Category Archives: Ekonomi

Zakat Profesi: Dua Puluh Persen?

Menurut Emha Ainun Nadjib, Dr. Amien Rais pernah dituduh “kafir” karena menetapkan zakat profesi (Gala, 19 April 1990). Sebenarnya dia “dikafirkan” bukan karena zakat profesinya, tetapi karena dia menetapkan dua puluh persen. Buktinya, di seantero tanah air, para ilmuwan fikih Majelis Ulama Indonesia membahas zakat profesi. Kita merasakan ada yang tidak adil dalam konsep zakat yang kita miliki. Petani, yang memperoleh penghasilan 1.000 kg beras setahun, wajib mengeluarkan zakat 10 persen dari hasil itu. Jika kita konversikan dengan uang, petani harus mengeluarkan Rp 60.000,- dari penghasilan tahunannya yang Rp 600.000,- Bagilah itu menjadi 12 bulan. la akan memperoleh rata-rata Rp 50.000,- sebulan (konversikan saja dengan harga beras sekarang, harga tersebut adalah harga ketika artikel ini ditulis). Kata ilmuwan fikih, petani itu wajib mengeluarkan zakatnya rata-rata Rp 5.000,- setiap bulan.

Continue reading

Menuju Ekonomi Berkeadilan: Perspektif Imam Ali as

Oleh: Afifah Ahmad

Dunia tidak ada yang tak mengenalnya. Sejarah mencatat perjalanannya yang gemilang. Nama Ali diabadikan pada nama-nama Imam lain seperti Ali Zainal Abidin as, Ali Ar-Ridha as dan Ali Al-Hadi as. Nama Ali juga menjadi favorit di kalangan Bani Hasyim dan suku Arab. Kini, namanya menjadi nama dari jutaan penduduk muslim di dunia. Di Iran sendiri, nama Ali hampir dapat ditemukan pada setiap keluarga yang memiliki anak laki-laki. Siapakah gerangan pemilik nama pertama yang menjadi sumber penisbatan bagi jutaan nama-nama Ali lainnya? Continue reading

Ekonomi Barat dalam Dunia Islam

Dunia Islam kebanyakan telah memakai dua bentuk sistem ekonomi modern Barat berikut ini: Pertama, Sistem Usaha Bebas yang didasarkan pada kapitalisme. Kedua, Ekonomi Terpimpin yang didasarkan pada sosialisme. Inilah dua bentuk dasar sistem ekonomi modern Barat. Pertanyaan penting yang sedang dibicarakan di dunia Islam ialah yang manakah dari dua bentuk ini yang lebih sesuai dan lebih bermanfaat bagi kaum muslimin secara menyeluruh dalam mengatasi keterbelakangan mereka.

Pada mulanya, untuk pembangunan ekonomi dalam negeri, dunia Islam lebih cenderung ke arah bentuk yang pertama, yaitu Sistem Usaha Bebas yang didasarkan pada kapitalisme. Alasannya jelas, negara-negara kapitalis adalah yang pertama sekali menyusup ke dunia Islam dan membangun basis-basis mereka di sana.

Continue reading

Masa Depan Ekonomi Indonesia Pasca Krisis Global

Kajian perdana Lingkar Studi Ekonomi Syariah (LiSEnSi) pada semester genap ini menghadirkan Ali Sakti, S.E., M.Ec. (Junior Researcher Bank Indonesia) sebagai pembicara. Tema yang diusung oleh Departemen Keilmuan dan Riset adalah mengenai “Masa Depan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Global”. Acara yang dilaksanakan di Masjid Al-Jami’ah pada hari Sabtu (14/03) ini dihadiri sekitar 25 orang.

Sejalan dengan tema yang diangkat, Ali Sakti memberikan perkembangan terbaru bdiang ekonomi-politik. Ketika mendapat tugas untuk membuat presentasi mengenai rancangan ekonomi syariah untuk membantu meningkatkan perekonomian syariah di hadapan Dewan Penasihat Presiden, rancangan tersebut, Insya Allah, akan dilanjutkan kepada Presiden SBY.

Continue reading

Ikan Seharusnya Hidup di Air

Masih banyak masyarakat muslim yang memahami ketika berbicara ekonomi syariah, yang ada dalam pemikiran mereka adalah bahwa ekonomi Islam merupakan suatu perekonomian non-riba plus zakat yang ditandai dengan banyaknya bank-bank syariah, BMT (Baitul Mal wat Tamwil), bank perkreditan rakyat (BPR) syariah, asuransi syariah, dan pegadaian syariah. Atau mungkin ditambahkan bahwa ekonomi syariah, adalah ketika melakukan transaksi, aspek moral dan kejujuran menjadi cirinya. Itulah fakta yang terjadi di masyarakat.

Sedihnya lagi, sangat jarang atau boleh dikatakan tidak pernah diadakan kajian-kajian ekonomi syariah di masjid-masjid, karena masih banyak yang beranggapan bahwa ekonomi itu urusan “dunia”, sehingga “tidak layak” diadakan di rumah Allah. Kalaupun ada, yang dibahas hanya seputar perbankan syariah dan produk-produknya. Masih banyak fenomena-fenomena lain yang terjadi masyarakat tentang pandangan mereka terhadap keberadaan ekonomi syariah.

Continue reading