
Ayatullah Ali Khamenei menjadi imam shalat yang juga dimakmumi oleh jamaah Ahlus Sunnah

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian, maka beribadahlah.” (QS. Al-Anbiyâ` : 92)

Shalat Jumat bersama Syiah dan Sunni di Makkah

Almarhum Syaikh Ahmad Yassin ra (Penasihat Hamas) dan Sayyid Hassan Nasrallah ha (Sekjen Hizbullah)

Ismail Haniyah (Pemimpin Hamas) dan Ayatullah Khamenei (Pemimpin Spiritual Rep. Islam Iran)

Ramadhan Abdullah (Gerakan Jihad Islam Palestina) saat shalat bersama dengan Mahmoud Ahmadinejad (Presiden Rep. Islam Iran)

Ismail Haniyah (Pemimpin Hamas) setelah berziarah dari makam Imam Khomeini ra.

Syiah menjadi makmum dalam shalat yang diimami ulama Ahlus Sunnah








15 Februari 2009 pukul 16:24
Alhamdulillah..sunggu indah persatuan ini..bila tidak dijangkau tangan2 amerika dan israil…
4 Maret 2009 pukul 12:23
Muslimin Indonesia, perhatikan dan renungkan tayangan foto – foto tersebut, alangkah INDAHNYA PERSATUAN UMAT ISLAM.
Dukunglah setiap usaha – usaha yang berusaha menguatkan Ukhuwah Islamiyah dalam Keberagaman dengan mengabarkan (dengan benar) kepada orang – orang yang anda cintai, terutama anak cucu kita, kewajiban / utamanya persatuan, semoga Alloh SWT dan Al Musthofa SAW merahmati & melindungi muslimin Indonesia.
Salam persatuan.
31 Maret 2009 pukul 11:20
Alhamdulillah, semoga di indonesia pun para pemimpin islam bersatu. Bangun negeri & ciptakan kerukunan. Amin…
13 April 2009 pukul 20:58
Alhamdulillah …………. semoga persatuan ini semakin kuat dalam menantang tantangan zaman, dan surut untuk mundur ke belakang.amin,,
20 Mei 2009 pukul 23:15
Allah huakbar
telah lama kita di pecah belah oleh orang lain sekrang saatnya bersatu..Amieen
30 Mei 2009 pukul 07:42
adeeem rasanya hati ini ngeliat gambar2 itu,ALHAMDULILLAH…semoga persatuan ini dpt lebih dieratkan
8 Agustus 2009 pukul 01:54
inilah yang di takuti iblis – iblis amirika dan israel jika islam bersatu
30 September 2009 pukul 14:19
Aman rasa-nya afganistas khususnya dunia umumnya tampa ada ikut campur Iblis Israel dan amerika
14 Oktober 2009 pukul 14:07
insya allah mari kita bersatu jangan kita berpecah belah hanya karna perbedaaan mazab, mari satu fikir, satu gerak , satu maksud, jadi dakwah sebagai maksud hidup. hidup dalam dakwah, dakwah sampai mati, mati dalam dakwah, laaillahaillah muhamaddurrusulullah, insya allah, siap berrangkat kapan saja dan kemana saja.
17 Oktober 2009 pukul 10:27
smoga Allah memisahkan antara yang Haq dan yang bathil
18 Oktober 2009 pukul 20:24
wow…
no coment dulu akh…
30 November 2009 pukul 07:28
==>Wahh… apaan tuhh. ha ha ha
30 November 2009 pukul 21:51
Kenapa? Bingung ‘kan?
30 November 2009 pukul 23:54
Subhanallah, .. Sungguh pemandangan yang indah sekali…
Tetapi sejauh sepengetahuan saya, kita menunjuk “Imam” itu adanya untuk di ikuti.
Ali bin Abi Thalib dan Mu’adz bin Jabal :
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan shalat dan imam sedang dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia berbuat seperti imam berbuat.” [HR at Tirmidzi, dan dishahihkan al Albani dalam Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 484]
Entah atas dasar apa yang menyebabkan beliau beliau orang besar dan pintar, tidak mengikuti imam sholat mereka, mestinya ada alasan yang lebih kuat.
Wallahu a’lam bishawab…
1 Desember 2009 pukul 11:46
