Bukankah “Setiap Hari adalah Asyura, Setiap Tempat adalah Karbala”?

Kita semua sudah mendengar sebuah gurauan—atau kritikan, kalau mau dianggap demikian—tentang orang-orang Syiah yang menjadi taat hanya pada bulan Muharam. Beberapa orang bahkan mengatakan kebanyakan orang Syiah baru peduli bahkan mempersembahkan dirinya pada agama hanya pada 10 hari pertama bulan Muharam—banyak yang berhenti mendengar musik, tidak berpakaian warna-warni, berpuasa, dan daftar panjang lainnya. Padahal kita semua sering mendengar slogan: “Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala.”

Tapi apa yang ada di hati dan pikiran kita yang membuat kita berhenti untuk belajar dan mengambil manfaat dari hikmah “setiap hari” Karbala? Apakah pelajaran dan pengorbanan dari peristiwa itu hanya bernilai dan berharga hanya pada sepuluh hari tersebut, atau hanya satu bulan?

Mungkin inilah penyebab kritikan yang kita dengar. Sering kali kita mendapati penceramah yang menyampaikan pesan bahwa kita harus merasa berduka untuk Imam Husain dan keluarganya, alasan bahwa kita harus lebih hati-hati tentang perilaku kita di sepuluh hari itu atau di bulan Muharam, karena kita sedih dan selalu mengingat apa yang terjadi; seolah-olah anggota keluarga kita telah meninggal. Hal ini tentu saja pesan yang baik, karena kita bersedih, terutama pada hari Asyura; ketika kita berusaha mengingat sepanjang hari beberapa tahun yang lalu, pada hari yang sama, peristiwa tragis yang terjadi di medan pertempuran.

Saya lebih suka mengambil pandangan yang berbeda dalam sejarah untuk mencoba memperbaiki perbuatan saya sepanjang tahun, setiap hari. Muharam dan peristiwa Karbala merupakan pondasi kita sebagai seorang Syiah. Saya selalu berpikir mengapa; mengapa sebuah peristiwa yang terjadi hanya satu hari berperan begitu besar dalam kehidupan kita? Bukan sekedar peristiwa sembarangan, tapi sebuah pertempuran di mana seluruh orang terhormat dan kesayangan kita dibunuh, sebuah perang yang akan membuat banyak orang dengan seketika melihat kita sebagai pihak yang lemah, malang, dan putus asa. Bagaimana bisa sebuah sejarah seperti ini membantu kita untuk bangkit dan mendorong saya untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik setiap hari dalam hidup saya?

Seperti kebanyakan orang-orang modern saat kini berkata, “Sebuah kisah sedih tidak akan membantu saya menjalani kehidupan positif hari ini. Sangat menyedihkan dan menghapus semangat.” Tapi ada begitu banyak cara untuk menyampaikan sebuah kisah. Tanggapan saya kepada orang-orang itu adalah: bagaimana bisa sebuah kemenangan tidak memotivasi saya dan tidak membuat saya bangga untuk menjadi seorang pengikut Jalan ini?

Bagaimana saya tidak termotivasi oleh seseorang yang memberikan segala yang ia miliki demi agamanya, yang benar-benar dalam kecintaan dan kedamaian bersama Tuhannya bahwa hidupnya tanpa keraguan, dan dia benar-benar berada dalam kepastian (dan keyakinan) di setiap perbuatan yang dilakukan?

Banyak dari kita menggunakan kepastian dalam hidup ini. Kita sangat butuh berada dalam ketenangan bersama Tuhan dibandingkan berada dalam peperangan atau keraguan. Bagaimana bisa Imam Husain menjadi sangat bersemangat dan mengabdi penuh? Mungkinkah berasal dari fakta bahwa ia memberikan banyak perhatian untuk salatnya? Atau mungkin karena ucapannya, “Bagaimana mungkin saya menjaga agama dari memandang keburukan?”

