Mencari Kebahagiaan Sejati

Apakah kebahagian sejati muncul ketika seseorang menemukan apa yang ia inginkan? Atau ada konsep lain dari sebuah kebahagiaan? Cobalah lihat kepada seseorang yang memiliki segala jenis kesenangan hidup. Elvis Presley adalah pria tampan yang dikaruniai kesehatan dan tubuh yang baik. Dia juga sangat kaya. Memiliki wanita yang ia inginkan, dan memiliki istri tercantik pada masanya.

Elvis Presley, saudara-saudari sekalian, memiliki dunia dan seisinya. Meskipun dia memiliki segala kesenangan ini, tahukah Anda bagaimana sang legenda ini wafat? Elvis Presley meninggal di toilet rumahnya karena overdosis narkotika. Setiap orang yang membaca biografi pria ini tahu bahwa dia sebenarnya tidak bahagia dalam hidupnya, tapi sedih dan depresi.

Jika hal yang membuat Anda senang berkurang, hal yang membuat Anda sedih bertambah. —Ibnu Atha as-Sakandari.

Masalah Elvis Presley dan masalah kebanyakan dari kita adalah mencari kebahagiaan pada tempat yang salah. Lelaki percaya jika ia mendapatkan wanita tertentu, ia akan menjadi orang paling bahagia. Seorang pedagang percaya jika ia berhasil dalam bisnisnya, ia akan menjadi orang paling bahagia. Seorang wanita percaya jika ia menikah dengan pria istimewa, ia akan menjadi wanita paling bahagia.

Kita semua mencari kebahagiaan di tempat tersebut; di luar diri kita sendiri. Setiap orang tahu jika kita menemukan apa yang kita cari, kita akan mulai merasakan kesepiaan, kekosongan, lalu mulai mencari tujuan lain untuk memenuhi kekosongan tersebut. Sebenarnya, seluruh filosof, ilmuwan, nabi, dan seluruh pemikir mempunyai suara bulat dalam mendefinisikan kebahagiaan, yakni sebagai: an inner peace (salâm dakhilî), kedamaian dalam diri, yang dirasakan dalam diri Anda.

Inilah sebuah ketentraman dalam hati, kedamaian dalam diri manusia yang dirasakan dalam diri Anda, meskipun hal lain terjadi di sekitar Anda. Jika Anda ingin membedakan antara kebahagiaan dengan ketidakbahagiaan maka lihatlah kepada mereka yang tertimpa bencana. Anda akan temukan ketika seseorang menghadapi sebuah bencana, dia mungkin akan sedih—karena kesedihan merupakan hal alami—tapi dia akan sedih hanya satu atau dua hari, lalu memulai aktivitas baru seperti biasa.

Sedangkan ketidakbahagiaan, jika seseorang menghadapi sebuah bencana, Anda akan temukan dia mulai depresi, tertekan, mengambil obat-obatan atau rokok, dan akan tetap dalam kondisi itu dalam waktu satu atau dua tahun. Kehidupan dia mungkin akan berantakan karena bencana itu! Jadi lihatlah kepadanya jika terjadi bencana dan Anda akan melihat siapa yang bahagia dan siapa yang tidak bahagia. Siapa yang memiliki kedamaian dalam dirinya dan siapa yang kehilangan kedamaian.

Ketahuilah bahwa kebahagiaan di dunia ini datang ketika melepaskan dunia dari hati Anda. —Bediüzzaman Said Nursî.

Itulah sebabnya, saudara-saudari sekalian, kita temukan dalam Alquran berulang-ulang kata “kedamaian” (salâm) dan ketentraman (thumaninah) tiga puluh satu kali. Sedangkan kata “kebahagiaan” (sa’âdah) tidak berulang kecuali dua kali saja dan kita temukan kata tersebut berulang ketika berbicara tentang surga dan hari akhir.

Dalam salat, kita juga mengucapkan salâm kepada Nabi Muhammad dan orang-orang saleh yang bersama kita, dan mengakhiri salat dengan assalâmu’alaikum (kedamaian bagi Anda). Begitu juga dengan ucapan salam islami assalamualaikum. Oleh karena itu kita temukan bahwa tujuan utama kita umat Islam adalah menemukan kedamaian dalam diri kita sendiri.

Kebahagiaan tidak ditemukan pada kondisi tertentu, tapi ada pada dia yang memiliki pendirian teguh dan menyesuaikan dengan kondisi luar. —Bediüzzaman Said Nursî.

Salah seorang yang menunjukkan kedamaiaan dalam diri ini adalah Ibnu Taimiyah dan dia memiliki ucapan yang indah. Dia mengatakan, “Apa yang bisa dilakukan musuhku kepadaku? Surgaku ada di dalam dadaku. Dia bersamaku ke mana pun aku pergi. Jika musuhku mengucilkan aku, tidak mengapa. Hal itu akan menjadi peluang bagiku untuk mengetahui luasnya tanah Sang Pencipta. Sujudku adalah istirahat. Jika mereka memenjarakanku hal itu akan menjadi peluang bagiku untuk sendiri bersama Tuhan untuk beribadah kepada-Nya. Dan dikematianku terdapat kesaksian untuk Tuhan.” Lihatlah bagaimana beliau mengubah cobaan berat menjadi peluang dengan kedamaian diri (salâm dakhilî) yang ada di dadanya.

Saya berdoa kepada Allah agar menanamkan kedamaian diri (inner peace) di setiap hati umat Islam di bulan yang penuh rahmat ini. Hanya Dia yang mampu melakukannya, Maha Suci Allah.

Ahmad Asy-SyaqiriSumber: Khawâthir Syâb merupakan acara yang pandu oleh Ahmad asy-Syaqiri di televisi Arab Saudi yang khusus mengupas kehidupan sehari-hari dunia Arab dan ditayangkan pada bulan Ramadan.

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2009

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s