1

Hari Perawat di Iran

Pada tanggal 5 Jumadilawal tahun keenam hijriah di kota Madinah, lahirlah seorang cucu nabi saw. yang dalam perjalanan hidupnya mengubah jalan sejarah manusia. Putri Fatimah ini mendapat didikan langsung dari Nabi Muhammad saw. dan Ali bin Abi Thalib, yang di antaranya adalah merawat, mengobati, dan menangani mereka yang sakit.

Dalam Islam, ada beberapa teladan dalam keperawatan, seperti Nabi Yusuf, Mariam binti Imran, Rufaidah, Nasibah, dan tidak terkecuali Nabi Muhammad saw. Ali bin Abi Thalib menceritakan bahwa ketika beliau terserang demam, nabi membagi waktu malamnya untuk salat dan merawat Imam Ali (Al-Bihar, j. 43, h. 173). Nabi saat hari-hari terakhir hidupnya mengatakan seseorang yang merawat mereka yang sakit siang dan malam, Allah akan bangkitkan bersama Nabi Ibrahim dan melintas sirat bagaikan kilat. Demikian juga Imam Ali merawat ketika Fatimah sakit, meskipun beliau meminta agar suaminya tidak memberitahukan penyakitnya kepada orang lain. (Al-Bihar, h. 211)
Continue reading

4

Sahabat Nabi di Karbala

Sebenarnya, anggapan bahwa Syiah memusuhi sahabat nabi saw. sulit diterima oleh kenyataan dan akal sehat. Jumlah sahabat nabi yang begitu banyak tidak bisa dijadikan sandaran tuduhan terhadap Syiah. Sebut saja nama-nama seperti Salman dan Abu Dzar r.a. di antara sahabat nabi yang begitu dihormati oleh pengikut Syiah. Bukankah juga Ali bin Abi Thalib dan Husain bin Ali, yang meskipun mereka bagian dari keluarga dan tidak bisa disamakan dengan sahabat lain, dalam definisi umum tetap dianggap sebagai sahabat? Begitu juga dengan sejarah yang merekam bahwa di antara sahabat nabi ada turut berjuang di medan Karbala.

Situs iQuest menyebutkan  bahwa meskipun kebangkitan dan revolusi Imam Husain a.s. terjadi pada tahun 61 H, namun demikian terdapat kemungkinan adanya beberapa sahabat Rasulullah saw. yang juga menjadi sahabat dan penolong Imam Husain a.s. karena orang-orang yang sebaya dan seusia dengan Imam Husain dan orang-orang yang lebih tua darinya menjumpai masa Rasulullah saw. Pada masa terjadinya tragedi Karbala, usia mereka rata-rata enam puluh tahun.
Continue reading

1

Wanita Karier Menurut Khamenei

Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan terkait masalah keluarga. Namun kita perlu membedakan peran seorang wanita antara sebagai istri dan ibu. Dalam sebuah keluarga, seorang wanita memainkan peran luar biasa sebagai istri, meskipun dia tidak berperan sebagai seorang ibu. Ada seorang wanita yang tidak bisa atau belum ingin melahirkan seorang bayi, namun dia tetap seorang istri. Kita tidak boleh meremehkan peran seorang istri.

Seorang pria yang ingin bermanfaat di masyarakat harus memiliki istri yang baik di rumah, jika tidak maka ia tidak akan bermanfaat di masyarakat. Kami menguji gagasan ini pada masa revolusi dan setelah kemenangan revolusi. Para pria yang mendapat dukungan istri akan tetap teguh selama revolusi dan mereka tetap melanjutkannya di jalan yang benar setelah kemenangan revolusi. Tentu, hal sebaliknya juga terjadi.
Continue reading

9

Wanita dan Surga dalam Islam

Oleh: Imran N. Hosein

Revolusi feminisme sekuler bangkit di dunia dari Barat dengan agenda utama untuk membebaskan wanita dari “belenggu” zaman yang secara total mengubah status, peran dan fungsinya dalam masyarakat. Hal tersebut membalikkan pesan suci dan religius masa lalu sedemikian rupa sehingga matahari saat ini seolah terbit dari barat.

Sekularisme mengarah pada materialisme yang akhirnya menolak realitas wanita selain realitas materialnya, fisiknya. Konsekuensinya, wanita muda yang cantik menjadi dewi zaman ini. Tapi dia menjadi dewi yang tidak malu untuk dieskploitasi dalam iklan untuk menjual apapun. Dia menjadi sesuatu yang dinikmati, dieksploitasi, dilecehkan, direndahkan dan dibuang ketika kecantikan fisik dan daya tarik seksualnya mulai berkurang. Lalu sejumlah anak sekolah akan berlomba-lomba menggantikannya.
Continue reading

4

Membunuh Islam Atas Nama Islam

Saya hanya kuat beberapa detik melihat video pembunuhan keji atas nama Allahuakbar tersebut, setelah itu saya coba sampaikan tulisan ini. Saya berusaha menuliskannya dalam kondisi aliran darah yang tidak stabil. Dalam kondisi mata menangis, membayangkan Rasulullah saw. yang “berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. 9: 128). Perhatikan kalimat tersebut. Rasul merasa berat, sedih karena penderitaan umatnya, padahal manusia yang paling mendapat ujian besar adalah beliau!

Kalian yang membenci kelompok lain atas nama agama tahu betapa Rasul mendapat perlakuan yang tak kalah keji; tak seorangpun sanggup menerima. Mulai dari cercaan, tuduhan gila, tukang sihir, hingga gangguan fisik, jebakan duri di jalanan, timpukan batu dan kotoran, gigi yang patah dan darah yang mengalir dari tubuh sucinya. Ketika nabi-nabi sebelumnya mendapat ujian, mereka memohon kepada Allah menurunkan azabnya. Tapi Rasulullah mengatakan mereka itu hanyalah orang-orang yang tidak mengetahui. Apa yang rasul bangun selama ini, beberapa bagiannya runtuh oleh orang yang mengaku pengikutnya.
Continue reading