Selain pelajaran tersebut, kita menemukan pelajaran memaafkan. Orang yang sama yang datang kepada Imam—padahal ia yang membawa Imam ke medan pertempuran untuk memulai perang—menjadi menyesal ketika sadar akan kesalahannya. Tidak hanya ia dimaafkan tapi juga diterima dan dijamin surga. Mengapa kita yang mengaku sebagai pengikut Imam Husain, tidak bisa memaafkan saudara kita meski karena kesalahan kecil? Kita menyimpan dendam dan amarah, memutus hubungan, dan menciptakan ketegangan. Alih-alih menyimpan dendam, mengapa kita tidak berusaha meniru atau melebihi tindakan Imam dan memaafkan kemudian melepaskan persoalan kecil? Hurr, seseorang yang membawa Imam Husain dan keluarganya menuju hari-hari kesedihan mereka, dimaafkan! Tetapi kita menyimpan dendam hingga ke titik di mana kita berhenti mengucapkan salam kepada anggota masyarakat kita. Saya hanya bisa membayangkan betapa besar kebahagiaan dan kedamaian masyarakat kita jika mengambil pelajaran dari Imam tentang bagaimana memaafkan orang lain!

Ada sebuah peran dalam sejarah ini bagi setiap kelompok usia. Alangkah cantiknya sejarah Asyura ini di mana ibu, ayah, anak-anak, remaja dan orang dewasa bisa mengambil pelajaran darinya!

Putri kesayangan Imam, Sukainah, menjalani perannya dengan kesabaran. Ketika ia kehausan berhari-hari, ketika ia menyaksikan pamannya, saudaranya, sepupunya, dan ayahnya dibunuh di depan matanya, dia sabar. Seberapa tidak sabarnya kita? Seberapa tidak sabarnya kita pada orang tua ketika mereka meminta kita mengulangi apa yang kita katakan? Atau jika mereka lupa tentang melakukan sesuatu yang sebelumnya telah kita ajari caranya? Seberapa tidak sabarnya kita mengeluh tentang panas, hujan, dingin atau penyakit kita? Hal-hal seperti itu tidak hanya terjadi satu hari tapi setiap hari, sepanjang tahun, dan pelajaran tentang kesabaran diajarkan kepada kita oleh seorang gadis kecil yang mulia, berusia empat atau lima tahun selama tiga atau empat hari.

Pelajaran apa yang kita bisa ambil dari kekasih kita Abbas (bin Ali bin Abi Thalib)? Seseorang yang begitu patuh dan mempersembahkan (jiwanya) pada pemimpinnya yang sangat dia hormati? Seseorang yang merelakan anggota tubuhnya demi mengambil air bagi keponakannya? Seseorang, yang meskipun kehausan sebagaimana keluarganya, tidak mengambil meski seteguk air pun ketika ia sudah sampai di sungai, karena ia tidak ingin minum lebih dulu? Pelajaran abadi apa yang telah mengajarkan kita?

Ya, beliau wafat dalam keadaan kehausan, tapi beliau wafat dengan martabat dan kehormatan. Beliau syahid dalam keadaan telah menjalankan tugas-tugasnya dan berusaha melakuan yang terbaik. Seberapa mudah kita menyerah? Sulit bagi kita untuk salat wajib dengan tepat waktu—beberapa dari kita meninggalkan, sementara yang lain terus berusaha, dan kita mengeluhkannya. Seberapa sering kita membaca status Facebook atau pesan teks (SMS) di bulan Ramadan tentang betapa laparnya kita, atau ketidaksabaran kita menunggu waktu berbuka? Seberapa sering kita mengeluh tentang masalah di lingkungan, padahal seharusnya kita melakukan sesuatu untuknya? Seberapa sering kita membantu kehormatan agama kita dibandingkan merendahkan dan mempertanyakannya demi sebuah pertanyaan itu sendiri?

Pelajaran terakhir adalah sesuatu yang harus terus direnungkan: pelajaran yang mengajarkan kita untuk hidup dengan karakter, dengan rasa bangga pada agama kita, dan yang paling penting, sebuah pelajaran yang membuat kita sadar bahwa kita punya sebuah tugas. Kita di sini tidak untuk makan, minum, tidur, dan pesta. Kita di sini tidak sekedar untuk mencari uang, menikah, dan memiliki anak. Tentu saja, melakukan hal tersebut dengan cara yang tepat dibenarkan, tapi ambillah pelajaran dari seorang wanita yang menceritakan sejarah pada dunia. Sadar bahwa bukanlah masalah dengan bencana apapun yang menimpa kita, bukan masalah kita kehilangan anak-anak kita, ayah kita, atau seorang keponakan yang masih bayi—Innalillah.