Dalam sebuah riwayat Tirmidzi dan Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan sholat menjelang datang ajalnya sambil duduk. Dalam kesempatan lain Beliau melakukan sholat sambil duduk, yaitu ketika dalam keadaan sakit. Sedangkan orang-orang dibelakangnya mengikutinya sambil berdiri. Lalu Rasulullah SAW memberikan isyarat agar mereka duduk, maka merekapun duduk. Setelah selesei sholat Beliau bersabda ”Kalian tadi hampir saja melakukan apa yang telah dilakukan oleh bangsa Romawi dan Persia, dimana mereka berdiri di depan rajanya sedangkan
rajanya duduk. Maka janganlah kalian melakukannya. Sesungguhnya keberadaan imam adalah agar diikuti. Bila ia ruku, maka rukulah; bila berdiri maka berdirilah; dan jika sholat sambil duduk maka duduklah bersama-sama”. (HR Muslim).
@ Sahabat ejajufri YTH.
Sungguh hal ini menjadi pertanyaan saya juga, dalam keseharian kita melaksanakan sholat berjamaah di mesjid sekitar kita. Haruskah kita mengikuti “Imam sholat” kita.? Ataukah menuruti “keyakinan” kita .? Bagaimana pendapat anda sebagai penulis..? Atau barangkali ada sahabat seiman lain yang berkenan memberikan pencerahan..? saya akan sangat berterima kasih.
Wassalam.
1 Desember 2009 pukul 12:11
Terima kasih Mas atas tambahan ilmunya. Mungkin karena itu Imam Syafii tidak sedekap saat shalat di belakang Imam Malik.
Tapi sebagai orang awam saya hanya bisa menjadi seorang muqallid. Dalam fikih saya akan ikuti perkataan ulama yang saya ikuti. Saya temui pengikut Ahlulbait di kampus yang lebih berilmu dari saya melakukan shalat dengan cara Suni, karena yang saya pernah dengar memang Imam Khomeini memerintahkan jika shalat di belakang Suni gunakan cara Suni. Ini yang dimaksud dengan taqiyyah, kita melakukan sesuatu yang sebenarnya kita tidak yakini.
Tapi saya sedikit berbeda, saya bersedekap ketika menjadi imam dengan makmum Suni. Saya tidak sedekap saat menjadi makmum dengan imam Suni, meskipun pernah. Karena ada batasan yang mengharuskan taqiyyah. Dengan batasan rusaknya persatuan Islam, kemudian pengikut Ahlulbait mendapat keringanan dengan boleh sujud di atas sajadah. Tapi kasus sedekap, marjak yang saya ikuti mengatakan “bersedekap dalam salat bersama mereka tidak diperbolehkan kecuali dalam keadaan mendesak”. Ukuran “mendesak” bergantung kepada pribadi masing-masing.
Saya lebih berpendapat, gunakan keyakinan masing-masing. Walaupun tidak semua orang punya pendapat sama, saya lebih memilih melihat Suni dan Syiah salat dengan cara masing-masing untuk menunjukkan persatuan Islam (http://ejajufri.wordpress.com/2009/06/11/mengapa-saya-tidak-sedekap/) Wallahualam.
Maaf berbelit-belit. Terima kasih.
2 Desember 2009 pukul 13:13
Assalamualaikum
Saya mau menyumbang sedikit apa yang saya fahami ttg hadis di atas. Hadis itu -kalau shahih- maksudnya bukan seperti yang dipahami oleh penanya, tapi hadis itu menjelaskan, bahwa kalau kita masuk ke mesjid dan mendapatkan imam dalam kondisi tertentu, misalnya rukuk, maka kita takbir dan langsung rukuk juga, jadi tidak perlu kita baca al fatihah dan surah, tapi langsung rukuk.
Untuk contoh yang saya bawakan, Sunnah dan Syiah sama.
Mudah-mudahan bermanfaat.
Wassalamualaikum
15 Desember 2009 pukul 08:15
Suykron
Anti baru tau ada situs seperti ini..
26 Desember 2009 pukul 18:18
taqqiyah
26 Desember 2009 pukul 18:20
agama syi’ah bukan bagian dr islam..
baca ini :
http://www.hakekat.com