pengikutnya dan siapa saja yang bersamanya, meski demikian, Imam Ali tak mau mengkafirkan mereka. Maka kami bersama mazhab Imam Ali tersebut. Para sahabat bertanya, “Apakah mereka (kaum Khawarij) adalah orang-orang kafir?” Imam Ali menjawab, “Tidak , mereka lari dari kekufuran.” “Apakah mereka orang munafik?” tanya mereka lagi. “Tidak, orang-orang munafik tidak berzikir menyebut nama Allah, sedangkan mereka banyak berzikir menyebutNya.” “Lalu kami namakan apakah mereka?” tanya mereka. ”Mereka adalah saudara-saudara kita yang telah memerangi kita.”
Dalam riwayat lain Sayyidina Ali berkata, “Mereka telah ditimpa fitnah, maka mereka buta dan tuli…” Beliau tidak mau menyebut mereka kafir atau munafik. Maka manhaj Sayyidina Ali inilah yang juga merupakan manhaj Al-Faqih Al-Muqaddam, Sayyidina Assegaf, Sayyidina Al-Muhdhar, dan juga berarti manhaj kita semua. Inilah yang kita anut dan pegang teguh. Padahal, orang-orang Khawarij membawa pedang dan memerangi Imam Ali. Mereka telah memerangi manusia-manusia terbaik dari umat ini yang begitu jelas disaksikan keutamaan mereka oleh Al-Quran dengan sebutan as-sâbiqûn al-awwalûn; as-sâbiqûn al-awwalûn berada pada barisan pasuka Imam Ali. Kaum khawarij memerangi mereka, mereka mengangkat senjata mereka memerangi manusia-manusia terbaik umat ini. Namun Imam Ali tak mau mengkafirkan mereka, karena sifat wara’ dan ketakwaannya, serta karena keluasan ilmunya, dan beliaulah pintu masuk kota ilmu. Maka manhaj inilah yang kita gunakan, dan inilah manhaj para salaf kita, semoga Allah swt meridhai mereka semua.
Yang paling penting yang harus kita perhatikan banyak sekali dari kalangan putra-putri kita yang menjadi sasaran Kristenisasi dan target incaran orang-orang Nasrani. Seperti apa upaya Anda dalam menghadang gerakan ini? Wajib bagi Anda sekalian untuk memikirkan secara serius dalam menghadapi fitnah dan bencana besar ini, dimana putra-putri kita menjadi target Kristenisasi, di kepulauan manapun di kawasan Indonesia secara khusus. Kedua, sejumlah putra-putri kita biasa meninggalkan shalat-shalat fardhu, tidak mengerjakannya, ada juga yang menunda-nunda pelaksanaannya, tiga waktu, empat waktu, dan tidak mempedulikannya. Mereka shalat setelah lewat waktu-waktu shalat fardhu yang ditetapkan, di antara mereka ada juga yang tidak mengetahui kewajiban-kewajiban yang bersifat fardhu ‘ain, dan ada juga dari mereka yang saling memutuskan silaturahmi, pelanggaran-pelanggaran mereka itu berdampak pada siapa?
Barangkali, beberapa bencana yang turun di tengah-tengah kita, yang dialami beberapa saudara kita adalah peringatan dan sanksi atas kelalaian Anda sekalian terhadap kewajiban yang seharusnya Anda tunaikan. Karena Anda lalai, maka dampaknya kembali kepada Anda sekalian dengan lebih dahsyat. Maka, persoalan ini adalah di antara sekian banyak persoalan yang menuntut kerja sama dan kekompakan kita semua, demi melindungi putra-putri kita dari bahaya kekufuran dan melindungi mereka dari berbagai bentuk kemungkaran yang disepakati khususnya dalam lingkup kalangan dzurriyyah suci, kemudian untuk saudara-saudara kita yang lain. Ini adalah satu di antara sejumlah kewajiban utama yang patut menjadi bahan perhatian sejauh kemampuan kita sejauh.
