Ketika Pemuda Iran Masuk Kristen…

Ketika saya berada di Tehran, saya tidak memiliki pekerjaan. Beberapa orang mengatakan kalau kamu pergi ke negara Eropa ini maka seperti di surga. Kalau kamu kerja atau tidak, mereka akan memberi makan dan rumah untuk hidup. Saya mulai memaksa orang tua bahwa saya ingin pergi ke Eropa dan belajar, menjadi filosof atau profesor. Orang tua saya yang berpikiran sederhana menjual beberapa barang, kemudian memberi saya uang dan saya pergi ke negara tetangga.

Di sana mereka mengambil beberapa uangku dan memasukkan aku ke perahu di sebuah container dengan bau busuk dan banyak kesulitan lainnya. Saya sampai ke negara lain dan akhirnya negara ini. Dengan berbagai kesulitan saya menuju ke sebuah departemen dan berkata kalau saya ingin tinggal di sini. Mereka berkata, “Apa engkau kira ini rumah penginapan? Cepat keluar dari sini!”

Saya berkata, “Apa? Saya kira engkau akan berterima kasih atas kedatangan saya!” Mereka berkata, “Tidak di sini!” Seseorang berkata bahwa dia akan menyelesaikan masalahku. Dia meminta uang dariku dan ada orang lain yang juga meminta uang dariku. Singkat cerita, saya berada di sini selama setahun penuh. Saya kehabisan uang dan teman-teman meninggalkanku. Saya tidak punya rumah dan uang lagi. Saya bahkan tidak bisa lagi kembali ke Iran atau harta untuk tetap di sini.

Suatu malam saya tidur di sebuah taman. Kalau cuaca buruk saya tidur di bawah jembatan agar tetap hangat. Hari itu, ketika tidak ada seorang pun, saya pergi ke tempat sampah dan mengambil sisa bekas orang-orang dan memakannya. Saya hampir mati kelaparan. Setahun penuh saya tanpa rumah.

Suatu hari saya sedang duduk di taman dalam kesengsaraan, ketika saya merasakan tangan di pundakku, dan berkata, “Mengapa kamu sedih?” Saya melihat seorang pemuda. Saya mengatakan tidak ada masalah, pergilah. Dia berkata, “Katakan, apa yang terjadi? Apakah kamu mau saya bantu mengurus izin tinggal di sini?”

Saya berkata, “Kamu bercanda.” Dia berkata, “Tidak. Saya sungguh-sungguh.”

“Benarkah? Terima kasih! Saya sudah menanti selama setahun.”

“Setelah saya mengurus izin tinggalmu, saya akan mengatur pekerjaan untukmu di sebuah pabrik besar. Kamu juga akan mendapatkan apartemen gratis. Kamu bayar biaya listrik dan telepon, selebihnya gratis.”

Saya berkata, “Siapa kamu? Apakah kamu malaikat?”

“Bukan.”

“Lalu berapa lama waktu yang dibutuhkan?”

“Saya akan melakukannya dalam waktu 24 jam.”

Saya berkata, “Allahu Akbar! Ini mukjizat.”

“Bukan.”

“Lalu apa yang harus saya kerjakan? Mari lakukan sekarang.”

Dia berkata, “Tidak. Jangan terburu-buru. Ada satu syarat.”

“Apa syaratnya?”

Dia berkata, “Syaratnya kamu harus menjadi kristiani. Kamu menjadi seorang Kristen dan saya selesaikan semuanya.”

Saya seperti merasakan listrik menjalar di tubuhku. Tubuhku gemetar.

Dia berkata, “Bagaimana menurutmu?”

Saya mulai memikirkan tahun-tahun kesengsaraan, lalu menerimanya. Selanjutnya dia membawaku ke gereja, menjadikanku kristiani, dan menyelesaikan semua yang dijanjikannya. Dia memberikanku rumah ini dan pekerjaan. Ini pendapatanku dan aku mendapatkan izin tinggal. Begitulah kisahku.

Saya berkata, “Wahai pemuda, waktu lima menitku hampir habis.” Sebenarnya sudah lebih dari lima menit dia bercerita panjang. “Saya sudah berkata bahwa saya tidak memberikan nasihat apapun. Ketika kamu bercerita tadi, saya teringat sebuah hadis. Apakah kamu mau saya ceritakan atau saya pergi?”

Pemuda itu berkata, “Ceritakan.”

Ada seorang pedagang yang ekonominya sudah hancur dan dia bangkrut. Dia mendatangi Imam Ridha a.s. dan berkata, “Wahai putra Rasulullah, saya bangkrut. Bantulah aku!” Imam melihatnya dan berkata, “Tidak. Keadaanmu masih sangat baik. Kamu tidak membutuhkan bantuan.”

