Gosip miring tentang Iran dan hal yang terkait dengan Iran bahkan dunia Islam sudah bukan barang baru. Terlebih dilakukan oleh media massa Barat dan sengaja atau tidak oleh media massa yang mengatasnamakan Islam.

Sejak Revolusi di Iran tahun 1979, media massa menyebut Revolusi Iran sebagai revolusi Syiah yang membahayakan dunia Islam, diserang dalam Perang Teluk, isu nuklir untuk senjata pemusnah massal, bahkan membuat gosip baru bahwa Ahmadinejad keturunan Yahudi.

Pemainnya kali ini adalah Telegraph.co.uk, dan media massa di Indonesia khususnya yang mengatasnamakan Islam, yang mengutip darinya, menjadi heboh bahkan beberapa di antaranya senang. Padahal berita tentang nama Saburjian sudah ada sejak tahun 2005 di Guardian.

Ketika Ahmadinejad (dan semua umat Islam) membenci Zionis Israel, media Barat menyebutnya sebagai anti-Semit. Apa kita tidak bisa membedakan antara Yahudi dengan Zionis Israel?! Tidakkah kita tahu ada cukup banyak Muslim Yahudi di Amerika Serikat? Kenapa media Barat tidak memberitakan bahwa ibu Ahmadinejad adalah keturunan Nabi Muhammad?

Dibalik Nama Saburjian Ahmadinejad

Oleh: Alireza Alatas (Jurnalis IRIB)

Isu Mahmoud Ahmadinejad, sebagai keturunan Yahudi menjadi bahan baru media-media Barat untuk memojokkan Presiden Republik Islam Iran ini. Fenomena ini adalah bagian dari propaganda miring terhadap Iran. Isu itu pada dasarnya tidaklah penting, tapi tiba-tiba menjadi perhatian ekstra di nusantara setelah beberapa media lokal mengangkat isu tersebut.

Akhirnya, saya pun tertarik mendiskusikan masalah ini dengan beberapa rekan asal Iran. Dalam diskusi saya dengan Qanaatgar, saya menanyakan nama Saburjian yang diklaim media Barat sebagai nama lama Ahmadinejad. Dalam penjelasannya, Qanaatgar mengatakan, ada kemungkinan bahwa Saburjian itu adalah nama pasvand. Istilah pasvand itu berbeda dengan nama khanevadeh (nama famili). Menurut Qanaatgar, nama pasvand jarang sekali dipakai di Iran, bahkan bisa jadi hanya 10 persen warga Iran yang menggunakannya. Nama pasvand kadang berhubungan dengan latar belakang seseorang, yang bisa jadi itu adalah nama pekerajaan nenek moyangnya atau tempat tinggalnya.

Di Iran, nama famili adalah sebuah kelaziman. Warga Iran selain mempunyai nama kecil, juga memiliki nama keluarga. Di negara ini, memanggil nama keluarga adalah bagian dari etika. Hanya teman dekat yang bisa memanggil nama kecil.

Masih mengenai nama pasvand, ada teman kerja saya bernama Jourab Duzd. Saya terkadang geli mendengar nama itu karena artinya adalah “penjahit kaos kaki”. Ternyata, nama itu adalah nama pasvand yang berhubungan pekerjaan nenek moyangnya sebagai penjahit kaos kaki. Sekarang, dia mengganti namanya dengan Khedmat Jou yang artinya “pencari khidmat”. Karena menurutnya, nama Jourab Douzd sudah tidak relevan. Menurut istrinya, nama itu harus diganti karena bisa jadi bahan cemoohan teman-teman anaknya.

Lebih lanjut Qanaatgar menjelaskan bahwa dirinya juga mempunyai nama pasvand Lemudahi. Tapi nama pasvand itu sudah tidak digunakan lagi karena itu adalah nama tempat tinggal yang ia tidak pernah mengunjunginya, bahkan bisa jadi sudah tidak ada lagi. Untuk itu, nama pasvand Lemodahi dianggap tidak relevan lagi. Qanaatgar adalah nama khanevadeh (nama famili)nya, sedangkan nama kecilnya adalah Mohammad.

Satu hal yang menarik lagi, mereka ketika mengganti nama harus meminta izin kepada instansi resmi yang bertugas mendata warga (Sabte Ahval). Terkadang seseorang yang ingin mengganti nama, tidak disetujui oleh Sabte Ahval, karena nama yang dipilih bisa menjadi hak paten keluarga tertentu. Sebagai contoh, Yaser, salah satu rekan di IRIB, mempunyai nama pasvand Shuri yang berartikan “ceria”. Dia juga menghapus nama pasvandnya dan menambahkan namanya dengan Mousavi. Meski dia seorang sayyid (keturunan Rasulullah saw), tapi Sabte Ahval tidak mengizinkan penggantian nama itu ke Mousavi, kecuali dia harus meminta izin kepada Ayatullah Mousavi Hamedani. Akhirnya, Yaser menambahkan nama Mousavi itu dengan Neya. Dengan cara itu, ia tidak perlu lagi meminta izin kepada Ayatullah Mousavi Hamedani. Ia sekarang pun dikenal dengan nama Sayed Yaser Mousavi Neya.

Hal yang sama juga dialami Jourab Douzd yang mau mengganti namanya dengan Hakekat Jou yang berartikan pencari hakekat. Tapi nama itu ternyata sudah dimiliki oleh sebuah keluarga besar di Iran, sehingga dia harus meminta izin kepada keluarga itu. Karena tidak mau repot, dia akhirnya mengganti nama dengan Khedmat Jou.

Sabte Ahval di Iran sepertinya berfungsi menjaga kultur keluarga. Kondisi ini kadang membuat repot warga asing yang melahirkan anaknya di negara ini. Maftuhin, teman asal Indonesia yang juga rekan di kantor, mengalami problema itu. Ia memberi namanya dengan nama Mohammad Zaki. Nama Zaki itu dipermasalahkan oleh pihak Sabte Ahval yang mungkin dianggap nama khanevedeh yang tidak pas dengan kultur Iran. Sabte Ahval sempat mengusulkan supaya mengganti nama anaknya. Setelah Maftuhin memberikan penjelasan, pihak Sabte Ahval akhirnya dapat memahami. Bahkan ada bebrapa nama keluarga di Iran seperti Noukari (budak) yang bakal dilarang Sabte Ahval untuk digunakan.

Nama Saburjian yang diimbuhkan pada Ahmadinejad kemungkinan adalah nama pasvand yang dianggap tidak relevan lagi. Indikasi kuat menyebutkan bahwa Saburjian adalah nama tempat yang bisa jadi tidak dikenal, bahkan sudah tidak ada lagi di Iran. Untuk itu, ada kemungkinan nama Saburjian itu dihapus oleh Ahamdinejad karena dianggap tidak relevan.

Hingga kini, saya belum mendapatkan keakuratan berita tersebut; Apakah Ahmadinejad benar-benar mempunyai nama itu dan menghapus nama itu? Kalaupun itu dilakukan oleh Ahmadinejad, maka itu adalah hal yang wajar, bahkan sudah menjadi tradisi masyarakat negara ini. Namun hal yang menjadi masalah adalah pengaitan nama itu dengan keluarga Yahudi yang dilaporkan media massa Barat. Penggantian nama itu (jika benar) sengaja dipelintir media massa Barat untuk memojokkan Ahmadinejad dan menghubungkannya sebagai keluarga Yahudi. Presiden Republik Islam Iran mempunyai nama kecil, Mahmoud, sedangkan nama keluarganya adalah Ahmadinejad.