Pria Budak Syahwat, Wanita Tawanan Rasa Cinta

Falsafah di balik kenyataan seorang gadis tidak boleh, atau tidak semestinya, menikah dengan seorang pria tanpa izin ayahnya, bukanlah karena seorang gadis memiliki kekurangan pada dirinya. Bukan pula karena kematangan sosialnya yang lebih rendah dari pada pria. Karena jika memang demikian alasannya, apa bedanya seorang janda dengan gadis, jika janda yang berusia 16 tahun tidak memerlukan izin ayahnya untuk menikah sedangkan gadis berusia 18 tahun memerlukannya?

Lagi pula, sekiranya dalam Islam wanita dipandang tidak mampu menata urusan pernikahannya sendiri, mengapa Islam mengakui kebebasan wanita dalam urusan ekonomi dan melakukan transaksinya sendiri, misalkan, jutaan Rupiah tanpa memerlukan persetujuan ayah atau suaminya?

Karenanya, ada falsafah lain yang tidak ada kaitannya dengan fikih. Tentu bukan karena kekurangan pada diri wanita. Masalah ini berhubungan dengan aspek psikologis pria dan wanita. Ia berhubungan khusus dengan kebuasan watak pria di satu pihak dan kepercayaan wanita akan kejujuran dan kesetiaan pria di pihak lain.

Pria adalah budak dorongan nafsunya dan wanita adalah tawanan rasa cinta kasihnya. Penyebab pria tersandung dan terjatuh adalah dorongan nafsunya. Menurut psikolog, wanita lebih sabar dan mampu mengontrol hawa nafsunya. Namun yang menggoyahkan keseimbangan pertimbangan wanita dan memperbudaknya adalah rayuan cinta, kasih sayang, kejujuran dan kesetiaan pria.

Seorang gadis yang belum pernah mengenal pria, akan mudah sekali mempercayai bisikan cinta dan kasih sayang pria. Seorang psikolog mengatakan bahwa kalimat terbaik yang biasa dikatakan seorang pria kepada wanita adalah, “Kekasihku, aku cinta padamu.” Dia juga mengatakan, “Merupakan kebahagiaan bagi seorang wanita bila ia bisa merebut hati seorang pria dan memilikinya untuk sepanjang hidupnya.”

Rasulullah, seorang “psikolog” Ilahi dengan jelas menyatakan kebenaran hal itu empat belas abad yang lalu. Beliau mengatakan, “Seorang wanita tidak akan melepaskan dari hatinya, kata-kata yang diucapkan seorang pria kepadanya ‘Aku cinta padamu’.”

Hal lain yang menjadi bukti adalah kisah tentang seorang wanita bernama Asfar yang mencoba bunuh diri dan seorang pria bernama Javad, yang telah “menipu” wanita tersebut. Asfar mengatakan, “Walau saya tidak berbicara dengan dia, hati saya rindu. Saya tidak jatuh cinta. Tapi dengan rintihan kasih sayang, saya mempunyai kebutuhan psikologis terhadapnya.” Perlu diketahui, Asfar adalah seorang janda yang “berpengalaman”. Betapa pula dengan gadis yang belum berpengalaman?!

Itulah sebabnya maka perlu bagi seorang gadis, yang “belum berpengalaman” dengan pria, untuk mendapatkan persetujuan dari ayahnya yang lebih tahu tentang pria dan umumnya. Meskipun dalam fikih Syiah ataupun pertimbangan akal, seorang wanita yang telah memenuhi syarat akil baligh dan kematangan mental, serta telah pernah kawin sebelumnya tidaklah perlu lagi meminta persetujuan walinya.

Sumber: The Rights of Women in Islam karya Morteza Motahhari

9 thoughts on “Pria Budak Syahwat, Wanita Tawanan Rasa Cinta

  1. pernah baca bukunya, keren..
    Kalimat yang paling indah didengar oleh perempuan dari lelaki adalah “kekasihku,sungguh aku cinta padamu” sedangkan kalimat yang paling indah diucapkan oleh perempuan kepada lelaki yang dicintainya adalah :”Aku bangga padamu”

    (MM)

    mungkin itu jg karena katanya wanita diciptakan dari tulang rusuk pria yang berada di dekat sulbi di dekat jantung🙂 (heart)

  2. Pelecehan atau bukan terkadang tergantung persepsi. Wanita terbuat dari tulang rusuk pria dianggap pelecehan dan diyakini oleh para feminis Islam diambil dari hadis yang lemah, Masoginis.
    Namun dalam perkawinan, jika kita ambil makna dari sisi yuridis, posisi perempuan dalam perkawinan yang menjadi “makmum” membuat masuknya wanita ke dalam lembaga ini dalam posisi yang “beresiko”; maksud saya, posisi struktural keluarga menjadikan wanita relatif tak memiliki kekuasaan lebih tinggi dari lelaki (suami). Jadi, pemahaman/ analisis di atas menurut saya hanyalah merupakan “koridor pelepasan posisi tanggungjawab” dari status seorang anak menjadi seorang istri. Janda statusnya/ tanggungjawabnya sudah bukan anak dari seseorang, tetapi SUDAH PERNAH merasakan menjadi istri. Secara sosio-psikologis-yuridis tentu berbeda dengan gadis yang status sosio-psiko nya masih “anak”.
    Pria budak syahwat sudah umum kita dengar. Wanita ter-mehek-mehek karena cinta juga sudah sering pula kita temui.
    Jika ada pria yang “klelep” karena cinta atau sebaliknya ada wanita yang menjadi budak syahwat, kenyataannya juga ada walau tak sebanyak yang sebaliknya. Demikianlah hukum dan tatana sosial berlaku umum.
    Salam kenal. Thx.

  3. Wanita berasal d/tulang rusuk itu tdk ada dlm nash, krn Allah menciptakan wanita/laki2 dari bahan yg sama (masa Allah kekurangan bahan?), dan bnyk ayat/hadist ahlul bait yg membantah hal tsb..ini yg disebut hadist israeliyat/nasrani, untuk merendahkn kaum wanita..secar medis jg trnyata tulang rusuk laki2 ga kurang tuh wl “diambil” u/bikin wanita..

  4. memang benar..karena salah satu cobaan pria itu memang wanita.. kalau Pria gak bisa melewati cobaan ini maka dia jadi budak dari syahwatnya sendiri..

  5. ” seorang wanita yang telah memenuhi syarat akil baligh dan kematangan mental, serta telah pernah kawin sebelumnya tidaklah perlu lagi meminta persetujuan walinya.” ni yang saya tidak setuju.Seorang wanita kalau meikah harus persetujuan wali.Salam

    • Denger-denger kalau “telah pernah kawin” alias janda boleh menikah tanpa wali (pendapat mazhab Hanafi). Wassalam🙂

  6. “Denger-denger ” tidak bisa dijadikan dasar. Anda menanggung dosa besar jika salah, karena anda berani mempublikasikan sesuatu dengan tidak berpikir dan dasar yang kuat.

    Tulisan ini bisa jadi sampah beracun… apa niat penulis menulis artikel ini?

    • Dasar dari “denger-denger” itu adalah hadis riwayat Muslim الأيم أحق بنفسها من وليها yang ditafsirkan oleh suni Hanafi sebagai “wanita janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya.”

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s