Dakwah di Tengah Kemiskinan

O. HashemKalau membaca buku Marxisme dan Agama yang terbit pertama kali tahun 1963, kita pasti mengira bahwa penulisnya bukanlah dokter. Buku itu dengan detail menjelaskan tentang perseteruan antara agama dan ideologi Marxisme. Sosok O. Hashem, penulis buku itu, dikenal sebagai dokter yang pandai berdakwah, tidak hanya berceramah tapi juga menulis buku.

Beberapa di antara karyanya adalah Rohani, Jasmani dan Kesehatan (1957), Keesaan Tuhan (1962), Menaklukan Dunia Islam (1968), Saqifah; Awal Perselisihan Umat (1983), Syiah Ditolak Syiah Dicari (2000), Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi (2000), Muhammad Sang Nabi (2005) dan lain-lain. Pengetahuan tentang agamanya ini justru beliau peroleh dari membaca buku. “Saya tidak ada pendidikan khusus untuk agama,” ujar pria kelahiran Gorontalo, 28 Januari 1935.

Sedikit karya beliau yang ada di rumah

Sedikit karya beliau yang ada di rumah

Ketertarikannya dengan dunia dakwah dimulai ketika Oemar Hashem kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Di sana beliau tinggal di asrama Kristen. Kawan main caturnya mengajukan pertanyaan yang menggangu hatinya. Temannya bilang, panggilan Tuhan Bapa itu dari Islam. Dari situ beliau belajar agama. Lalu belajar bahasa Arab sendiri, membeli kamus, meminjam buku tata bahasa Arab, kemudian menulis buku yang bersumber dari bahasa Arab, dan enam bulan kemudian beliau sudah bisa membaca bahasa Arab.

Bersama-sama dengan empat orang temannya, Hadi A. Hadi, Hasan Assegaf, Muhammad Suherman (Muhammadiyah), Saad Nabhan (Al-Irsyad), dan Husain Al-Habsyi, O. Hashem mendirikan YAPI (Yayasan Penyiaran Islam) pada tahun1961. Tahun 60-an ia berceramah sebulan sekali di ITB dan Unpad. Tahun 1965 ia mengumpulkan orang Cina dan mulai berdakwah tentang Islam ke orang-orang Tionghoa.

Pada tahun 1960-an, ketika Muhammad Natsir keluar dari penjara, O. Hashem diundang secara rutin untuk ceramah di Dewan Dakwah. Sosok M. Natsir dikenalnya dengan baik. Bahkan waktu itu M. Natsir mengirim surat untuk O, Hashem beserta buku Prof. Dr. Verkuyl yang berjudul Intepretasi Iman Kristen kepada Orang Islam. Buku itu dijawab oleh O. Hashem dengan buku lagi berjudul Jawaban Lengkap kepada Pendeta Prof. Dr. J. Verkuyl (1967). Kemudian M. Natsir mengirimkan lagi surat terima kasihnya. Prof. DR. HM. Rasyidi pernah mengatakan dalam sebuah seminar, “Di depan saya ada anak muda yang menjadi guru saya.”

Setelah lulu Fakultas Kedokteran di Universitas Padjajaran (di Unair sampai sarjana kedokteran), ia ditempatkan di Lampung dan menjadi dokter Puskesmas. Di sana beliau masih sering diminta ceramah. Meski ia berencana untuk tidak aktif berceramah, tapi panggilan hatinya melihat minimnya dakwah di sana membuatnya terpanggil.

Dokter yang Sosial

Bagi seorang dokter, memilih kota kecil memang tidak menarik. Apalagi bergulat dengan kemiskinan penduduk kampung. Tapi bagi O. Hashem, ketika masih mahasiswa di Bandung beliau punya komitmen, “Saya tidak akan menolak ditempatkan di mana pun, karena saya sudah mengambil keputusan untuk mengabdi kepada rakyat,” kata ayah empat anak ini.

Pernah suatu kali ada orang yang membayar, namun oleh petugas rumah sakit uang recehannya tidak dikembalikan, lalu beliau suruh uang itu dikembalikan. Bahkan ada seorang pasien yang datang kepadanya, karena tidak bisa membayar, pasien itu membayarnya dengan seekor ayam. Bahkan ia sering menerima orang tanpa membayar dan membuka praktik murah di sana. “Saya merasa tidak tega untuk mengambil uang mereka,” kata suami dari Khadijah Al-Kubra ini.

Ia sangat prihatin dengan biaya kesehatan sekarang ini yang mahal. Bahkan ironis dengan pensiunnya sekarang ini, sering ia kesulitan untuk membeli obat dan biaya rumah sakit. Pulang praktik dari Lampung, ia kembali ke Jakarta dengan uang yang hanya cukup untuk tiket. Meski begitu, uang pensiunannya yang hanya sekitar 620 ribu, setiap hari Senin, isterinya selalu menyediakan 10 kg beras untuk tukang sampah yang mempunyai anak banyak.

Baginya, problem dakwah itu kemiskinan. Orang miskin butuh sekali dakwah. Ketika dulu berdakwah, ia hanya menerima uang sekali di ITB. “Sekarang ini yang bisa menerima dakwah itu orang kaya, yang bisa bayar. Orang miskin tidak bisa, karena tidak mampu bayar. Sehingga waktu itu jarang ada sempalan-sempalan agama, karena orang miskin itu juga mendapat dakwah,” ujar dokter dari keluarga petani ini.