Dia berkata, “Wahai putra Rasulullah, saya telah kehilangan hartaku. Saya tidak punya apapun. Pemberi pinjaman menunggu di depan pintu rumahku. Mereka ingin pinjamannya kembali.” Imam berkata, “Keadaanmu masih sangat baik. Kamu tidak membutuhkan bantuan.”

Dia berkata lagi, “Wahai putra Rasulullah, sepertinya penyampaian masalah saya kurang jelas. Sekarang saya butuh bantuan orang-orang yang biasa saya bantu untuk makan sehari-hari. Saya malu di hadapan istri dan anak-anak. Saya tidak bisa membelikan mereka roti.”

Imam Ridha a.s. berkata, “Haruskah kita melakukan transaksi? Kamu adalah pedagang, mari kita bertransaksi.”

Orang itu berkata, “Baiklah.”

Imam berkata, “Anda tahu saya adalah imam dan bisa melakukan apa yang saya kehendaki?”

Orang itu berkata, “Ya, saya tahu.”

Imam berkata, “Saya akan mengosongkan seluruh isi emas bumi untuk Anda. Saya akan dan bisa melakukannya lalu saya berikan kepada Anda. Ini satu sisi transaksi.”

Orang itu berkata, “Luar biasa! Saya akan menjadi pemimpin para pedagang. Apa sisi lain transaksinya?”

Imam Ridha a.s. berkata, “Untuk seluruh emas bumi itu saya inginkan satu hal dari Anda.”

“Apa itu?”

Imam Ridha a.s. berkata, “Saya akan mengambil kecintaan kepada ahlulbait dari Anda. Berikan kepada saya cinta kepada Ali dan Fatimah, maka saya berikan seluruh emas di bumi. Berikan cinta kepadaku dan Imam Husain dan saya akan berikan seluruh emas. Apakah Anda menerimanya?”

Orang itu berkata, “Wahai putra Rasulullah, tidak akan!”

Imam berkata, “Lalu, mengapa kamu mengatakan keadaanmu sulit? Kamu memiliki sesuatu yang bernilai yang tidak mau kamu tukar dengan dunia yang penuh dengan emas. Kamu masih mengatakan kondisimu sulit? Engkau adalah orang paling kaya.”

Apakah kecintaan kepada ahlulbait kecil? Saya mengatakan hal itu lalu berdiri. “Selamat tinggal, Tuan. Terima kasih telah menerima saya.”

Lalu kami pergi kembali ke masjid. Saya duduk di mimbar dan mulai berbicara. Pintu masjid ada di belakang. Semua orang menghadap ke saya. Di pertengahan ceramah, saya melihat pintu masjid terbuka dan seorang pemuda datang. Dia mengepalkan tangan dan memukul kepalanya. Dia memukul dirinya sendiri sambil menangis. Majelis malam itu menjadi ramai. Dia mendatangi bawah mimbar dan membenturkan kepalanya ke mimbar.

Orang-orang menariknya, tapi dia berteriak, “Biar! Lepaskan! Aku telah menjual Husain untuk dunia ini! Aku telah menjual Zahra untuk dunia ini!”

Kedudukan fana seseorang berarti tidak menukar apapun untuk menggantikan Allah dan ahlulbait.

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2011

Catatan: Ceramah yang disampaikan di Vienna, Austria, pada tahun 2008. Informasi lebih lanjut mengenai Ayatullah Sayid Mahdi Syamsuddin kunjungi ShamsAlDin.net

13 Komentar

  1. Semoga kecintaan keluarga kami kepada AHLULBAIT tidak akan pernah berkurang, sesungguhnya hanya perasaan cinta yang kami miliki.
    terimakasih telah mengingatkan.

  2. keren ceritanya….

  3. luar biasa!!!!………………..terima kasih untuk kisah indah ini

  4. abdul hay · · Balas

    waw..syiah sekali kisahnnye….

    1. iya dong bung abdul, mana pernah sy dgr cerita2 ttg ahlul bayt ketika sy msh seorang sunni

    2. ferick,@.. msh banyak cerita cerita keajaiban lain utamanya ttg penetapan sang imam yg tdk didukung dalil dalil nash dan juga bgmn mulanya pembatasan imam hanya dari turunan Husein……..silakan perbanyak baca buku-buku syiah, utamanya yg bhs arab atau parsi…(yg pasti cerita fiksi penuh keajaiban menakjubkan tsb tdk prnh antum temukan waktu anda msh suni dulu,).

  5. muhammad kamal · · Balas

    salam,
    cerita yg sangat menyentuh, boleh saya meng copas postinganx?

  6. LIKE THIS MUCH..

  7. Caria abdallah · · Balas

    Subhanallah….aq tertegun dgn kisah ne

  8. miftahush shaumi · · Balas

    Semoga Allah sll melindungi anak keturunan kita dg ruh islam nya & semakin menguatkan iman islam kita amin…

  9. Ali Zainal Abidin · · Balas

    ‘ajib Ja..

Apa Komentarmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s