Adapun dalam menyikapi apa yang terjadi berupa munculnya sejumlah perbedaan pendapat, adalah menyikapi dengan bijaksana, dan memberikan bimbingan dengan rahmat dan kasih sayang, serta dengan berusaha untuk menjelaskan hakikat permasalahan semaksimal mungkin, merekatkan kembali perpecahan, dan meredam fitnah semampu kita. Inilah seharusnya sikap yang harus kita miliki. Marilah semaksimal mungkin kita berusaha agar jangan ada di antara kita pencaci, pemaki, pelaknat, dan yang sering mengkafir-kafirkan.
Sedangkan mengenai kapan hasilnya dapat kita wujudkan, apakah dalam satu-dua hari, satu bulan, atau satu tahun, hal itu sesuai kadar ketulusan kerja keras kita, Insya Allah hasilnya dapat kita wujudkan. Alhamdulillah, setiap individu dari kita sungguh jauh sekali dari keraguan Kitabullah atau Sunnah Rasul saw atau petunjuk para salaf saleh masing-masing dari Anda sekalian jauh sekali dari keraguan akan Kitab Tuhannya dan Sunnah Nabinya, serta ajaran salaf salehnya. Lalu bagaimana mungkin (salah seorang dari Anda) dapat diberi cap kafir, yang berarti keluarnya seseorang dari Islam, seperti ketika saya jawab pertanyaan Anda, karena takfir (pengkafiran) adalah sesuatu adalah sesuatu yang paling keji di alam wujud ini. Tidak ada yang paling keji melebihi takfir dan lebih buruk lagi adalah kemusyrikan, yakni mempersekutukan sesuatu bersama Allah. Inilah hal terburuk.
Transkrip © 2009 ejajufri
Terima kasih untuk fl0weriest & bsa_fatimah






kayaknya org yg masih fanatik buta..harus baca tulisan ini…
klw g slh acara ini ada videonya kan?disebarluaskan…
akhina.. apakah ada transcrip mengenai pertemuan penuh berkah ini..
Pertemuan ini diawali dengan nasihat-nasihat dari Habib Umar bin Hafidz yang berkisah tentang Ahlul Bait, dan diakhir pertemuan barulah di mulai pembicaraan inti Habib Zen di atas. Tulisan di atas adalah transkrip pertemuan inti tersebut yang direkam video.
Subhanallah…semoga perpecahan dan silang pendapat tidak menghancurkan persatuan muslim…Saya setuju bila kita tidak lagi mengungkit siapa yang paling benar dan siapa yang salah…cukup kita dalami dan yakini dengan hati yang bersih bahwa kita berada pada Al-Quran dan Sunnah.
alhamdu lillah kalau paradigma ummat sdh mulai berubah dari paradigma fiqih menjadi paradigma akhlak
Semoga saya bisa secara langsung mendengarkan nasihat2 yg penuh rahmat dan berkah ini… Alhamdulillah sya dapt mengikuti walau hanya dalam pesan2 yg dituangkan dsini… membuat masukan yg sangat berarti dalam kehidupan dan pandangan kita pada era ini..
alhamdulillah bagus banget nih diskusi semoga akal dan pikiran orang2 nyang jahil tidak tertutup
alhamdulillaah, sebaikmya memang kita bersatu, dengan tidak mempebesar perbedaan, tapi menemukan titik temu. karena kita beribadah pada ALLAH yg satu, dan berdasarkan Al-Qur`an dan Sunnah. wahai kawan2 Syi`ah dan Sunni, marilah kita bergandeng tangan menyambut Izzatul Islam wal Muslimin. Karena bila kita bersatu, tak satupun kekuatan di dunia ini yg bisa menghancurkan kita, insyaallah.
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan Diin yang haq, untuk dimenangkanNya atas segala Diin, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (At-Taubah:33).
