Valentine Menurut Ayatullah Fadlullah

Pada tanggal 14 Februari, orang-orang Perancis dan Amerika mengadakan perayaan besar untuk memperingati Hari Valentine, di mana orang-orang bujangan berkumpul di tempat umum untuk tukar-menukar ciuman, hadiah, dan sebagainya, sebagai bentuk peringatan acara itu. Apa pendapat Anda terhadap pemikiran pengkhususan hari perayaan Valentine, yang belakangan ini begitu marak di masyarakat kita?

Sesungguhnya perayaan seperti ini (menurut hemat kami) merupakan taklid buta dan sikap primitif, karena cinta merupakan suatu keadaan manusiawi yang dirasakan oleh manusia secara esensial dan bergerak dalam hidupnya. Kemudian, pembekuan keadaan tersebut pada suatu hari, atau pada suatu perayaan atau pada seseorang merupakan bentuk pencekikan kepadanya. Apa yang dipraktikkan manusia tersebut dan dianggap sebagai suatu tradisi, pada hakikatnya membekukan maknanya dalam kehidupan mereka.

Fenomena perayaan hari kasih yang telah biasa dilakukan oleh manusia di penjuru dunia (yang berupa praktik rangkul-merangkul, cium-mencium, dan sebagainya) merupakan tindakan yang tidak penting, yang tidak menggambarkan makna dalam dan impulsif dari cinta, di samping itu, fenomena perayaan itu bagi sebagian orang merupakan sekedar kesempatan untuk merasakan kenikmatan yang berlalu begitu saja.

Sesungguhnya hari ini (menurut hemat kami) tidak mencerminkan cinta, dan kami tidak yakin bahwa dengan perayaan tersebut cinta akan terbentuk. Suasana duduk dengan penuh persahabatan yang dirasakan dua orang terkadang menjadi sumber terbesar dan terpenting untuk merasakan getaran cinta daripada perkumpulan karnaval di suatu tempat dan tukar menukar ciuman. Ini dari sisi tolok ukur umum.

Adapun menurut pandangan Islam, ia tidak menyetujui banyak dari gaya perayaan tersebut. Bentuk perayaan itu bertentangan dengan garis-garis hukum Islam, sedangkan dari sisi substansinya, maka fenomena perayaan itu tidak berpengaruh atas hubungan kemanusiaan antara pria dan wanita, atau antara pemuda dan pemudi, atau antara satu manusia dengan manusia yang lain.

Sesungguhnya Hari Valentine sekedar peringatan dan perayaan yang diadakan begitu saja tanpa membawa pengaruh yang berarti, di mana orang-orang bersangkutan akan kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing, dan seolah-olah perayaan itu tidak pernah terjadi.

Apakah perayaan semacam ini (menurut Anda) tidak ada positifnya sama sekali?

Sayyid Husain Fadhlullah

Cinta merupakan suatu keadaan emosi yang dirasakan manusia pada setiap hari dalam banyak pengalaman-pengalamannya dan hubungan-hubungan kemanusiaannya, dan bukan hanya dalam hubungan antara pria dan wanita. Oleh karena itu, pemfokusan atas bentuk terbatas dari cinta yang luas, yang mencakup seluruh perasaan manusiawi yang dirasakan manusia terhadap satu sama lain, dan terhadap kehidupan dan negeri, dan terhadap Sang Pencipta—dan yang terakhir ini merupakan bentuk cinta tertinggi dan tersuci—tidak dapat mencerminkan masalah cinta, khususnya dalam bentuk praktek yang dipilih oleh masyarakat Barat dalam perayaan tersebut, di mana bentuk perayaan itu lebih dekat kepada perayaan yang bersifat naluriah (seksual) daripada perayaan yang bersifat manusiawi.

Sumber:

One thought on “Valentine Menurut Ayatullah Fadlullah

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s