إذَ اَكْفَرَ الرَّجُلُ اَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا اَحَدَهُمَا
Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya, maka kembalilah kekufuran itu kepada salah seorang daripada keduanya.
(HR. Muslim)
اَيمَا امرِئ قَالَ لأخِيْهِ: يَا كَافِر فَقَدْ بَاءَ بِهَا اَحَدُ هُمَا اِنْ كَانَ كَمَا قَالَ, وَاِلاّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ
Siapa berkata kepada saudaranya “Hai kafir!”, maka kembalilah kekufuran itu kepada salah seorang daripada keduanya. Kalau memang saudaranya itu sebagalmana ia kata (benarlah ia), tetapi kalau tidak, niscaya kembalilah kekufuran itu kepadanya (sendiri).
(HR. Muslim)
مَنْ دَعَا رَجُلاً بِالكُفْرِ اَوْ قَالَ: عَدُوّا الله, وَليْسَ كَذَلِكَ اِلاّ حَارَ عَلَيْهِ
Barang siapa mengkafirkan seorang atau ia panggil dia “Hai musuh Allah!” padahal tidak ia begitu, melainkan kembalilah (panggilannya) itu kepadanya sendiri.
(HR. Muslim)








26 September 2009 pukul 21:33
jazaka-lLahu khairan tuk pemasukkannya.
baraka-lLahu fiek!
9 Oktober 2009 pukul 02:28
kalau orang yang murtad apakah darahnya halal?
9 Oktober 2009 pukul 21:55
sepanajng pengetahuan saya tergantung:
kalau dia secara pribadi, sendiri, tak mempublikkannya maka aman
tapi
kalau dia mempublikasikan dirinya, maka negara harus menghukumnya dengan hukuman mati.
ingat negara, permerintah! yang berwewenang, bukan salah seorang muslim!