510: Bus Sejuta Umat

untitled

Hari ini saya melakukan perjalanan jauh. Maksud saya, benar-benar jalan kaki. Setelah turun dari halte Makro Pasar Rebo, saya harus berjalan beratus-ratus meter, melewati Makro, melewati pintu tol Gedong Timur, melewati pom bensin hingga akhirnya halte. Hanya untuk menunggu bus berwarna kuning, sedikit garis hijau, sumpek, bertuliskan Ciputat – Kp. Rambutan bernomorkan 510.

Itu perjalanan kaki yang paling jauh. Hari Senin merupakan hari tersibuk dalam hal menunggu 510, terlebih di jam 07:00. Saya memang tidak sendiri, tapi ada ribuan—mungkin puluhan ribu, saya belum buat statistiknya—masyarakat lainnya dan juga ratusan teman-teman satu universitas yang biasanya berumah di daerah Jakarta Timur.

Sedikit tentang kampus saya yang diberi label oleh “orang-orang suci” sebagai kampus sarang liberal, cap tersebut tidak selamanya benar. Tidak selamanya karena mungkin memang ada. Tapi kampus ini terlalu “warna-warni”. Yang agak liberal? Mungkin ada. Yang ekstrim? Kayanya lebih banyak. Celana menggantung dan jenggot yang dipaksakan lebih sering menghiasi kampus ini. Tapi tidak ada yang lebih penting dari semua itu selain angka 510 bagi kampus ini.

Sayangnya, saya belum punya keberanian untuk mengabadikan kondisi di dalam bis ini. Tapi saya kasih waktu untuk Anda untuk memejamkan mata dan membayangkan: bis tua seperti kebanyakan lainnya, berwarna kuning, panasnya Jakarta, bau badan manusia berkeringat apalagi yang tidak pakai deo, penuh berdiri tiada celah (tengah bis diisi dua baris manusia yang menghadap ke jendela) dan tiada ampun bagi udara yang masuk, berdiri dengan kaki yang rapat bahkan terkadang harus menginjak kaki sendiri, dan ketika melaju kencang di tol, pintu bis ditutup rapat barulah terjadi transaksi.

Transaksi apa? Tentu bayar ongkos. Dengan tarif Rp 2.500 bagi umum dan Rp 2.000 bagi mahasiswa (dengan sedikit keberanian berkata, “Saya mahasiswa!” atau “Kampus!”). Cukup untuk menggambarkan betapa berartinya selisih Rp 500 bagi mahasiswa apalagi yang belum berpenghasilan.

Transaksi lainnya? 510 terkenal karena copetnya. Jadi harus waspada. Tips standar yang mesti diperhatikan: dompet dan hape taruh di tas, tas taruh di depan, konsentrasi, jangan lengah, pegang terus tasnya. Saya serius dengan saran ini, karena pengalaman. Minimal pengalaman kehilangan handphone. Saya kecopetan pas mau turun ada yang deketin saya. Jadi kalau ada yang pepet, deketin, nempel-nempel, langsunglah curiga. Pegang terus retsleting! Biasanya kenek sudah kasih tahu bahwa tas taruh depan, tapi nasihat “baik” ini menurut saya bukan sebagai peringatan, tapi agar lebih banyak lagi penumpang yang bisa masuk.

Dengan kondisi yang begitu mengkhawatirkan tapi masyarakat masih “suka-suka aja”. Konon, memang ini menjadi bis “paling cepat”, tidak sampai 2 jam lah dari Kp. Rambutan ke Ciputat Ketika penumpang berteriak, “Cepet Pir berangkat!”, “Udah penuh nih, emang kita kambing!”, ledekan penumpang lain, “Masih kosong tuh di atas!” seharusnya memang bukan salah kenek atau si supir. Masyarakat sendiri yang terlalu “rasional”. Inginnya cepat, itu saja. Coba jika masyarakatnya lebih berpikir, jika memang sudah penuh sampe ke ujung pintu seharusnya jangan naik lagi.

Inilah gambaran kecil dari transportasi di Jakarta, yang konon menjadi metropolitan atau megapolitan. Indonesia sendiri konon menempati peringkat 91 dari 131 negara soal infrastruktur transportasi. Tapi nasihat mahasiswa lain yang “beriman tinggi”, inilah perjuangan mencari ilmu. Perjuangan yang berat, Insya Allah berbuah hasil yang besar. Ilahi Amin Ya Karim.

Seorang pencari ilmu tidak mati dan akan menikmati kesungguhannya dalam menggapai cita-citanya (Nabi Muhammad SAW dalam Bihâr Al-Anwâr, 1/177)

Catatan: Reposting November 2008 dengan sedikit perubahan

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s