Hikmah dari Nasib Pembunuh Imam Husain

Hikmah peristiwa Asyura tahun 61 hijriah selalu kekal sepanjang zaman. Baik hikmah sebelum maupun sesudah peristiwa keji tersebut. Baik hikmah terhadap apa yang menimpa cucu nabi, Husain bin Ali, maupun terhadap para pembunuhnya. Hikmah tersebut terangkum dalam ucapan Husain bin Ali, “Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan semakin jauh dari apa yang diharapkannya dan semakin cepat kepada apa yang dikhawatirkannya.”

Sebelum ditugaskan menjadi pemimpin pasukan Yazid di Karbala, Umar bin Saad (putra Saad bin Abi Waqash) sudah mendapat perintah untuk menjadi gubernur Ray di kawasan Persia. Namun gubernur Kufah saat itu, Ubaidillah bin Ziyad (cucu Abu Sufyan), memberikan tawaran lain, yakni membunuh Imam Husain bin Ali.

Umar bin Saad bimbang. Anaknya menceritakan bahwa Umar berkata, “Apakah aku akan pergi ke Karbala dan membunuh Husain? Jika aku melakukan itu, maka aku akan mendapatkan kekuasaan dan harta, serta dunia akan bergegas kepadaku. Akan tetapi di akhirat aku akan mendapat neraka dan siksa Allah. Tapi jika aku tidak pergi ke Karbala, maka aku mendapat akhirat, surga, dab keridaan Allah, namun aku tidak mendapatkan dunia.”

Cinta dunia merasuki jiwa Umar. “Di sana ada akhirat. Jika begitu, sekarang kita pergi ke Karbala dan membunuh Husain, lalu kita kembali ke Ray dan memegang kekuasaan di sana, dan setelah itu baru kita bertobat.”

Saat pertempuran di Karbala, Husain berulang kali mengingatkan Umar atas apa yang akan dilakukannya. Imam Husain berharap agar Umar masih bisa memperoleh hidayah. Imam sempat menawarkan segala yang Umar inginkan, tapi dia berkata, “Aku ingin memerintah di Ray.” Imam Husain berkata, “Aku harap engkau tidak memakan gandum dari daerah Ray, karena mereka akan memenggal kepalamu di tempat tidurmu.”

Umar menolak tawaran Imam Husain. Pembantaian di Karbala berakhir. Umar telah membunuh Husain, cucu nabi, dan menjalankan perintah Ibnu Ziyad dan Yazid. Mari kita ingat kembali ucapan Imam Husain:

Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan semakin jauh dari apa yang diharapkannya dan semakin cepat kepada apa yang dikhawatirkannya.

Umar melapor dan berkata kepada Ibnu Ziyad, “Aku telah siap untuk berangkat ke Ray.” Ibnu Ziyad berkata, “Aku dengar engkau melakukan pertemuan khusus dengan Imam Husain. Apa pentingnya engkau bertemu musuh?!” Umar menjawab, “Itu tidak penting. Aku telah menjalankan perintahmu untuk membunuh Husain dan telah aku kirim ke Damaskus. Sekarang, setelah semua ini, apa yang engkau inginkan?”

Ibnu Ziyad berkata, “Seharusnya engkau tidak melakukan pertemuan dengan Husain. Berikan kepadaku surat perjanjian mengenai kekuasaan Ray.” Ibnu Ziyad mengambilnya dan merobek-robek serta membuangnya. Umar berkata, “Wahai Ibnu Ziyad, engkau telah menghancurkanku.”

Setelah kejadian ini, diriwayatkan bahwa Umar bin Saad selalu membaca ayat: Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Al-Hajj: 11).

Cucu Saad bin Abi Waqash ini mulai gila. Istri dan anak-anaknya marah lalu berkata, “Engkau menyebabkan kesengsaraan kami. Karena perbuatan kejimu, kami tidak bisa pergi ke luar rumah.” Setiap Umar melewati jalan-jalan kota, anak-anak melemparinya dengan batu dan mendapat hinaan dari orang-orang di sana.

