1

Hawa Indonesia di Utara Iran

Saya tidak ingin melewatkan kesempatan jika teman-teman mahasiswa Iran mengadakan tur ke tempat bersejarah. Alasan klise pertama, karena kesempatan itu belum tentu datang dua kali. Tidak lama berada di negeri para mullah, saya juga ingin menginjakkan kaki di sedikit sudut negeri Persia; tidak hanya kelas dan asrama. Alasan penting kedua tentu karena biayanya jauh lebih murah jika harus berangkat sendiri. Jika ingin dicari kekurangannya, maka ia adalah tidak ditemukannya tantangan dan kesulitan dalam perjalanan.

Hari ini (29/3) bersama empat puluh mahasiswa lain dari sedikitnya lima negara, kami berangkat menuju ke sedikit lebih utara bagian Iran. Pukul 7.30, bus yang mengantarkan kami bergerak dari kota Qazvin. Qazvin sendiri sebenarnya sebuah kota yang sudah berada di bagian utara Iran. Namun karena letaknya yang tertutup oleh barisan pergunungan Alborz, membuat angin laut dari utara Iran tidak sampai untuk membuat udara Qazvin lebih lembab. Sehingga selama perjalanan di jalan bebas hambatan Qazvin-Rasht, yang terlihat hanyalah perbukitan kering berpasir.
Continue reading

1

Hari Perawat di Iran

Pada tanggal 5 Jumadilawal tahun keenam hijriah di kota Madinah, lahirlah seorang cucu nabi saw. yang dalam perjalanan hidupnya mengubah jalan sejarah manusia. Putri Fatimah ini mendapat didikan langsung dari Nabi Muhammad saw. dan Ali bin Abi Thalib, yang di antaranya adalah merawat, mengobati, dan menangani mereka yang sakit.

Dalam Islam, ada beberapa teladan dalam keperawatan, seperti Nabi Yusuf, Mariam binti Imran, Rufaidah, Nasibah, dan tidak terkecuali Nabi Muhammad saw. Ali bin Abi Thalib menceritakan bahwa ketika beliau terserang demam, nabi membagi waktu malamnya untuk salat dan merawat Imam Ali (Al-Bihar, j. 43, h. 173). Nabi saat hari-hari terakhir hidupnya mengatakan seseorang yang merawat mereka yang sakit siang dan malam, Allah akan bangkitkan bersama Nabi Ibrahim dan melintas sirat bagaikan kilat. Demikian juga Imam Ali merawat ketika Fatimah sakit, meskipun beliau meminta agar suaminya tidak memberitahukan penyakitnya kepada orang lain. (Al-Bihar, h. 211)
Continue reading

1

Seperti Inikah Kehidupan?

Semakin kita beranjak dewasa, melewati masa lalu dan pengalaman berharga yang kita dapatkan, semua itu membuat kita sadar; bahwa “Inilah kehidupan!” Apa yang coba ingin saya sampaikan adalah ada begitu banyak kesempatan, termasuk di masa kecil, yang telah kita tunda. Kita membuat banyak alasan; ketika saya besar… ketika masalah ini selesai… ketika saya lulus sekolah… ketika orang tua membeli rumah… ketika pindah ke lingkungan baru… ketika saya bisa mendapatkan uang sendiri… ketika saya punya waktu sendiri…

Tapi sebenarnya tidak ada kata akhir untuk semua alasan yang terus-menerus kita katakan sepanjang waktu, karena jelas tidak ada pentingnya untuk menghubungkan alasan dan keluhan yang bisa kita buat. Sebagian besar dari kita telah melalui tahapan yang sama dalam kehidupan dan telah menjustifikasi hari-hari buruk dengan mengatakan bahwa kita akan benar-benar hidup sepenuhnya ketika waktunya tiba…
Continue reading

2

Malam Terpanjang di Iran

Belahan bumi bagian utara pada malam ini akan mengalami masa terpanjang sekaligus malam pertama masuknya musim salju. Di Iran, winter solstice bertepatan dengan hari terakhir bulan Azar dan awal masuknya bulan Dey yang disebut dengan Shab-e Yaldâ. Bergantung pada pada pergeseran kalendar hijriah syamsiah yang digunakan di Iran dengan kalendar masehi, malam Yalda biasanya akan bertepatan dengan tanggal 20 atau 21 Desember. Untuk tahun ini, matahari akan terbenam pada sekitar pukul 17.00 untuk kemudian terbit lagi sekitar pukul 07.00 pagi.

Yalda disebut memiliki akar dalam keyakinan agama Mithra. Para pengikut agama Mithra percaya bahwa Mithra, malaikat cahaya dan kebenaran Persia kuno, lahir dari seorang perawan pada malam terpanjang dalam setahun. Dengan kata lain, Mithra lahir pada malam Yalda. Yalda sendiri yang berasal dari bahasa Suryani memiliki arti “kelahiran” dan memiliki akar makna yang sama dengan kata tavalud dan milâd.
Continue reading

0

Dubes Swedia dan Ahmadinejad

Presiden Republik Islam Iran beberapa hari yang lalu (3/12) menerima duta besar baru Swedia untuk Iran, Peter Tiller. Duta besar Swedia ini membawa surat kepercayaannya tapi ironisnya menunjukkan sikap yang jauh dari etika diplomatik dan tidak beradab (bî âdab). Media Iran menilai perbuatannya tersebut kurang tepat dan keluar dari etika pertemuan antar negara, dan berpotensi memunculkan protes. [1]

Ali Muhammad, pengamat etika internasional, mengatakan kepada kantor berita Fars tentang etika pertemuan diplomatik internasional, “Meletakkan kaki di atas kaki yang dilakukan duta besar baru di hadapan presiden, di mana kedudukannya lebih tinggi, merupakan perbuatan yang tidak tepat. Duduk dengan gaya seperti ini di Eropa mungkin sudah biasa dan menjadi budaya, tapi tidak di hadapan orang yang kedudukannya lebih tinggi.” Terlebih, Peter Tiller meletakkan kaki kanan di atas kaki kiri di mana alas sepatu menghadap ke arah presiden.
Continue reading