Jelas Nabi Muhammad Bukan Seorang Paedofil

Bukan hal baru kalau Nabi Muhammad saw. dihina. Berbagai jenis penghinaan sudah beliau terima bahkan sejak masa kehidupan beliau yang penuh kemuliaan. Meskipun fatwa hukuman mati terhadap Salman Rushdie yang dikeluarkan Imam Khomeini masih terus berlaku hingga saat ini, Daniela Santanchè, seorang aktivis gender Italia melanjutkan penghinaan tersebut dengan mengatakan bahwa nabi seorang paedofil.

Santachè yang muncul dalam debat melawan presiden Islamic Center Milan, Ali Abu Shwaima, di stasiun Canale 5 mengatakan, “Muhammad itu poligamis dan pedofil karena dia punya sembilan istri, dan salah satu istrinya berusia 9 tahun, dan itu merupakan fakta sejarah.” Ketika penonton marah, Santachè mengulangi emosinya dengan membentak, “Bagi kami, Muhammad adalah seorang paedofil!”

Anehnya, acara tersebut juga membahas tentang boleh tidaknya memasang salib di kelas-kelas Italia setelah dilarang oleh Pengadilan Eropa perihal hak-hak kemanusiaan. Ketika Santachè menghina Nabi Muhammad saw., Shwaima justru mengatakan bahwa salib tidak perlu disingkirkan dari kelas-kelas di Italia, karena, “Bagi kami, Kristus merupakan salah satu dari lima nabi utama dan kami menghormati beliau, begitu juga tanda salib.” (Lihat: adnkronos)

Silakan kita menilai, mana orang yang sebenarnya beragama dan mana yang tidak? Atau, mana yang manusia (sebenarnya) dan mana yang tidak?

Tapi itu bukan inti dari tulisan ini. Ketika orang seperti Salman atau Santachè membicarakan tentang sejarah pernikahan Nabi Muhammad saw. dengan Aisyah, memang itu sebuah fakta riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab ahlusunah. Terlebih riwayat tersebut ada di kitab sahih milik Bukhari yang dianggap paling sahih setelah Alquran (menurut ahlusunah). Apa karena riwayat tersebut “terlanjur” ada di kitab sahih lantas kita telan bulat-bulat?

Benarkah Aisyah Menikah Umur 6 Tahun?

Ternyata tidak sedikit peneliti muslim yang meragukan riwayat tersebut. Allamah Habiburrahman Siddiqui Kandhalvi (Pakistan) dalam bukunya “Age of ‘Aisha” menyangkal sejarah pernikahan Aisyah seperti yang diriwayatkan Bukhari. Begitu juga dengan Dr. Reşit Haylamaz (Turki) dalam artikelnya berjudul “At what age did Aisha marry the Prophet?” pada tahun 2008. Sedangkan cendikia Indonesia, dr. O. Hashem telah menerbitkan karya terakhirnya berjudul “Benarkah Aisyah Menikah dengan Rasulullah saw. di Usia Dini?” (Mizan, 2009). Meskipun ada juga peneliti muslim yang mencoba membantah karya-karya tersebut dengan dalih hadis tersebut “pokoknya” ada di dalam Shâhîh Al-Bukhârî.

Hadis-hadis yang menceritakan tentang pernikahan Ummul Mukminin Aisyah berumur 6 tahun; kegemaran Aisyah bermain boneka bersama teman-temannya; atau Rasul yang melihat Aisyah dalam mimpi, bersumber dari Hisyam bin Urwah bin Zubair bin Awwam. Neneknya Hisyam adalah Asma binti Abu Bakar. Hisyam lahir di Madinah pada tahun 61 H dan pada tahun 131 H pindah ke Irak untuk mendapatkan uang karena ia terbelit utang setelah pernikahan putrinya.

Waktu masih di Madinah ia mengajar dan salah satu muridnya adalah Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Kedua imam ahlusunah ini tidak meriwayatkan hadis tentang pernikahan Aisyah. Hal ini menunjukkan Hisyam meriwayatkan hadis tersebut di Irak. Ahli jarh wa ta’dîl menganggap riwayatnya terpecah dua; waktu di Madinah dianggap dipercaya sedangkan waktu di Irak dianggap tidak dipercaya. Usia yang tua saat di Irak juga mengindikasikan Hisyam sudah pikun. Ahli hadis seperti Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi pun kemudian meragukannya.

Argumen lain adalah riwayat bahwa Aisyah telah memilih Islam pada awal kenabian dan masuk urutan penganut nomor 18. Kalau misalkan saat itu Aisyah berumur 7 tahun, yakni ketika sudah bisa memilih agama apa yang benar, maka ia masuk Islam ketika Nabi berumur 40 tahun. Nabi menikah dengan Aisyah pada umur 51 tahun, sehingga usia Aisyah masa pernikahan 7+(51-40)= 18 tahun dan kumpul saat usia 21 tahun. Tentu hal ini didukung dengan riwayat lainnya (seperti Aisyah ikut Perang Badar) yang tidak akan saya cantumkan seluruhnya di sini.

Semoga pengantar ini membuat kita lebih kritis lagi terhadap sejarah. Terlebih penting, riwayat dan kisah tentang pernikahan Nabi saw. dengan Umulmukminin Aisyah tidak dijadikan dalih untuk menikahi wanita di usia dini, seperti kasus yang pernah terjadi di Indonesia! Wallahualam.

7 thoughts on “Jelas Nabi Muhammad Bukan Seorang Paedofil

  1. Yuph begitulah adanya.. penghinaan demh penghinaan terus dilancarkan pihak tertentu kepada beliau. Entah karena faktor apa, mungkin salah satunya karena faktor kecemburuan sosial dimana beliau adalah salah satu orang yang paling berpengaruh di dunia! Biarkan saja anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, begitu mulia beliau sehingga karena sifatnya tersebut, beliau banyak mendapaat cercaan dari kritikus2 kafir laknatullah!! Tulisan yang bagus, tukeran link yach endraithuujelek.wordpress.com

  2. Memang, kebanyakan dari Hadis Riwayat Imam Bukhari, kurang akurat dan kurang Ilmiah, jadinya penghinaan2 tentang islam, selalu bersumber pada hadist tersebut. Allahu a’lam

  3. Hmmm aku ga maw banyk koment, hal seperti ini udah sering terjadi, kyknya orang itu entah iseng, kurang kerjaan, atau memang mau mengadu domba, sebagai umat Allah SWT, marilah kita saling mnghargai satu dengan lain, biarkan mereka, azabnya akan datang menimpa mereka…

    Salam kenal..

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s