Kenali Bumi Tempat Kita Hidup!

Pertanyaan penting pertama adalah kenapa bumi diciptakan? Dalam surah Thâha ayat 53, Alquran menyebutkan: “(Dia) yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan.” Allamah Thabathabai dalam tafsir al-Mîzân (14/171) menjelaskan: “Kemudian Allah menempatkan manusia di bumi untuk menghidupkan kehidupan dunia, sehingga mereka dapat memperoleh ketetapan bagi kesenangannya dan kehidupannya yang agung; seperti seorang bayi yang ditempatkan dalam buaian dan membawa naik kepada kehidupan yang lebih mulia…”

Dari sini kita bisa menyadari bahwa bumi telah diciptakan sebagai sebuah lahan persiapan dan alat bagi kesempurnaan manusia serta kesucian hatinya. Kelirunya, banyak orang yang tidak menjaga dunia untuk akhirat yang lebih baik, namun justru menghancurkannya demi keuntungan pribadi.

Apakah Manusia sudah Memanfaatkan Bumi sebagaimana Tujuan Penciptaanya?

Dalam surah ar-Rûm (30: 41), Alquran sudah berbicara dengan jelas tentang orang-orang yang seharusnya bersyukur kepada Allah swt. dengan memanfaatkan bumi untuk tujuan utamanya, tapi malah menyebabkan kerusakan dan setelah itu menghadapi konsekuensi perbuatannya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Dan di dalam surah al-A’râf (7: 10), Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” Kalimat “amat sedikitlah kamu bersyukur” tidaklah selalu dimaknai syukur dengan lisan, karena kenyataannya syukur yang benar adalah memanfaatkan karunia sebagaimana tujuan penciptaannya.

Apa Kewajiban Kita untuk Bumi Saat Ini?

Sejak awal, jawabannya sudah jelas: karena bumi diciptakan untuk meraih kesempurnaan manusia, kita harus membuat keputusan tegas dengan memanfaatkan bumi semata-mata untuk hal tersebut. Bukan berarti kita menghentikan kemajuan ilmu pengetahuan, karena ventures juga sebuah media dalam membantu mengembangkan bumi. Tapi menciptakan solusi dalam memanfaatkan bumi sebagai alat untuk meraih kesempurnaan manusia, mengharuskan kita untuk memiliki pemahaman yang baik tentang bagaimana memanfaatkan bumi dan sumber dayanya dengan baik… dan wahyu (Tuhan) merupakan sumber terbaik dalam mengarahkan kita tentang hal ini.

Pertama kita harus mempelajari unsur-unsur yang bertanggung jawab bagi kerusakan dunia baik secara fisik maupun spiritual. Selama kita tidak mencari akar masalahnya, sekuat apapun usaha kita untuk merubah akan sia-sia. Selama kita berusaha, kita harus tetap berdoa dengan rendah hati agar Allah Swt. dapat menjaga usaha kita (istiqamah) sehingga dapat menyelesaikan dan melepas diri kita dari kelompok yang tidak bertanggung jawab atas krisis bumi ini.

Akar Masalah

Berbagai seminar dan diskusi tentang krisis bumi telah, sedang, dan akan terus diselenggarkan di berbagai tempat. Perayaan seperti “Hari Bumi” juga diperingati agar masyarakat menyadari bahaya yang dihadapi bumi. Pecinta lingkungan telah menyebutkan beberapa masalah. Tulisan yang singkat ini tidak mungkin menyebutkannya satu per satu. Di antara masalah yang mereka sebutkan adalah:

  1. Menipisnya lapisan ozon (yang berperan seperti layar yang melindungi bumi dari radiasi sinar ultra-violet berbahaya). Hal ini berkaitan dengan penggunaan barang-barang yang mengandung gas CFC (chlorofluorocarbon). Di antara dampak bahaya menipisnya ozon adalah kanker kulit, penyakit mata, pemanasan global (global warming), dan seterusnya.
  2. Pencemaran air. Hal ini berkaitan dengan pembuangan limbah industri ke air tanah. Sikap egois dan kapitalistik para produsen dan pengusaha pabrik menimbulkan rasa tidak peduli akan risiko kesehatan bagi mereka yang mengkonsumsi air. Karena sudah jelas bahwa penggunaan air yang terkontaminasi memiliki risiko dan berbahaya bagi kesehatan.
  3. Pencemaran udara melalui limbah industri dan unsur lainnya. Bagi mereka yang ingin lebih tahu lebih jelas tentang masalah lingkungan dapat mencari di ensiklopedia dan internet.

Tapi sebenarnya kita punya pertanyaan mendasar bagi diri kita sendiri: Apa akar masalah dari sikap bodoh yang menyebabkan polusi lingkungan? Jika kita bisa menjawabnya, maka kita mampu menghargai bumi, mengurangi bahkan mungkin menghapus krisis ekologi yang terjadi di bumi yang terzalimi ini.

Alasan mendasar bagi terjadinya krisis ini adalah pandangan-dunia (world view) yang keliru serta pemikiran yang sempit tentang dunia ini. Selama manusia tidak memahami hakikat hidup ini, tujuan penciptaannya, dan hubungan antara Pencipta (khalik) dan yang diciptakan (makhluk), maka ia tidak pernah bermurah hati pada dirinya sendiri serta membiarkan bumi ini rusak. Bumi sejatinya adalah alat bagi tujuan penciptaan, yakni perantara dan kedekatan dengan Allah Swt.

Hal ini juga berhubungan dengan ketidaktahuan kita tentang fakta tersebut atau kurangnya ketaatan dalam diri kita yang menyebabkan kekacauan di bumi yang fana ini. Faktanya, mengapa para aktivis yang berjuang bagi “lingkungan fisik” harus melupakan “lingkungan spiritual”? “Polusi spiritual” lebih terlupakan dari pada polusi fisik. Terlebih, polusi spiritual merupakan penyebab terjadinya polusi fisik. Kesimpulannya, dua alasan yang mungkin menyebabkan kerusakan yang ada di bumi ini:

  1. Kesalahan pandangan terhadap realita: tidak percaya akan Tuhan, wahyu, kehidupan akhirat, dan memiliki keyakinan buatan yang berlawanan dengan sifat alami manusia. Kecenderungan seperti ini diikuti oleh penilaian yang salah, yang datang sebagai hasil dari ketidaktahuan metode yang tepat dalam meraih kebenaran. Ketika seseorang memiliki pandangan yang salah dan tidak mengetahui makna kehidupan, dia akan melakukan apapun yang egonya kehendaki. Dia akan cenderung mengabaikan ketentraman (makhluk) lainnya.
  2. Pengabaian bagi mereka yang beriman: Jika orang beriman yang memiliki pendirian yang kuat tentang keyakinannya ia akan tetap tabah dalam menjalani perintah Allah Swt., bumi akan menjadi tempat yang tentram. Bertentangan jika ia mengikuti keinginannya dengan mengalahkan pemikirannya serta memiliki kelemahan dalam keyakinannya; dia akan membuat bahaya, tidak hanya bagi manusia tapi seluruh makhluk yang hidup di bumi.

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2009

Gambar: Earth Day oleh rawrrrr-321

Baca Juga:

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s