Pada tahun 1980, partai yang berkuasa di Irak dan Saddam Hussein telah menembus Kuwait dan mulai mendapatkan kekuasaan. Kami pergi tahun itu menuju Iran. Sekali lagi, ayah saya lolos dari penganiayaan dan pembunuhan. Saya berusia enam belas tahun saat itu, cukup tua untuk memahami politik pemerintahan, rezim penindas, nilai hak asasi manusia, dan demokrasi. Sekarang, saya juga tahu bahwa saya ingin menjadi seorang imam.
Kedatangan kami ke Iran cukup pahit. Banyak anggota keluarga besar telah disiksa dan dibunuh oleh Saddam. Sekarang, kami telah kehilangan empat belas anggota keluarga, semuanya laki-laki. Kami bertemu istri dan anak-anak mereka di Iran, di mana sekarang mereka hidup dalam pengasingan, tanpa pernah mengetahui keberadaan suami, anak-anak, dan saudara mereka. Ayah saya melakukan yang terbaik untuk merawat mereka yang menjadi janda dan yatim. Kakek saya sendiri ada di antara yang hilang. Sampai sekarang, kami tidak tahu apa yang terjadi padanya atau bagaimana jika dia sudah wafat. Menurut Amnesty Internasional, ia tetap menjadi tahanan tertua di dunia, dipenjara dan disiksa setidaknya selama 21 tahun. Dia dan banyak lainnya mengalami hal itu hanya karena berbicara menentang pemerintahan penindas tanah air.
Tidak lama setelah kedatangan kami, perang pecah antara Irak dan Iran. Gambaran bagaimana setiap hari para pemuda menuju kuburan membuat kami kewalahan. Peristiwa tragis ini mengingatkan saya pada hari-hari perjuangan Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. (Nantinya di Amerika, biografi nabi membantu saya untuk memahami dan menghargai nilai-nilai yang dianut Konstitusi AS—kebebasan berbicara, berkumpul, beragama, dan terutama proses yang benar.) Banyak dari apa yang keluarga saya alami di Irak, dan semua yang keluarga nabi derita, telah membentuk semangat saya untuk terlibat dalam sebuah pemerintahan dari rakyat dan oleh rakyat. Ia juga membantu dalam membentuk keyakinan Islam yang menuntun kehidupan saya. Islam menyerukan toleransi, keragaman, dialog antaragama, demokrasi, martabat dan hak asasi manusia bagi semua orang.
Iran juga menjadi waktu yang manis dalam kehidupan saya yang membantu membawa keseimbangan pada kenyataan pahitnya perang dan penindasan. Kota kuno Qom, rumah bagi salah satu seminari Islam (hauzah) terbesar di kawasan, merupakan tempat pembelajaran aktif untuk studi. Saya memutuskan untuk mendaftar di seminari pada usia enam belas tahun dan mengabdikan hidup untuk menjadi seorang imam. Ayah membuat saya terkesan dengan cara dia mengangkat suara melawan penindasan dan mempertahankan Islam, dan saya ingin mengikuti jejaknya. Qom terletak sekitar 150 km selatan ibu kota Iran, Tehran. Kota ini seperti Karbala, kaya dengan tradisi dan pusat pembelajaran dan pengetahuan. Saya ingat tahun-tahun pendisiplinan diri di sana, tenggelam dalam dunia akademisi tanpa henti. Ribuan menghadiri seminari, dan tidak ada yang membayar; bahkan pelajar dibayar sedikit upah untuk hadir. Ayah saya memiliki cukup kewajiban, merawat keluarga besar, dan saya tinggal di asrama dengan ingin menjadi lebih hemat dan mandiri. Kesulitan terbesar saya adalah bertahan pada musim dingin di Qom, dengan suhu di bawah nol dan bahan bakar langka karena perang.
Dalam kehidupan seorang pelajar muda, tidak ada waktu untuk senang-senang, kecuali kesenangan spiritual. Saya bangun sebelum fajar untuk salat, kemudian berjalan cukup jauh ke pemandian umum. Kelas dimulai pukul enam pagi dan berjalan terus sampai siang. Setelah makan siang dan salat, kami kembali ke kelas sampai tujuh malam. Dari pukul tujuh sampai pukul dua atau tiga pagi para pelajar bersiap untuk pelajaran esok hari. Madrasah memiliki sistem seleksi terbuka, sehingga seseorang bisa memilih kelas, waktu, dan pengajarnya. Ukuran kelas berkisar dari dua orang untuk pelajaran khusus sampai ribuan orang. Semua kelas diadakan di masjid, di mana kami duduk di karpet untuk menerima pelajaran—tidak ada papan tulis atau kursi. Kami belajar dari yang paling terbaik. Kenikmatan datang ketika kami meninggalkan seminari dan berjalan menuju sebuah masjid yang disebut Jamkaran setiap Rabu malam. Saya dan teman-teman akan menyelesaikan salat di sana, kemudian menikmati sisa malam dalam diskusi spritual tambahan.