MAri saling belajar menghormati. Jika kita serius untuk saling bersatu, tinggalkan caci maki dan kritik yang tidak pada tempatnya bagi hal-hal yang dianggap suci oleh kedua belah mazhab. Tinggalkan repetisi terus menerus yang usang dan membosankan dari usaha mazhab syiah untuk mengkritik sahabat nabi.Hal ini, sekalipun diberi label ilmiah, jika kita terus menerus kemukakan akan menyakitkan dan tidak membawa kebaikan sama sekali. Apa pentingnya bagi umat islam pengulangan terus menerus keusangan model ini? Begitu juga sebaliknya, tinggalkan dari dalam sebagian ahlu sunnah yang gemar mengkafir-kafirkan syiah, mengatakan quran yang berbeda, nabi yang berbeda,qiblat yang berbeda..
Hanya dengan serius untuk saling menghormati sajalah persatuan akan dicapai.Dan ingatlah akhi, semua itu tidak akan tercapai hanya mengandalkan slogan.Hormatilah sesama, laksanakan!!
perdamaian memang lebih baik daripada permusuhan namun kebenaran harus lebih diutamakan…
Bismillah..
Ane setuju banget sama perkataan masyaikh diatas, nahwa kita harus memberikan toleransi kepada penganut mazhab-mazhab lain..
sebab, perselisihan atau perbedaan fiqh antar mazhab (Hanafi,Syafii,Maliki,Hambali) tidaklah mengharuskan perpecahan, karena masing-masing berlandaskan dalil yang shahih dari Nabi –shallallahu ‘alihi wasallam–
dan ane setuju sama perkataan Al-Habib Umar bin Hafidz -hfdzahullahu-,
bahwa ada golongan syiah, yaitu SYIAH ZAIDIYYAH, yang dekat dengan ahl as sunnah (sunni), sebab mereka masih menghormati para khulafaur rasyidin (Abu Bakr, Umar, Utsman), tidak mencaci maki mereka…
…tetapi, untuk Syiah Rafidhah atau Syiah Imamiyyah (Syiah 12 Imam), yang mencaci maki khulafaur rasyidin, melaknat mereka, menuduh Ibunda Aisyah…
hmmm.. nanti duluu…. ane mikir-mikir dulu… ^__^v
karena seperti kata pepatah, siapa yang tak kenal maka tak sayang..
http://www.youtube.com/watch?v=IE_uvQ6_PE0&feature=player_embedded
Barakallahu fiikum…
Habib Umar tidak sedang membicarakan Zaidiah, tapi Ja’fariah (Imamiah)
Yasir Al-Habib? Ulama terkemuka abad 20? Terlalu berlebihan, Saya kasih contoh yang “terkemuka”: Ayatullah Khamenei, Ayatullah Sistani, Syaikh Subhani, Husein Fadhlullah, dll.
Wa alaikum…
tolong dong video pertemuanta di sebarluaskan penting tuh…. tolong yah…. agar yg blm tau menjadi tau thx…
tolong dong video pertemuanya di sebarluaskan penting tuh…. tolong yah…. agar yg blm tau menjadi tau thx…
Salam,

sayyid, ana minta izin share.
Syukron.
Salamun alaikum
Sebenarnya orang Syiah itu tidak pernah mencaci atau menuduh siapa2 dari kalangan sahabat apalagi ummul mukminin Aisyah, yang ada adalah penukilan dari fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri. Bukankah jelas2 dalam sejarah ditulis bahwa Aisyah itu perang dengan Imam Ali dalam perang JAMAL??? Bagaimana kita harus bersikap dengan peperangan ini? menyalahkan kedua-duanya atau membenarkan kedua-duanya atau membenarkan yang satu dan menyalahkan yan lain?
