Kalam yang Naik, Kalam yang Turun

Syekh Ahmad At-Tijani dikenal sebagai seorang ulama mazhab Maliki yang kemudian memeluk mazhab ahlulbait. Kepindahannya dilalui dengan penelitian, pengalaman, dan perjalanan yang panjang. Karena itulah tidak heran dalam bukunya dia beberapa kali melakukan otokritik terhadap perilaku sebagian pengikut Syiah yang menurutnya kurang tepat. Salah satu di antaranya adalah dalam hal membaca doa dan Alquran. Dia mengkritik sebagian orang yang lebih mengutamakan kalam yang naik (doa) dan terkesan mengabaikan kalam yang turun (ayat).
Continue reading

Antara Istri Nabi dan Istri Firaun

Di beberapa tempat dalam Alquran, Allah Swt. sering kali menggunakan perumpamaan dalam menjelaskan maksud dari firman-Nya. Tamtsîl atau perumpamaan adalah memberikan kedudukan sesuatu bagi sesuatu yang lain, melalui jalan penyerupaan, pengkiasan, majâz, atau lainnya. Salah satu tujuannya adalah agar manusia berpikir dan dapat menjadikannya sebagai pelajaran (Q.S. al-Hasyr: 21).

Perumpamaan Alquran mecakup penjelasan tentang perbedaan ganjaran dan balasan, pujian dan celaan, pahala dan siksaan, meninggikan dan merendahkan perkara, dan membenarkan dan membatilkan perkara. Di antara ayat perumpamaan tersebut dapat kita temukan dalam surah at-Tahrim yang memberikan contoh tentang perempuan dari dua sisi. Berikut ini sedikit penjelasan yang saya rangkum dari buku al-Amtsâl fil Qurân karya Syekh Jafar Subhani yang diterjemahkan oleh Muhammad Ilyas.
Continue reading

Kritik dan Rekonstruksi Hadis Suni-Syiah

Oleh: Ayatullah Dr. Husaini Qazwini

Hadis yang kami temui dalam Shahîh al-Bukhârî ada manfaatnya bagi kami. Kami akan berdalil dengannya; bukan berarti kami menerima seluruh riwayat dalam Shahîh al-Bukhârî. Kami berhujah dengan riwayat yang membenarkan kata-kata kami dan menolak hujah mereka. Ini adalah kaidah wajib bagi orang berakal. Merujuk pada apa yang berkaitan dengan peristiwa ini, yaitu nabi yang mulia saw… berdiri dan kencing. Hadis ini dibawakan Bukhari dalam sahihnya (jil. 1, hlm. 62, hadis no. 224 dan beberapa tempat lain):

أَتَى النَّبِىُّ سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا

Beliau mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum dan kencing berdiri. Kami mengatakan riwayat ini, perbuatan ini, bertentangan dengan kemaksuman akhlak dan adab seorang nabi. Karena nabi yang mulia dibanggakan dengan: “Sesungguhnya engkau di atas akhlak yang mulia.” Beliau mempunyai seluruh keindahan akhlak mulia. Manusia kencing berdiri dianggap orang yang tercela dan dianggap suatu aib.
Continue reading

Kenapa hakekat.com Menghina Sahabat Nabi?

Lama tidak berkunjung ke situs hakekat.com, saya mendapat kejutan dari salah satu artikelnya yang berjudul “Imam Maksum Shalat Sambil Mabok?” Dari judulnya, saya bisa pahami bahwa tujuannya adalah menjatuhkan derajat imam ahlulbait yang menurut mazhab Syiah adalah maksum. Menurut Syiah, para nabi sebagai pengemban risalah Allah Swt. dan para imam ahlulbait sebagai penjaganya haruslah terhindar dari kesalahan.

Hal ini berbeda dengan pendapat ahlusunah yang menganggap nabi dan imam ahlulbait tidak terlepas dari melakukan kesalahan. Pendapat ini terkesan menjadi paradoks ketika seringkali situs hakekat.com membela mati-matian sahabat nabi yang seluruhnya adil dan nyaris tanpa cacat. Dikatakan bahwa mereka yang mencela sahabat bisa menjadi kafir. Tapi justru, situs hakekat.com terang-terangan mencela sahabat nabi.
Continue reading

Munafik di Sekitar Kita

Geregetan Tidak tahan juga untuk tidak memuat tulisan ini dan mem-publish-nya. Sekedar informasi, sumber utama tulisan yang saya buat ini adalah tafsir karya Syekh Mohsen Qaraati. Ketika saya membaca karya beliau ini, bayangan saya langsung teringat kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Sangat persis. Orang-orang ini tidak memiliki keimanan orang-orang mukmin, tapi juga tidak memiliki keberanian orang-orang kafir. Jadi mereka begitu halus; tidak heran beberapa orang mengatakan bahwa orang semacam ini lebih berbahaya dari orang kafir.
Continue reading