Salat Gaib Aktivis PMII karena "Matinya" Demokrasi

Tulisan ini bisa dilihat dari dua sisi; perbedaan atau persamaan. Perbedaan karena dari sisi fikih memang beda, tapi maknanya memiliki kesamaan. Tapi saya ingin mengajak kita semua melihatnya dari sisi persamaan. Bagaimana maksudnya?

Selepas salat Jumat di depan masjid kampus, pengurus masjid biasanya mengajak jemaah untuk melakukan salat gaib. Biasanya salat gaib ini dilakukan karena “pesanan” jemaah masjid atau karena ada anggota pengurus masjid atau keluarga dari pengurus kampus yang meninggal. Sudah jelas dari namanya bahwa salat gaib adalah mensalati jenazah yang tidak ada dihadapannya, artinya memang benar-benar gaib.

Para ulama Ahlussunah berbeda pendapat tentang hukumnya. Ada yang mengatakan salat gaib boleh pada setiap yang meninggal baik sudah disalati langsung atau belum, ada yang mengatakan salat gaib hanya dilakukan oleh Rasulullah, ada yang mengatakan salat gaib hanya untuk tokoh terhormat dalam Islam, ada juga yang mengatakan salat gaib hanya untuk yang tidak disalati secara langsung.

Saya sendiri setelah salat Jumat tidak ikut melaksanakan salat ghaib dengan alasan tidak adanya istilah “salat gaib” dalam fikih Ahlulbait. Tapi saya tidak sendirian karena banyak juga teman-teman dan jemaah lain yang tidak ikut salat gaib meski notabene mereka Ahlussunah (karena memang pada dasarnya hukum salat gaib adalah tidak wajib).

Lalu bagaimana dengan fikih Ahlulbait? Salat gaib memang tidak dikenal dalam fikih Ahlulbait meskipun jenazah berada dalam satu kota/negeri. Tapi ada sebuah salat yang (menurut saya) memiliki persamaan dengan salat ghaib yang dilakukan saudara-saudara Ahlussunah, yakni shalat wahsyah. Salat yang juga disebut sebagai salat hadiah ini dikerjakan pada malam hari setelah jenazah dikubur (dengan waktu afdalnya adalah setelah magrib).

Tata cara salat hadiah ini tentu berbeda dengan salat ghaib. Jumlahnya adalah dua rakaat; setelah Al-Fatihah rakaat pertama dilanjutkan dengan surah Al-Ikhlas dua kali dan rakaat kedua surah Al-Kautsar sepuluh kali. Juga bisa ditambahkan dengan dua rakaat terpisah, yakni setelah Al-Fatihah pada rakaat pertama dilanjutkan dengan Ayat Kursi dan rakaat kedua dengan surah Al-Qadr sepuluh kali.

“Tidak akan datang kepada si mayat satu masa yang lebih dahsyat dan mengerikan daripada awal malam setelah mayat dikuburkan. Maka kasihinilah mayat di antara kamu dengan bersedekah, jika kamu tidak memperolehnya, salatlah dua rakaat…” Wallahualam.