Sayidah Zainab mengajari kita dengan tepat. Apapun yang akan terjadi pada kita, berdiri dengan tegak dan kuatlah! Sebagai seorang wanita—yang dianggap lebih emosional dibanding pria—beliau pulih dari kesedihan kematian anggota keluarganya sehingga mampu menyelesaikan urusan. Berapa banyak dari kita, ketika ditimpa kekurangan uang, menjadi tertekan? Ketika mengalami “perceraian” atau masalah hubungan, menjadi marah dan kasar? Berapa banyak dari kita pada hari ini menjadi malu untuk menjadi muslim? Berapa banyak wanita muslim melepaskan jilbab mereka karena takut perilaku pasca 11 September? Sayidah Zainab memiliki rasa harga diri yang besar di mana ia menutupi wajah dengan rambutnya ketika tidak ada pilihan baginya, dan kita pada hari ini, begitu mudahnya melepaskan jilbab kita, mengenakan pakaian yang memperlihatkan bentuk badan, mempertunjukkan lengan dan bahkan poni hanya agar “sesuai” [dengan kemauan kita]. Berapa banyak dari kita yang merasa malu sebagai seorang muslim ketika ada kesempatan untuk menunjukkannya?

Kapan kita akan menyadari tugas kita, bahwa kita harus menyuarakan keadilan dan menceritakan kisah Islam kepada setiap orang yang kita temui, setiap hari—melalui lisan kita, meski yang lebih baik adalah melalui perilaku kita. Tidak hanya di bulan Muharam, tapi ketika teman non-muslim kita bertanya mengapa kita tidak bisa keluar rumah pada malam Jumat dan kita menjelaskan—dengan malu-malu, dengan cara apapun—karena ini Muharam maka kita harus pergi ke “gereja”? Kapan kita akan belajar bahwa kita harus menyebarkan Islam agar mereka dapat belajar tentang persamaan (hak), cinta, dan ketaatan yang menyadarkan kehidupan seseorang?

Pertama kita harus mempelajari karakter dari sebuah kisah yang sudah kita dengar sejak kecil. Pilih seseorang sebagai favorit dan jadilah sepertinya. Jadilah seperti bayi Ali Asghar yang meskipun ia belum bisa berbicara, tapi ingin membantu agamanya dan dikenal karena keadilannya. Atau mungkin menjadi seperti Imam Sajjad (alaihisalam) yang, meskipun sakit tapi mampu menceritakan kisah kepada orang lain agar mereka tahu tentang kebenaran. Mungkin favorit Anda bisa jadi pemuda seperti Ali Akbar, yang penuh dengan kekuatan dan tidak sabar untuk berjuang, tidak takut akan kematian, tapi lebih bahagia untuk memberikan hidupnya, lagi-lagi, demi kehormatan agamanya.

Semua kehidupan orang-orang yang diberkahi itu bisa memainkan peran bagi kita dalam berbagai cara. Mungkin kita masih “bayi” seperti Ali Asghar dan tidak bisa mengatakan bahasa Imam kita, tapi kita masih punya sebuah hasrat untuk membantu. Mungkin kita bisa menjadi seperti Sayidah Zainab, yang begitu kuat dan mampu untuk “melakukan bagi kafilahnya”. Tentunya jika kita mengambil pelajaran dari siapapun di antara mereka, dan melaksanakannya sepanjang tahun, kita bisa mempertahankan diri dengan pasti dan cinta untuk Tuhan, meskipun ribuan bala tentara yang disebut tekanan sosial pada hari ini, tidak akan mampu menghentikan kita dari memilih kebenaran di atas kebatilan.

Kapan kita akan bangga sebagai seorang muslim?

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2009

6 thoughts on “Bukankah “Setiap Hari adalah Asyura, Setiap Tempat adalah Karbala”?

  1. y… kt biasanya asyoro hanya dijadikan acara ceremonial tahunan sj….tdk ada perbaikan setelah itu…syukron dah mengingatkan….:)

  2. Y…yg sy takuti pd tiap 10 Muharam kita menyebut “Labaika Y Husein”, tp pd waktunya tertolak…LA Labaik ?? Y Allah… safaat ditolak….???

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s