Bersamanya, saya masuk ke sebuah kafe di daerah Kota Tua untuk pertama kali. Kami duduk dan siap memesan makanan dalam daftar menu. Sampai akhirnya dia melihat deretan botol bir, wiski, dan sejenisnya dipajang di bagian bar. “Sebenarnya, boleh nggak sih kita makan di sini?” “Setahu saya sih tidak boleh.” Akhirnya kami memutuskan untuk ke luar setelah memesan es krim dalam gelas. Pengalaman serupa juga dialami ketika saya ingin makan bersama teman di sebuah mal. Setelah siap memesan dalam daftar menu kami jadi tahu bahwa tempat itu juga menyediakan bir. Kami memutuskan untuk keluar dan mencari tempat makan lain, yang sayangnya di tempat lain juga menyajikan minuman serupa. Lelah mencari, kami berhenti di sebuah restoran Malaysia.
Di republik alkohol—selain warteg dan sego kucing—mungkin sulit rasanya mencari tempat makan yang benar-benar tidak menyediakan bir atau minuman beralkohol lainnya. Seolah-olah, kita dipaksa diberi pilihan untuk mengikuti cara mereka hidup. Sepertinya, surah Albaqarah ayat 120 yang fenomenal itu tidak sedang berbicara mengenai agama, tapi gaya hidup. Kita bisa saja tetap Islam secara formal, tapi gaya hidup kita adalah gaya hidup mereka. Jika demikian, menjadi tidak heran jika pernah beredar foto wanita berjilbab sambil merokok dan minum bir.
Continue reading