Masjid Jamkaran
Pada 1983, dalam usia delapan belas tahun, saya menikah. Pernikahan muslim tradisional sangat berbeda dari kebiasaan pernikahan di Barat. Tidak ada hubungan pra-nikah dan kencan. Saya menikahi muslimah taat yang nasabnya sama seperti saya tersambung sampai Nabi Muhammad. Keluarga kami adalah sahabat dekat. Mertua saya adalah ulama terkemuka. Dalam hidupnya yang panjang dan produktif, beliau menulis lebih dari dua belas ribu buku, surat sebaran, dan artikel. Pencapaian terbesarnya adalah sebuah ensiklopedia dalam 150 jilid. Selain menulis, beliau adalah salah seorang guru besar di seminari. Pemikirannya yang cemerlang dan akhlak sempurna sangat menyentuh. Ketika saya menjadi imam, dialah yang memakaikan serban hitam di kepala saya dalam upacara wisuda, melambangkan garis keturunan Nabi Muhammad. Ketika beliau wafat pada Desember 2001, masyarakat Qom dan seluruh dunia menghormatinya dengan prosesi pemakaman yang dihadiri ratusan ribu orang.
Pernikahan kami adalah pernikahan sederhana dengan dua ratus tamu diikuti dengan dua makan malam. Di Qom, inilah tradisi untuk merayakan secara terpisah (pria dan wanita). Setelah dua resepsi, ayah membawa saya ke rumah pengantin, di mana saya disambut olehnya dan keluarga. Setelah pernikahan kami pindah ke apartemen kecil sewaan yang biayanya kurang dari tiga belas dolar sebulan.
Kehidupan tumbuh lebih baik pada 1985 ketika anak pertama kami lahir. Saya berusia dua puluh tahun. Putra kami, Muhammad, diantarkan oleh bidan ke rumah pertama yang mampu kami beli bersama. Ini merupakan pengalaman luar biasa, tapi sulit menanggung penderitaan menyaksikan istri saya menderita karena bekerja. Putra kedua kami lahir satu setengah tahun kemudian; namanya Ahmed. Seiring waktu kami mampu membeli rumah ketiga, kami memiliki gas dan penghangat, yang membuat musim dingin lebih nyaman.
Pada 1986, saya menulis buku pertama. Saya berusia 22 tahun saat itu dan masih di seminari. Buku yang pertama kali diterbitkan ini adalah sebuah kritik terhadap dua karya besar yang disebut hadis Sahih Al-Bukhari dan Sahih Al-Muslim. Kedua koleksi besar ini berisi rekaman paling diandalkan dan ucapan nabi sepanjang hidupnya. Setahun kemudian, saya menulis buku kedua yang fokus pada prospek etika dan nilai moral Nabi Muhammad saw. menurut biografinya. Pada 1988, saya seorang pelajar tingkat lanjut di studi keislaman. Ini membuat saya dapat mengajar kelas yang lebih rendah. Saya juga menerbitkan jurnal bernama Al-Nabbras, Cahaya Abadi. Jurnal 250 halaman yang banyak dibahas di seminari, dan banyak ulama terkemuka memberikan esai dan artikel. Kami menerbitkan tiga kali, kemudian harus berhenti karena kekurangan dana.
Pada 1985, ayah saya mengunjungi Texas untuk pidato pada sebuah konferensi. Itu pertama kalinya beliau di Amerika. Sekelompok orang yang dia temui dari California mengundangnya untuk datang ke komunitas mereka untuk melihat apakah dia bisa membangun akar di sana. Mereka sangat membutuhkan seorang imam. Setelah kembali ke Iran dan berkonsultasi dengan ibu saya, keputusan dibuat. Pada 1986, beliau menetap di California Selatan dan mayoritas keluarga saya pindah bersamanya. Bagi mereka, itulah perpindahan ke sebuah tanah kebebasan tak tertandingi, kebebasan agama, berbicara, dan kebebasan dari penindasan yang telah lama mereka rasakan. Tentu saja, ayah terus mendorong saya untuk datang ke Amerika Serikat. Mimpinya adalah agar putranya bekerja bersamanya. Saya sampai pada titik balik kehidupan, dan keputusan harus dibuat.
Alhamdulillah , ya akhi jika ada penerbit yg sudah mencetak buku ini kedalam bahasa indonesia , saya sangat ingin memilikinya mohon informasinya dan dimanakah saya bisa mendapatkannya ?? … Thanks and keep post a great news like this ..
Afwan, buku yang mana? Kalau buku karya M. Jawad Chirri di atas setahu saya belum ada bahasa Indonesianya. Semoga kisah panjang ini (5 halaman) bermanfaat. Terima kasih.