Lepaskanlah Apa yang Kita Cintai

Kalau di artikel sebelumnya saya mengatakan bahwa kedermawanan Maulana Ali Zainal Abidin berasal dari neneknya, Fatimah, maka kisah ini adalah bukti ucapan tersebut. Kisah yang mungkin sudah kita tahu, kita baca, dan masyhur, tapi masih saja sangat sulit bagi manusia serakah seperti saya untuk melakukannya.

Maksudnya, sulit bagi kita untuk melakukan kebaikan secara total. Inilah pribadi Sayidah Fatimah yang telah Allah jadikan contoh bagi ayat: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Âli ‘Imrân: 92). Mari kita ingat kembali cerita ini demi memperoleh syafaat Sayidah Fatimah dihari-hari dukanya.

Setelah salat, Rasulullah duduk bersama sahabatnya. Tidak lama datanglah seorang Arab pegunungan yang sudah tua, berpakaian kotor serta banyak tambalannya sambil berkata, “Wahai Rasulullah, aku lapar sekali! Tolong beri aku makan. Aku tak punya pakaian selain yang aku pakai…”

Lalu Rasulullah berkata, “Sayangnya aku tidak punya apa-apa. Tapi orang yang menunjukkan kebaikan sama dengan orang yang melakukannya. Pergilah ke orang yang dicintai Allah dan rasul-Nya. Ia lebih mengutamakan Allah daripada dirinya sendiri. Dialah Fatimah. Rumahnya dekat dengan rumahku…”

Sampai di depan rumah Fatimah, orang tua itu berteriak, “Wahai ahlulbait rasul, penghuni tempat yang sering didatangi malaikat, tempat Jibril menurunkan wahyu…!” Mendengar itu, Fatimah langsung keluar dan bertanya keperluan orang tua itu.

“Aku orang tua pegunungan. Aku telah mendatangi ayahmu dan menyuruhku ke sini. Wahai putri nabi, aku lapar. Beri aku makan dan pakaian. Semoga Allah merahmatimu.” Mendengar permintaan itu, Fatimah bingung dan cemas karena dia sendiri sudah tiga hari puasa dan tidak punya makanan untuk berbuka.

Fatimah masuk ke rumahnya dan mencari benda apa yang bisa dikasihkan. Hanya ada selembar kulit kambing untuk alas tidur putranya. Menerima pemberian itu, orang tua itu heran dan kecewa, karena ia sedang lapar tapi malah diberi selembar kulit kambing. “Wahai putri nabi… Apa yang bisa aku lakukan dengan kulit ini?”

Fatimah semakin terharu, malu dan heran mengapa ayahnya menyuruh orang itu ke rumahnya, padahal ia sendiri hidup dalam kekurangan. Setelah merenung, Fatimah teringat benda yang tersimpan, paling berharga dan milik satu-satunya yang disayangi: kalung hadiah dari bibinya, putri Hamzah bin Abdul Muthalib.

Melihat pemberian kalung, orang tua itu sangat senang bercampur heran. Sambil tersenyum orang tua itu kembali ke masjid menemui Rasul. Orang tua itu berkata bahwa saat memberi, Fatimah berkata, “Mudah-mudahan Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.” Mendengar itu Rasulullah langsung berlinangan air mata.

Amar bin Yasir segera berkata, “Wahai Rasul, bolehkah aku membeli kalung itu?” Rasul menjawab, “Belilah kalau engkau mau.” “Berapa engkau jual?” tanya Ammar kepada orang tua itu dan dijawab, “Seharga beberapa potong roti dan daging yang dapat aku makan, kain dan ongkos aku pulang…”

Setelah Amar membeli kalung itu dengan harga yang tinggi, orang tua itu merasa senang sekali. Maka rasul saw. berkata, “Balaslah kebaikan Fatimah.” Orang tua itu lalu berdoa, “Ya Allah, tiada yang kusembah selain Engkau. Berilah Fatimah sesuatu yang tidak pernah dilihat mata dan tidak pernah didengar telinga…”

Mendengar doa itu, Nabi berkata kepada para sahabatnya:

“Sesungguhnya di dunia ini Allah telah memberi karunia kepada Fatimah seperti apa yang didoakan oleh orang itu. Fatimah mempunyai ayah seperti aku, utusan Allah kepada semesta alam. Suami seperti Ali bin Abi Thalib, tiada lelaki yang menandinginya. Allah telah memberikannya dua putra, Hasan dan Husain, tiada anak yang menandinginya…”

Di rumahnya, Amar membungkus kalung yang dibelinya itu dan memberikan kepada budaknya, Saham, untuk diberikan kepada Rasul dan Saham pun diberikan kepada Rasul. Ketika Rasul menerima, ia perintahkan Saham ke rumah Fatimah dan memberikan Saham kepada Fatimah.

Ketika Saham sampai di rumah Fatimah, betapa senangya Fatimah menerima kalungnya kembali dan bersyukur kepada Allah. Kepada Saham, Fatimah berkata, “Engkau mulai hari ini tidak menjadi hamba sahaya, tapi telah kumerdekakan!” Betapa gembiranya Saham hingga tertawa.

“Aku tertawa karena merasakan betapa berharganya kalung itu: mengenyangkan orang lapar, menutupi aurat orang yang hampir telanjang, membuat orang miskin menjadi kaya… dan sekarang kalung itu telah memerdekakan seorang budak!”

One thought on “Lepaskanlah Apa yang Kita Cintai

  1. itu adalah ujian terberat. namun z juga selalu mengharap suatu saat bisa menjadi wanita seperti Aisyah, Khadijah dan Fatimahh. Aminnnn!!!

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s