Lapar Perut dan Lapar Syahwat

Seorang ulama menceritakan kisah di bawah ini:

Suatu hari, terdengar pintu rumahku diketuk. Ketika aku buka pintu, nampak seorang wanita setengah telanjang, tidak mengenakan hijab dan menghias diri. Sebenarnya aku hendak menutup pintu dan tidak memperdulikannya. Namun aku berpikir, barangkali dia tidak tahu bahwa sangat tercela datang ke rumah ulama tanpa mengenakan jilbab. Mungkin saja aku bisa menasihatinya.

Aku menundukkan kepala dan berkata, “Silakan masuk!” Wanita itu masuk ke dalam ruangan dan duduk. Dia ingin menanyakan persoalan seputar hukum waris. Aku berkata, “Nyonya, aku juga ingin mengajukan pertanyaan kepada Anda. Apabila Anda bersedia menjawabnya, aku juga akan menjawab semua pertanyaan Anda.”

Dengan nada heran wanita itu berkata, “Engkau bertanya kepadaku?” Aku berkata, “Benar.” Wanita itu menjawab, “Silakan.”

Aku berkata, “Seseorang sedang sibuk menyantap makanan yang sangat lezat dan enak di suatu tempat. Tiba-tiba ada orang kelaparan melewati tempat itu dan menghentikan langkahnya. Dia berharap orang itu bermurah hati dengan memberinya sedikit makanan. Akan tetapi, orang itu justru tidak memperdulikannya. Kemudian orang lapar itu meminta sesuap makanan. Orang itu malah mengatakan, ‘Makanan ini milikku dan aku tidak akan memberikannya kepada orang yang meminta meskipun dia memohon’. Orang itu terus menyantap makanannya tanpa memperdulikan permintaan orang yang kelapara tersebut. Nyonya, bagaimana orang ini menurut Anda?”

Wanita itu menjawab, “Orang itu tidak punya belas kasihan dan lebih buruk dari Syimr (pembunuh Imam Husain—penerj.).”

Aku berkata, “Terdapat dua jenis lapar, yaitu lapar perut dan lapar syahwat. Seorang pemuda Barat yang lapar syahwat, melihat wanita setengah telanjang, mengenakan wewangian dan memamerkan keindahan tubuhnya. Pemuda itu berusaha menarik perhatian wanita tersebut dan tersenyum kepadanya, namun wanita itu tetap saja tidak memperdulikannya. Pemuda itu menunjukkan perasaannya, namun wanita itu menolaknya. Pemuda itu memohon dengan sungguh-sungguh, tapi wanita itu mengatakan, ‘Aku wanita baik-baik dan tidak sudi berbicara dengan Anda’. Kembali pemuda itu memohon, tapi wanita itu tetap saja tidak memperdulikannya. Menurut Anda, manusia seperti apa wanita ini?”

Wanita itu berpikir sejenak, lalu berdiri dari duduknya dan pergi keluar. Keesokan harinya, terdengar pintu rumahku diketuk orang. Ketika aku buka pintu, nampak seorang tentara berdiri di depan pintu. Aku persilakan dia masuk. Setelah masuk dan duduk, pria itu memperkenalkan dirinya, “Aku suami wanita yang kemarin datang menemui Anda. Sejak awal pernikahan dengannya, aku berharap dia mengenakan jilbab. Namun dia tidak pernah sudi mendengar nasihatku meskipun aku sering memaksa dan bahkan mengancamnya. Akan tetapi, kemarin dia pulang ke rumah dan minta padaku agar membelikan jubah dan busana Islami. Aku tidak mengerti, apa yang Anda katakan padanya kemarin?”

Aku pun menceritakan padanya apa yang terjadi. Sebagai tanda terima kasih, pria itu memberiku sehelai jubah.

Sumber: Dastanha-yi az Pusyesy wa Hijab karya Ali Mir Khalaf Zadeh

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s