Bank Ribawi Itupun Beroperasi di Universitas Islam

Pembahasan mengenai apakah bunga bank sama dengan riba atau tidak kita lewatkan dulu. Karena itu bukan inti tulisan ini. Tapi hari ini (30/11) bank ribawi dengan aset terbesar (Bank Mandiri) telah resmi beroperasi di sebuah universitas Islam, dengan malu saya sebut UIN Jakarta. Entah malu atau aib, saya berada di universitas itu, di Fakultas Syariah, lebih khusus lagi di jurusan Perbankan Syariah.

Pendidikan dan hasil sumber daya manusia yang dihasilkan pergururan tinggi memang belum bisa diserap sepenuhnya oleh pertumbuhan industri keuangan syariah yang terus meningkat. Hal tersebut tidak memacu universitas untuk memperbaiki kualitas, tapi justru kebijakan yang dilakukan adalah memperburuk image yang sedang dibangun. Entah apa yang ada di otak para pembuat kebijakan kampus ini…

Baca entri selengkapnya »

Zakat Profesi: Dua Puluh Persen?

Menurut Emha Ainun Nadjib, Dr. Amien Rais pernah dituduh “kafir” karena menetapkan zakat profesi (Gala, 19 April 1990). Sebenarnya dia “dikafirkan” bukan karena zakat profesinya, tetapi karena dia menetapkan dua puluh persen. Buktinya, di seantero tanah air, para ilmuwan fikih Majelis Ulama Indonesia membahas zakat profesi. Kita merasakan ada yang tidak adil dalam konsep zakat yang kita miliki. Petani, yang memperoleh penghasilan 1.000 kg beras setahun, wajib mengeluarkan zakat 10 persen dari hasil itu. Jika kita konversikan dengan uang, petani harus mengeluarkan Rp 60.000,- dari penghasilan tahunannya yang Rp 600.000,- Bagilah itu menjadi 12 bulan. la akan memperoleh rata-rata Rp 50.000,- sebulan (konversikan saja dengan harga beras sekarang, harga tersebut adalah harga ketika artikel ini ditulis). Kata ilmuwan fikih, petani itu wajib mengeluarkan zakatnya rata-rata Rp 5.000,- setiap bulan.

Baca entri selengkapnya »

Bank Syariah: Saatnya Pelayanan!

Beberapa bulan yang lalu, waktu saya membantu input riset data masyarakat tentang pendirian sebuah bank syariah, beberapa masyarakat non-Muslim masih ada yang menolak. “Itu banknya orang Islam” atau “Saya bukan Muslim” merupakan kalimat yang biasa diungkapkan. Hal seperti itu sebenarnya tidak terlalu mengherankan, karena umat Muslim pun masih ada yang beranggapan bahwa bank syariah itu “bunganya” rendah bahkan sama saja dengan bank konvensional.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi terbangunnya pemikiran pada kedua masyarakat tersebut yang tentunya bersumber dari kurangnya informasi. Kalau dimulai dari awal, kekerasan di beberapa negara yang mengatasnamakan Islam bisa menjadi sebab. Kata “islam” kemudian identik dengan radikalisme, sehingga iB (Islamic Banking) pun diterjemahkan menjadi perbankan syariah (bukan perbankan Islam) :) Sedangkan dari dalam, umat Muslim pun masih ada yang alergi dengan kata “syariah”.

Baca entri selengkapnya »