Peran Agama dalam Dunia Kontemporer

Oleh: Prof. Yaser Khomeini

Seluruh disiplin ilmu memiliki metodologinya masing-masing untuk memperoleh kajian dan pemahaman yang mendalam, tidak terkecuali agama. Kebanyakan orang mengartikan agama hanya sebagai sekumpulan perintah dan larangan, inilah yang menyempitkan makna agama sebagai ilmu fikih. Ada lagi yang memaknai agama dengan penggunaan akal atau rasional, inilah yang dimaksud dengan filsafat agama. Ada pula agama yang menggunakan metode ‘irfân atau tasawuf untuk memahaminya.

Selain ketiga metode tersebut, ada metode baru yang dikembangkan baru-baru ini, yakni pendekatan science. Ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah dan penggunaan akal seharusnya sejalan dengan agama yang juga rasional dan dapat diterima akal. Namun keseluruhan metode tersebut tidak mampu untuk menyingkap hakikat yang sesungguhnya. Sehingga, seorang fakih (ahli fikih) misalnya, tidak bisa mengatakan bahwa agama adalah fikih dan fikih adalah agama. Begitu juga dengan para urafa (ahli irfan) yang selalu menghubungkan agama dengan akhirat.

Imam Khomeini dengan latar belakang ilmu pengetahuan yang dimilikinya memiliki pandangan yang lebih komprehensif. Sehingga beliau memaknai agama sebagai aturan keseharian yang mendidik dan menjadikan manusia sebagai “manusia Ilahi” disemua bidang. Sehingga kita perlu mengembalikan posisi agama pada tempat yang seharusnya untuk menciptakan manusia Ilahi yang kemudian akan menciptakan masyarakat Ilahi.

Ada empat poin penting yang perlu dicermati mengenai pemikiran Imam Khomeini. Pertama, bahwa beliau sangat anti terhadap kezaliman, bahkan menolak hal-hal yang mengarah kezaliman. Dengan penilaiannya ini beliau menyerukan slogan Lâ Syarqiyyah Lâ Gharbiyyah Jumhuriyyah Islâmiyyah (Tidak Timur dan Tidak Barat, hanya Republik Islam). Yang kedua adalah bahwa Imam Khomeini sangat berorientasi kepada kerakyatan. Hal ini dibuktikan bahwa Imam tidak hanya menerima aspirasi dari rakyat, tapi langsung melakukan referendum, dan terbukti lebih dari 95% rakyat Iran setuju dengan negara Islam.

Ketiga adalah bahwa beliau sangat memperhatikan kedudukan wanita. Ketika sebagian ulama menyatakan bahwa suara wanita sebagai aurat, justru beliau memerintahkan rakyat Iran, termasuk wanita, untuk turun ke jalan berdemonstrasi menjatuhkan rezim Shah. Ketika wanita dahulunya tidak boleh bersuara dalam pemilu, namun Imam Khomeini “mengembalikan” hak tersebut bahkan wanita berhak duduk di parlemen. Keempat, bahwa Imam selalu menyuarakan persatuan kaum muslimin. Banyak musuh Islam mengatakan bahwa ini merupakan pandangan strategis atau taktis, namun ini murni pandangan Imam Khomeini sesuai ajaran Islam.

Oleh: DR. M. Amien Rais

Sebagian para ahli (Barat khususnya) mengatakan bahwa agama menghambat kemajuan kehidupan manusia. Ini merupakan pandangan para sekuleris. Tapi saya justru melihat bahwa di dalam Alquran, agama mendorong kepada peradaban manusia yang lebih adil. Ada tiga kewajiban untuk mewujudkan dan membuktikan hal tersebut. Kalau orang Barat atau mungkin Anda tidak suka dengan kata “kewajiban”, ada tiga hak bagi manusia untuk mewujudkan hal tersebut.

Pertama adalah hak manusia untuk beribadah. Kedua, hak manusia untuk mengelola kehidupan sosialnya. Yang ketiga, hak manusia untuk menjalankan amar makruf nahi mungkar. Namun untuk menjalani dua hal pertama, dibutuhkan adalah kekuatan politik yang dapat menghadirkan Islamic State/khilafah, atau paling tidak negara dapat melakukan sharing of power terhadap agama. Hal itu untuk menjamin ibadah dan mengelola kehidupan sosial.

Kita semua ini merupakan termasuk para pengikut apostle (anbiyâ), para rasul. Ada dua tipe rasul yang bisa kita cermati. Pertama, para rasul yang hanya cukup menyampaikan apa yang diperintah oleh Allah dan reward-nya pun cukup dari Allah. Di surah asy-Syu’arâ’ misalnya, kita bisa melihat ada beberapa nabi seperti Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Syuaib yang mengatakan: Sungguh aku adalah rasul kepercayaan kepada mu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Aku tidak meminta imbalan kepadamu; imbalanku hanyalah dari Allah Tuhan semesta alam. Sedangkan tipe rasul yang kedua tidak hanya cukup menyampaikan tapi juga melawan para pemimpin di zamannya. Kita bisa melihat Nabi Ibrahim yang melawan Namrud, Nabi Musa yang melawan emperium Firaun, dan Nabi Muhammad yang melawan kekuataan kafir Quraisy.

Agama seperti itulah (contoh kedua) yang seharusnya ada pada zaman sekarang ini, yakni agama yang “menghidupkan” manusia, seperti judul kitab al-Ghazali, Ihyâ ‘Ulûmud Dîn. Saya tidak serta merta setuju jika jihad dimasukkan menjadi rukun Islam, tapi saya sangat menghargai pendapat itu. Imam Khomeini telah melakukannya di Revolusi Islam Iran, dan bahkan melebihi Revolusi Perancis. Sedangkan kita di Indonesia, justru negara ini seperti mendapat kutukan sumber daya alam; negara yang melimpah alamnya namun justru jatuh miskin dengan hutang yang banyak. Nampaknya agama belum mampu memerdekakan manusia untuk beribadah kepada Allah.

Artikel Terkait:

Catatan: Seminar Internasional “Religion in Contemporary World” berlangsung pada tanggal 5 Februari 2009 di Auditorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Islam Iran. Tulisan ini merupakan ringkasan saya dari dua pembicara.

2 thoughts on “Peran Agama dalam Dunia Kontemporer

  1. hem…..menarik sekali tuh seminar, tp sayang akyu datangnya teeeeelaaaat…hiks..hiks…jd sedih

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s