Bank Syariah: Saatnya Pelayanan!

Beberapa bulan yang lalu, waktu saya membantu input riset data masyarakat tentang pendirian sebuah bank syariah, beberapa masyarakat non-Muslim masih ada yang menolak. “Itu banknya orang Islam” atau “Saya bukan muslim” merupakan kalimat yang biasa diungkapkan. Hal seperti itu sebenarnya tidak terlalu mengherankan, karena umat Islam pun masih ada yang beranggapan bahwa bank syariah itu “bunganya” rendah bahkan sama saja dengan bank konvensional.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi terbangunnya pemikiran pada kedua masyarakat tersebut yang tentunya bersumber dari kurangnya informasi. Kalau dimulai dari awal, kekerasan di beberapa negara yang mengatasnamakan Islam bisa menjadi sebab. Kata “islam” menjadi identik dengan radikalisme, sehingga iB (Islamic Banking) pun diterjemahkan menjadi perbankan syariah (bukan perbankan Islam). Sedangkan dari dalam, kaum muslim pun masih ada yang alergi dengan kata “syariah”.

Mungkin karena hal-hal seperti, sudah tujuh belas tahun sejak bank syariah pertama beroperasi di Indonesia, marketshare-nya belum menginjak angka 3 persen jika dibandingkan dengan bank konvensional. Bahkan meskipun Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa bahwa bunga bank adalah haram (meski terkesan terlambat), toh tetap tidak berpengaruh pesat terhadap perkembangannya dan umat Islam tidak segera memindahkan dananya.

Sebagai sebuah industri, perbankan syariah tetaplah sebuah bank dan memiliki sifat dasar bank sebagai lembaga mediasi keuangan—dan bukan lembaga non-profit. Sedangkan label “syariah” mencerminkan mekanisme dan operasional yang berbeda, terlebih mempunyai spirit keadilan yang berbeda. Melihat dua contoh tersebut di atas, bukan saatnya lagi bank syariah membawa misi “bank halal” tetapi memberikan service yang memuaskan dan kemudahan bagi masyarakat.

Coba saja kita lihat praktik rente. Mengapa zaman sekarang masih ada saja orang yang mau pinjam ke rentenir? Karena di awal calon debitur akan diberikan pelayanan dan kemudahan. Masyarakat tidak akan pikir panjang mengenai bunga yang mencekik, asalkan uang yang dibutuhkan cair. Sedangkan bagi masyarakat menengah ke atas, yang dibutuhkan adalah pelayanan yang cepat. Maka banyak syariah harus didukung dengan sistem teknologi informasi yang tidak kalah dengan bank konvensional.

Ada satu hal lagi yang tak kalah penting. Waktu inputing data tersebut, beberapa masyarakat juga mengeluhkan jumlah kantor bank syariah yang sedikit. Saya pernah coba bikin polling kecil-kecilan di sebuah forum diskusi. Alasan mereka tidak menabung di bank syariah pun sama, yaitu karena bank konvensional lebih dekat di rumah. Dari hal seperti itu ada dua hal yang harus dilihat dan diakui: pertama, sifat masyarakat yang selalu ingin dilayani dengan kemudahan dan kedua, kenyataan bahwa jumlah jaringan kantor bank syariah masih kurang. Di akhir tahun 2009 ini, bank dengan jumlah ATM terbanyak di Indonesia akan membuka cabang syariahnya dan alasan seperti itu harusnya tidak lagi ada.

Dengan bermodalkan mekanisme dan operasional yang adil, bank-bank di Eropa dan Amerika Serikat milik non-muslim pun membuka cabangnya dengan prinsip syariah. Dengan bermodalkan pelayanan yang baik, masyarakat dari golongan apapun pasti juga akan mendukung bank syariah tanpa melihat “banknya orang Islam” atau “bank halal”. Dengan jaringan yang luas, semua kalangan akan terbantu. Melihat target Bank Indonesia yang masih meleset dan market-share yang masih kecil, ukuran sukses bank syariah bukanlah semata-mata aset atau jumlahnya, tapi sejauh mana bank syariah bisa lebih bermanfaat untuk semua orang. Wallahualam.

One thought on “Bank Syariah: Saatnya Pelayanan!

  1. Pingback: IB Blogger Competition» Blog Archive » Bank Syariah: Saatnya Pelayanan

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s