sebagaimana menyalahkan kedua-duanya tidak mungkin, maka membenarkan kedua-duanya juga tidak mungkin, sebab dengan membenarkan kedua-duanya itu berarti kita menyakiti hati kedua-duanya, artinya kita telah menganggap Imam Ali yang benar telah memerangi Aisyah yang benar pula, begaimana hukumnya memerangi yang benar?
saya yakin pasti bingung. ya memang harus banyak direnungi lebih cermat ….!!!!
assWrWb : perbedaan antara syiah dan sunni,bukanlah suatu perbedaan yang sangat “tajam”,tetapi suatu perbedaan yang bisa untuk di satukan,tinggal kita bisa menahan diri dari kedua belah pihak untuk sama2 mencari titik temu dan ini akan terwujud,hanya saja mereka2 yang sudah termakan hasutan yang sangat terlalu dari para wahabiyun untuk merusak persatuan di antara kedua mazhab ini,jd di antara syiah dan sunni bs bersatu,asal jangan terhasut oleh gerakan WAHABY.
Assl. W.W. Kalau kita cermati jawaban AlHabib Umar bin Hafidzh maka tampak kafir itu jika perbuatan seseorang yang secara terang-terangan menunjukkan pertentangan terhadap sebuah persoalan agama yang diketahui secara pasti, lalu mereka mengingkarinya. (Contohnya menganggap Al-Quran tdk otentik, mengkafirkan sahabat2 Rasul SAW, ini bertentangan dg ijma ulama)..
Lantas beliau menegaskan,”kami sedikit pun tidak membenarkan takfir (pengkafiran) yang merupakan budaya kaum Khawarij yang telah mengkafirkan para sahabat, mengkafirkan Sayyidina Ali dan para pengikutnya dan siapa saja yang bersamanya, meski demikian, Imam Ali tak mau mengkafirkan mereka. Maka kami bersama mazhab Imam Ali tersebut. Para sahabat bertanya, “Apakah mereka (kaum Khawarij) adalah orang-orang kafir?” Imam Ali menjawab, “Tidak , mereka lari dari kekufuran.” “Apakah mereka orang munafik?” tanya mereka lagi. “Tidak, orang-orang munafik tidak berzikir menyebut nama Allah, sedangkan mereka banyak berzikir menyebutNya.” “Lalu kami namakan apakah mereka?” tanya mereka. ”Mereka adalah saudara-saudara kita yang telah memerangi kita.”
Jadi u kaum syiah tinggal bertanya apakah kalian memiliki Qur’an versi sendiri, apakah kalian mengkafirkan sahabat2 Rasul? Jika tdk, kalian bukan mereka yang lari dari kekufuran…Sungguh jawaban Habib Umar sangat tegas…Wallahu ‘alam.
Inilah Kata2 Gabib Umar di atas yg perlu di garis bawahi :
awaban atas pertanyaan Anda adalah bahwa kami tidak mengkafirkan suatu kelompok pun dari sekian banyak kelompok Islam kecuali yang secara terang-terangan menunjukkan pertentangan terhadap sebuah persoalan agama yang diketahui secara pasti, lalu mereka mengingkarinya.
==============================================================================
Dalam masalah fiqih emang tidak masalah, tp pada kenyataannya, penuh caci maki syiah terhadap para sahabat2 (utamanya ABu BAkar,Umar, dan Utsman) juga istri Rasulullah Aisyah, bahkan mereka mengkafirkan shaabat2 tersebut.
Padahal sudah jelas, mengkafirkan mu’min biasa aja maka hukum kekafiran itu kembali kepada yg menuduhkan, apalagi mengkafirkan shabaat2 Rasulullah dan isteri Beliau. (lihat fatwa Imam al-Ghazali)
Pertama, Anda memakai generalisasi.
Kedua, perlu juga digarisbawahi ucapan Habib Umar yang bilang bahwa orang yang mengatakan:
juga beliau mengatakan:
Ketiga, ucapan Anda berbalik kepada Anda sendiri yang secara implisit mengatakan Syiah kafir (karena mencaci sahabat?).