Rakyat Iran Seperti Zombi

Ketika dulu mulai memasuki dunia kerja, saya merasakan apa yang Rezvaniyeh rasakan bahwa kita—para pekerja yang menyambungkan pagi kepada malam—telah menghabiskan waktu begitu cepat. Seorang ulama mengatakan bahwa cepat waktu berlalu dikarenakan hati dan pikiran yang terlalu diokupasi oleh persoalan dunia. Tapi kalau di kala itu saya merasa seperti robot, Rezvaniyeh—yang juga tinggal di kota besar seperti Tehran—merasa bahwa dirinya dan banyak orang di sekitarnya lebih menyerupai zombi.

Opininya itu tentu ditentang oleh orang Iran sendiri; baik mereka yang mengatakan bahwa tidak seluruh orang Iran menjadi “zombi” atau mereka yang justru membenarkan bahwa tidak hanya di Iran, tapi banyak warga dunia lainnya juga sudah menjadi zombi. Namun pertanyaan yang lebih penting dari itu adalah, apakah kita, rakyat Indonesia yang tinggal di kota-kota besar, juga sudah menjadi robot atau zombi?

Otokritik dan refleksi Rezvaniyeh dalam tulisan di bawah ini memang tajam—meski demikian, hanya orang-orang Iran sendirilah yang paling bisa merasakan. Selama mencicipi kehidupan di sana, satu sisi tulisan Rezvaniyeh tentang “berubahnya” orang-orang Iran menjadi binatang buas kala duduk di belakang kemudi kendaraan ada benarnya. Kecenderungan homo homini lupus yang sama juga semakin mewabah di kota besar seperti Jakarta, di mana pengguna jalan seperti memangsa pengguna jalan lainnya: berebut jalur, berebut kendaraan umum, sampai berebut tempat duduk. Artikel berikut di bawah ini adalah tulisan Farvartish Rezvaniyeh selengkapnya:[1]

Letakanlah sebuah lampu ajaib di hadapan warga dunia dan katakanlah kepada mereka bahwa jin yang ada di dalamnya akan mewujudkan satu permintaan mereka. Setiap orang dari setiap negara pasti mempunyai keinginan yang berbeda-beda. Ada yang ingin memiliki sebuah mobil Bugatti; ada yang suka kapal pesiar; ada yang ingin mempunyai pesawat terbang pribadi; orang yang lain meminta istana besar; dan orang berikutnya ingin jadi pemilik sebuah situs seperti Facebook; dan mungkin orang yang lain lagi ingin menjadi astronot pertama yang menginjakkan kaki di planet Mars.

Sekarang, letakanlah lampu ajaib yang sama di hadapan warga Iran. Orang yang pertama ingin uang yang banyak; orang yang lain ingin uang yang sangat banyak; orang lain lagi ingin uang yang melimpah; orang yang lain lagi meminta 3.000 miliar; orang yang lain mengatakan ingin menjadi orang paling kaya di antara familinya dan tidak pernah ada yang bisa mengejar kekayaannya.

Kebanyakan rakyat Iran tidak memiliki harapan. Mereka ingin setiap masalah dapat diselesaikan dengan uang dan ingin segala sesuatu yang diinvestasikan langsung mendapatkan hasilnya. Bahkan jika mereka menginginkan kesehatan bagi salah seorang anggota keluarganya, mereka siap bertransaksi dengan para pembesar dan (bahkan) Tuhan: “Kalau Anda bisa menyembuhkan, 500 toman akan saya berikan…” Mereka sering kali mendefinisikan nazar (janji), sebagai seserahan untuk Tuhan. Jika ada seseorang yang tidak melakukan nazar tapi kemudian permasalahannya selesai, setelahnya orang itu (akan berusaha menjadi orang baik dengan) tidak lagi berbohong atau melakukan gibah. Tapi kebanyakan orang Iran, untuk menunaikan nazarnya sendiri, mereka akan memotong kambing lalu dagingnya dibagi-bagikan kepada anggota keluarga yang lebih kaya kemudian di hari libur pertama dengan bahagia mereka akan sarapan kale pâche dan (roti) sangak yang masih segar.

Kalau mereka ingin agar orang lain menyukai mereka, mereka akan berpenampilan seperti orang kaya dan mengendarai mobil model terbaru sampai orang lain menyukai mereka. Karena mereka sadar, jika teman dan famili tahu bahwa kondisi (keuangan) mereka sedang tidak baik, mereka akan ditinggalkan; sehingga pada akhirnya, mereka berpura-pura tidak memiliki masalah keuangan. Ketika sedang duduk di acara pesta, mereka bertanya tentang harga mobil-mobil terbaru dan mengatakan berencana membelinya, tapi semua itu diucapkan ketika uang untuk membeli barang tersebut memang tidak ada. Mereka ingin apa yang orang lain miliki juga mereka miliki (chasm-o ham chasmi), misalkan, seorang pekerja pabrik sederhana yang berencana menjual rumah ayahnya sendiri untuk disewakan, agar istrinya bisa berkata kepada keluarganya yang lain kalau mereka akan mengendarai mobil Santa Fe.

