1

Wanita Kristiani dan Hizbullah

Pidato pemimpin Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah, berakhir. Orang-orang mulai mengemas barang-barang dan membawa anak-anak mereka meninggalkan lapangan. Hanya Randa Gholam yang tetap bertahan. Dia dengan antusias mengibarkan gambar Hassan Nasrallah ke layar, media yang digunakan Hizbullah untuk menyampaikan pidato pemimpinnya karena alasan keamanan. ”Saya melambai untuk mengatakan padanya saya di sini, seperti biasa saya datang untuk mendukungnya. Tentu saja dia tahu banyak orang yang mendukungnya, tapi saya merasa dia harus melihat saya di sini,” kata Gholam.[1]

Gholam merasa Hassan Nasrallah sedang berterima kasih padanya. Senyum Nasrallah untuknya. Dia yakin akan hal itu meskipun orang-orang mengolok-olok ceritanya. Nama Randa Gholam memang tidak banyak yang tahu. Media mengenalnya sebagai seorang wanita berambut pirang dan bermata biru di antara barisan anggota Hizbullah yang berjilbab.
Continue reading

1

Nowruz dan Rakyat Iran

Sampai saat ini, saya belum pernah menghirup udara Nowruz di musim semi. Terlebih merasakan hiruk-pikuk masyarakat Iran dalam menyambut Nowruz. (Nowruz secara bahasa berarti “hari baru”, yakni hari pertama hijriah syamsiah sekaligus awal musim semi). Tentu saya tidak akan pernah bisa merasakan sebagaimana mereka telah merasakannya selama ribuan tahun. Sebuah suasana yang sedikitnya menyerupai jelang lebaran di tanah air; di mana warga memenuhi jalan-jalan dan pasar meski tak peduli harga naik untuk kemudian kembali ke kampung halaman masing-masing.

Sosiolog muslim Iran, Ali Syariati, menyampaikan definisinya tentang Nowruz sebagai sebuah momen penyatu rakyat Iran. Menyatu dengan alam yang kembali tumbuh subur setelah sebelumnya tertidur oleh musim dingin; menyatu bersama dalam sebuah momen kultur yang terus dipertahankan selama ribuan tahun. Dipertahankan dari infiltrasi budaya asing yang tidak memiliki akar di tanahnya.
Continue reading

0

Ketegasan Berbasa-Basi

Jika kata taaruf oleh sebagian orang di Indonesia digunakan untuk mengganti istilah pacaran agar terlihat lebih islami, di Iran kata taaruf digunakan untuk menunjukkan tingkat keberbudayaan dan penerimaan seseorang terhadap kultur dan tradisi mereka.[1] Diambil dari bahasa Arab yang berarti proses berkenalan kepada seseorang, di Iran kata taaruf berubah makna menjadi gaya mengelola hubungan sosial yang ramah.

Meskipun taaruf berakar dari tradisi penyambutan tamu yang lebih baik dari pada keluarga sendiri, ia juga mencakup berbagai perilaku sosial, seperti membukakan pintu atau mempersilakan orang lain terlebih dahulu. Ia juga merupakan seni silat lidah antara pemberi dan penerima sampai adanya kesepakatan. Ia juga menjadi fenomena budaya untuk menolak pemberian orang lain, dengan mempertimbangkan kesopanan, sekalipun sebenarnya sangat menginginkan.
Continue reading

6

Hidup dalam Kedamaian

Kita harus belajar dari Yesus a.s. tentang bagaimana hidup dalam kedamaian spiritual dan sosial serta bagaimana membangun kedamaian bagi seluruh dunia dan makhluk. Sebagaimana kita juga harus belajar dari Rasulullah saw. yang—melalui perintah Allah—menjadikan kedamaian sebagai ucapan salam umat Islam dan penduduk surga: “Para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan) assalamualaikum atas kesabaran kalian. Alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar-Ra’d: 23-24)

Hidup dalam kedamaian dan berdiskusi tentang apa yang menjadi perbedaan, bertujuan untuk mencapai pemahaman tentang apa yang tidak kita sepakati. Manusia harus hidup dalam kemanusiaan bersama manusia yang lain dan saling menuju kalimat yang satu (kalimah sawa’). Janganlah melibatkan diri dalam dakwah sektarian yang dapat membangkitkan insting (garizah). Lanjutkanlah dakwah cinta yang dapat membuka hati dan akal manusia.
Continue reading

2

Ulama di Perbatasan Amerika

Oleh: Sayid Hassan Al-Qazwini (2003)

Tidak seorangpun dari kita bisa membayangkan ke mana jalan akan membawa kita dalam kehidupan. Kisah pribadi saya dimulai dari leluhur saya, sebagaimana tercermin dalam empat bagian nama saya: Imam Hassan Sayid Al-Qazwini. Imam, merupakan istilah bahasa Arab yang berarti “pemimpin”. Dalam kasus saya, saya seorang pemimpin agama dari salah satu masjid tertua di Amerika Utara

Bagian kedua nama saya, Sayid, adalah sebuah gelar kehormatan yang diberikan kepada mereka yang silsilahnya dapat ditelusuri kembali ke Muhammad, nabi umat Islam, yang juga kita sebut sebagai Rasulullah. Hari ini, ratusan ribu umat muslim seluruh dunia memiliki garis keluarga yang kembali kepada Nabi Muhammad saw. Tidak semuanya ulama. Seorang sayid(ah) bisa dari jenis kelamin, warna, atau budaya yang berbeda di seluruh dunia.
Continue reading