Sudahkah Anda Siap Pergi Haji?

Oleh: Madiha Zaidi

“Yallah Hajji!” adalah salah satu kalimat terkenal yang jamaah haji kita bawa sebagai kenangan selama masa haji mereka. Tapi ada hal yang lebih penting dari sekedar kalimat bahasa Arab dan beberapa fast-food halal unggulan yang dikenang dari perjalanan spiritual ini; meskipun keduanya adalah nilai tambah! Walau saya secara pribadi belum pernah pergi haji sebelumnya; saya punya keluarga dan teman yang sudah pernah. Saya sudah diberkahi untuk melaksanakan umrah dan ada begitu banyak hal menarik tentang pengalaman itu.

Dalam Islam hal tersebut ditekankan untuk dilakukan sesegera mungkin, dan juga diwajibkan, jika Anda mempunyai harta dan dewasa (baligh). Sering kali kita mendengar pemuda-pemudi Muslim kita mengatakan mereka akan pergi ketika sudah menikah, atau ketika mereka sudah tua, dan itu artinya mereka belum “siap”. Kelihatannya kalau kita menjadikan haji sebagai sebuah tugas (beban?), kita jadi seperti menjalani ujian tertentu. Kita mengetahui betapa sulitnya hal ini, untuk menanamkan kepada orang banyak, betapa panas—ketika musim panas—yang tak tertahankan, dan bahkan betapa sulit karena banyak hal yang “boleh” dan “tidak boleh” dilakukan saat haji.

Kita harus mengambil waktu dan berpikir ulang mengapa Allah Swt. menjadikan hal ini sebagai kewajiban bagi kita. Kenapa Dia ingin agar kita, sekali seumur hidup, melakukan perjalanan ini, dan berputar (tawaf) mengelilingi Kakbah suci? Dan jika saya berusia sekitar 23 tahun dan mampu, kenapa saya harus pergi sendiri dan tidak pergi ketika saya sudah menikah atau ketika saya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Mari kita merenung tentang segala ritual indah haji dan bertanya kenapa semua itu begitu penting untuk dilakukan sesegera mungkin, bahkan selagi muda.

Ketika haji, kita mengenakan ihram; berpakaian putih sederhana agar menyerupai pakaian kematian kita (kafan). Ihram menjadikan kita sama dengan jutaan orang di samping kita atau keluarga lemah di depan kita. Hal ini mewakili nilai Islam sesungguhnya tentang persamaan dan kesederhanaan. Saat ini banyak anak muda yang sibuk mengejar uang agar mereka bisa membeli produk terkenal, mengendarai mobil mahal, dan agar lebih baik dari pada orang lain.

Pengalaman ini membawa pikiran kita ke tingkat tertentu. Memikirkan syarat kesederhanaan dan persamaan, bahwa setiap orang tidak diadili dan tidak akan diadili pada Hari Pengadilan karena produk terkenal, tapi karena tingkat keimanan mereka. Ada di tingkat mana mereka berani menjalankan perintah haji sesegera mungkin? Atau apakah mereka terlalu sibuk mengumpulkan hal-hal material dan menunggu melakukannya esok hari padahal tidak ada jaminan akan terjadi?

Perbuatan lain yang seseorang harus lakukan untuk menyelesaikan perjalanan spiritual ini adalah melempar batu ke arah “setan”. Dari pada kita “melempar batu” kepada orang tua kita dan cobaan dalam hidup; kita harus melihat setan sesungguhnya yang menjauhkan diri kita dari berbuat adil, kasih sayang, dan memaafkan orang yang Sang Pencipta anugerahkan kepada kita. Kita harus mulai melempar batu ke arah hasrat dan keinginan kita, pekerjaan kita yang mengambil banyak waktu dari keluarga dan masyarakat, kebencian kita terhadap saudara, dan daftar panjang lainnya.

Sering kali kita melihat para pemuda yang memulai perjalanan spiritual ini, kemudian kembali dengan tujuan dan pola pikir yang baru dan segar tentang bagaimana menjalani hidup mereka, mendedikasikan untuk Islam dan menjadi lebih saleh. Sering kali kita melihat para pemuda yang pergi dan menjadi sangat terpikat pada aspek fisik haji, namun cenderung melupakan simbolisme. Faktanya inilah suatu masa, di mana seluruh umat Muslim berkumpul bersama, di Rumah Tuhan, bertemu orang baru, berbicara tentang isu yang terkait dengan mereka, dan saling membantu melalui perjuangan. Ini semua merupakan hal-hal yang luar biasa. Banyak pemuda terlalu melibatkan diri mencari cara untuk menyentuh Hajarul Aswad—tentu saja tidak masalah bahkan mungkin hal penting—tapi bagaimana dengan menyentuh hati saudara-saudari kalian? Bagaimana dengan menolong lelaki atau perempuan tua untuk melakukan tawaf? Dalam pikiran Anda, mana yang lebih penting dari dua hal di atas dalam kerangka haji ini? Semua ini hanya bahan pemikiran, bukan suatu fakta.

Para pemuda yang suka bersosialisasi harus mengambil kesempatan ini, jika mampu untuk pergi haji sesegera mungkin. Disamping mempelajari tata cara dan aturan fikih, tidak ada cara lain untuk menyiapkan haji ini. Apa kita mengira mereka yang meninggal saat berdesak-desakan beberapa tahun lalu sudah siap? Apa kita mengira mereka tidak khawatir tentang pekerjaan atau harta mereka? Tentu saja, tapi haji adalah sebuah perjalanan spiritual, bagi seseorang yang merasakan kehilangan dan kebingungan, sebagaimana mereka pelajari dan sadari setiap aktivitas yang mereka lakukan beberapa hari itu, dan jika mereka benar-benar dan sungguh-sungguh merenungkan hal itu, mereka hanya akan diisi dengan kekaguman.

Banyak pemuda telah diberkahi untuk pergi dalam usia muda, dan kembali merasakan ilham dan diharuskan untuk menjadi Muslim yang lebih baik. Setiap orang diwajibkan untuk lebih mengetahui tentang agamanya, agar hidup mereka lebih baik, dan sebagai imbalannya mengajari yang lain tentang Islam. Banyak pemudi yang tidak mengenakan jilbab, kemudian kembali dan secara alami merasakan keinginan untuk mengenakan jilbab. Banyak pemuda yang telah pergi, dan mencurahkan segenap hatinya kepada Allah Swt. dan kembali tanpa hasil kecuali jawaban atas doa mereka. Siapa yang mau kehilangan kesempatan dalam mendapatkan catatan bersih?

Kepada para pemuda yang tidak yakin mengapa Allah Swt. telah memerintahkan kita pada ritual ini, jalankan, rasakan pengalaman ini, dan cari tahu sebabnya. Kita tidak bisa sangsi, berpikir, dan tidak berbuat apa-apa untuk menemukan jawaban itu. Karena ketika kalian melihat Kakbah untuk pertama kalinya, perasaan takjub dan luar biasa ada di hati kalian. Dan ketika kalian mengelilingi bangunan suci itu, perasaan tak terjelaskan atas kepercayaan dan cinta pada agama akan mengalir ke hati kalian.

Semoga Allah Swt. merahmati setiap Muslim dengan kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun ini dan setiap tahun!

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2009

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s