Kebanyakan rakyat Iran berasal dari keluarga pengusaha. Mereka mempunyai simpanan emas, membeli Dollar atau Euro, atau jika ingin menambah keuntungan, mereka juga memiliki rekening bank. Sehingga setiap hari dalam tiga kali kesempatan: pagi, siang, dan sore, mereka mengikuti (perubahan) nilai mata uang dan koin emas dan dengan mendengar kabar itu mereka akan bersiul dan memukul-mukul (sesuatu), menandakan kekhawatiran terhadap modal mereka.

Rakyat Iran tidak memiliki ketenangan. Mereka tidak percaya bahwa untuk menjalani kehidupan, seseorang haruslah menyesuaikan diri dengan pendapatan. Sebagai simbol dari kekayaan, mereka akan memulainya dengan side by side refrigerator baru kemudian televisi layar datar.

Begitu banyak rakyat Iran yang pendapatan bulannya hanya dihabiskan untuk membayar cicilan rumah, mobil, atau barang-barang elektronik lain yang sebenarnya tidak (terlalu) mereka butuhkan. Mereka tidak punya (lahan) parkir tapi membeli mobil berharga mahal. Lalu ketika tengah malam mendengar suara sirine alarm, mereka langsung lompat dari tidurnya dan dengan segera mendekat ke jendela untuk memeriksa keadaan.

Rakyat Iran, negeri paling kaya di dunia, tapi mereka selalu mengeluh tidak memiliki uang. Mereka membeli mobil-mobil modern dengan harga dua kali lipat dari harga dunia. Telepon selular dan tablet paling baru mereka punya. Di Asaluyeh, telepon selular para pekerja lebih baru dan lebih mahal dari telepon selular milik para insinyur.

Perkelahian di jalanan

Rakyat Iran hidup seperti para zombi. Zombi adalah manusia yang tidak memiliki tujuan dan harapan; mereka hanya mengantarkan pagi kepada malam dan dengan cepat menghubungkan malam kepada pagi esok harinya. Zombi tidak memahami makna cinta dan sayang. Mereka itulah para zombi yang hanya duduk di belakang meja dan (bekerja) mengambil keputusan untuk orang lain.

Sesuatu yang orang Iran definisikan sebagai “kehidupan” bukanlah kehidupan. Mereka tidak saling menyukai satu sama lain. Kebanyakan dari mereka adalah zombi. Para pencari uang yang menilai segala sesuatu dengan harga dan hanya melihat kehidupan dari bawah kerongkongan sampai ujung dengkul.

Hanya para zombi yang melihat eksekusi di stadion atau taman. Para zombi yang ketika berada di belakang kemudi berubah menjadi buas dan berkendara dengan karakter hewani. Hanya para zombi yang mendirikan sebuah perusahaan

Para zombi adalah mereka yang memproduksi Pride, lalu membelinya, mengendarainya, dan mereka sendiri yang saling menabrakkan. Para zombi tidak melihat anak-anak dan tidak ingin memberikan perhatian kepada pikiran, perasaan, dan talenta mereka serta bagaimana cara mengembangkannya.

Setelah 14 tahun bekerja dalam bidang jurnalisme, saya lelah telah membunuh zombi-zombi yang sudah dewasa. Saya ingin berusaha agar anak-anak hari ini tidak menjadi zombi-zombi masa depan. Karenanya, sejak tanggal 23 Bahman saya mengganti pekerjaan agar dengan segenap kemampuan dan kekuatan yang dimiliki, saya bisa memberikan waktu untuk anak-anak. Seluruh pengalaman yang telah saya peroleh bertahun-tahun belakangan ini akan saya pusatkan pada jalan agar anak-anak tidak menjadi zombi.

Saya tahu bahwa para zombi akan bangkit melawan saya, tapi saya sudah menyiapkan shotgun untuk melawannya.

Sumber:

[1] ^ “مردم ایران زامبی شده‌اند”. Farvartish Rezvaniyeh. 10 Februari 2013.

About these ads

4 thoughts on “Rakyat Iran Seperti Zombi”

  1. Sebenarnya itu penyakit lama yg di idap bagi pekerja hampir di semua kota besar di dunia spt itu…sy sendiri pernah menjadi zombi spt itu…menurut saya Iran msh jauh lbh baik (Tehran) dr Jakarta..krn rakyat Iran (ya mgkn org kita jg ) termasuk masyarakat yg religius, lagi pula di Tehran masih banyak ‘Imam Zadeh’ yg mereka bila sdh stress bisa kunjungi dan dkt dgn kota suci Qom. Zombi itu kan penyakit jiwa yg di idap oleh para pecinta dunia dan itu akibat pengaruh eksternal krn masifnya masuknya pengaruh konsumeris barat yg susah dibendung bahkan bagi Rep Islam Iran yg sdh menerapkan syariah Islam sbg fondasi negerinya. Setan akan selalu hadir di seraip diri manusia tdk terkecuali dmna mangsanya tinggal…he he he..Yg ajib, sy pernah naik kereta dr Tehran ke Mashad , segerbong dgn satu keluarga ( anak gadis, ibu dan neneknya) , mereka bwrasal dr Mashad tp blm pernah ke haram Imam Reza a.s..krn mrka lama tinggal di Jerman dan merasa yg pergi ke haram kebanyakn org ‘kampung’…yah bgtulah ,anusia tdk pernah puas dan berterima kasih atas apa yg ada dan dia punya, selalu merasa kurang dan melihat dgn kaca mata ‘rumput tetangga selalu lbh hijau’

Bagaimana komentarmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s