Meski dikenal sebagai orang yang humoris, namun peristiwa Asyura selalu membuat pipinya yang sudah keriput menjadi basah oleh air mata. Baginya, Asyura menggambarkan betapa kejamnya manusia terhadap manusia lain. Apalagi sebenarnya Husain tidak berbuat apa-apa, ia hanya tidak ingin berbaiat. Andaikata ia membaiat seorang pemimpin zalim (Yazid), berarti ia menyalahi risalah kakeknya, Rasulullah, dan mengakui tindakan zalim. “Sekarang ini kita harus hidup berbuat baik, dan mesti kritik bila ada penguasa berbuat zalim,” jelasnya.

Foto beliau ketika masih muda dan tanda tangannya

Foto beliau ketika masih muda dan tanda tangannya

Setiap yang membaca karya beliau bisa disebut sebagai murid beliau, tidak terkecuali saya. Beberapa kali berbincang dengannya seperti berbicara dengan komputer dengan memory besar. Beliau hampir bisa menyebutkan setiap kisah dan sejarah dengan lengkap. Meski demikan, tema obrolannya tidak selalu tentang agama. Terakhir ke rumahnya, beliau menceritakan tentang sejarah kopi dan jenis-jenisnya. Genius!

Sakit komplikasi (kanker, paru-paru, asma, diabetes) yang dideritanya memuncak ketika beliau masuk ke rumah sakit hari Selasa (20/01). Saya tidak sempat datang, tapi orang tua saya mengatakan hingga hari Rabu pun beliau masih segar dan mengeluarkan canda tawanya. Namun Sabtu kemarin (24/01), beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Sore harinya beliau dimakamkan di Tanah Kusir. Indonesia dan umat Islam telah kehilangan guru dan cendikiawan serba bisa. Karya-karya beliau akan selalu dikenang oleh anak bangsa.

Sumber: Tabloid Jum’at (Dewan Masjid Indonesia) Edisi 817/9 Muharram 1429 H dengan perubahan redaksi dan tambahan cerita pribadi.

7 thoughts on “Dakwah di Tengah Kemiskinan

  1. 😦 sedihnya kalo baca biografinya lagi..
    Mudah2an Ilmu dan baktinya dibalas dengan janji Allah SWT yang berkali2 lipat.
    btw, sempet ngobrol2 ya sama ami Omar Hashem?
    masih ada ga orang2 tua yang bisa diajak ngobrol seperti ami Omar…seperti membuka memori dengan kapastias besar dan sense of humour?

  2. beberapa kali saya bertemu dengan beliau di jakarta dan makassar, bahkan beliau sempat memberikan saya sebuah buku karyanya yang sampai sekarang masih saya pergunakan…. sangat sulit menemukan orang tua seperti beliau sebagai seorang guru yang bijaksana.

  3. Saya merasakan kehilangan dng orang yg begitu genius dalam hal sejarah Islam dan Kristolog (mski alm.dokter umum, alm hafal bahkan sampai halaman injil tentang ayatnya)..Alm saya kenal waktu brtugas sebagai Kep.UGD RSUD Lampung, hobbynya ngobrol sampai pagi, dan mengasyikan krn alm jg pandai joke/shoftah d/ tentang sahabat as sampai yg saat ini…Waktu haji bersama alm. jg dengan ustd.Labib, beliau menjelaskan tiap tempat yg kami kunjungi…Beberapa hr sblm masuk RS MMC akm menelpon sy ttg penyakitnya (yg memang sdh lama alm derita) juga dicampur joke tentang rokok,dokter dll…Sebelum wafat alm baru menyelesaikan buku tentang Aisyah ra, yg menurut penelitian alm.waktu menikah dng Rasul saww bukan berumur 9th (tapi sdh baligh/dewasa) krn banyaknya kecaman orang tentang pernikahan “syech” pemilik pesantren…Alm bilang masih da hutang ingin ke Karbala, menulis tentang tempat suci terbantainya Imam Husin as, tp Al Khalik sdh memanggilnya…”manusia tdk bisa lepas dari 2 hal yt mazhlum atau dzalim terhdap 3 hal yt suami/istri, anak dan pegawai/masyarakat (Imam Ali as), dan beliau memilih mazhlum (dizhalimi) terutama selesai bukunya tentang Saqifah Kehilangan alm tentu Allah akan beri penggantinya.insya Allah ..

    • Kita semua menanti karya terakhir beliau tentang Ummulmukminin Aisyah… dan semoga ada penulis produktif lainnya yg bisa menunaikan “hutang” buku beliau tentang makam Karbala…

      Tentang buku Saqifah, beliau selalu berkata, “Saya tulis dari sumber kitab suni…”🙂 Semoga Allah meninggikan derajat beliau di surga. Amin.

  4. subhanallah …..
    dimana say bisa mendapatkan buku-bukunya, “berdakwah di tengah kemiskinan” judul buku atau bukan?
    terima kasih buat blog ini.
    jazakallah khaoirol jaza’

    • Buku-buku beliau yang lama memang agak sulit mencarinya. Sewaktu tahlil sempat dibicarakan untuk mengumpulkan dan mencetak buku-buku beliau yang sudah lama. Tapi saya belum tau lagi gimana kelanjutannya.

      Buku beliau yang masih bisa dicari Muhammad Sang Nabi, Benarkah Aisyah Menikah Dini?, Syiah Ditolak Syiah Dicari (sudah ada e-booknya)… Berdakwah di Tengah Kemiskinan bukan judul buku.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s