Kemudian datang periode Mukhtar. Istri Umar bin Saad adalah saudari Mukhtar. Karena itu, istri Umar mendapat surat jaminan keselamatan bagi suaminya. Mukhtar tahu bahwa Umar telah melakukan kejahatan besar di Karbala. Karenanya surat jaminan itu berbunyi: Umar ibn Saad fî amân mâ lam yuhdits hadatsan (Umar bin Saad dalam keadaan aman selama tidak menciptakan suatu perkara).

Mukhtar bangkit untuk menuntut darah Karbala dan demi mengobati hati pengikut Imam Ali. Dalam sebuah majelis, Mukhtar memerintahkan anak buahnya untuk membunuh dua putera Umar bin Saad. Umar berkata, “Sungguh, pemandangan ini sangat menyakitkan aku.” Mukhtar berkata, “Ketika engkau memenggal kepada Ali Akbar di hadapan Imam Husain, apakah tindakan itu tidak menyakitkan?”

Mukhtar balik ke rumah dan memanggil dua pengawalnya. Mukhtar berkata, “Pergi dan bawa Umar ke hadapanku. Kalian harus berhati-hati. Jika Umar berkata akan mengambil baju, sungguh dia akan menipumu karena dia sangat licik. Maka bunuhlah di sana.”

Kedua pengawal Mukhtar mendatangai Umar yang sedang tidur dan berkata, “Mukhtar menginginkan engkau wahai Umar!” Umar berkata, “Mukhtar telah memberikanku surat jaminan keamanan.” Umar menunjukkan surat itu. Pengawal mendapatkan kalimat Umar ibn Saad fî amân mâ lam yuhdits hadatsan dan berkata, “Kalimat ini mempunyai dua makna. Makna pertama selama tidak melakukan perkara maka aman. Sedangkan makna kedua selama tidak buang air maka aman.” Kalimat mâ lam yuhdits hadatsan berasal dari kata hadats (buang air).

Umar berkata, “Mukhtar tidak menginginkan makna yang kedua.” Pengawal itu berkata, “Kami memahaminya demikian.” Lalu Umar berkata, “Ambilkan bajuku.” Pada saat Umar berkata seperti itulah kedua pengawal itu menebas leher Umar bin Saad. Anak Umar yang melihat kejadian itu juga ikut dibunuh.

Imam Husain a.s. sudah berusaha menasihati Umar dan ucapan imam terbukti dengan benar. “Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan semakin jauh dari apa yang diharapkannya dan semakin cepat kepada apa yang dikhawatirkannya.”

Sumber: Kisah yang dituturkan oleh Ayatullah Hossein Mazaheri dalam salah satu ceramahnya di bulan Ramadan.

45 thoughts on “Hikmah dari Nasib Pembunuh Imam Husain

  1. SYIAH RAFIDAH, aliran paling sesat dengan mengatakan 12 IMAM LEBIH UTAMA DARI ALLAH DAN RASSULULAH…. Bayangkan tanpa RASSULULAH tidak Lahir IMAM2 KALIAN. .. 12 IMAM SYIAH tidak Lebih BAIK DARI RASSULULAH. Karna rassulullah suri tauladan menurut quran SEDANG 12 IMAM ? HANYA AHLULBAIT BUKAN NABI !! kemampuan mereka Hanya Manusia biasa Tanpa Nabi Muhammad.. 12 imam bahkan kita Hanya Orang2 yang Bodoh dalam agama… WAHAI SYIAH RAFIDAH YANG LAKNAT LEBIH BURUK DARI ISIS DAN TERORIS.. Mengkafirkan Sahabat… Adalah tindakan super keji !! Padahal anak ALI ra diberi nama Sahabat2 yang engkau LAKNAT.. Dasar syiah hanya Kaum rendah Tanpa otak Dan hanya diperbudak nafsu Dan Maksiat Suka Mengkafirkan ahlulbait… Sungguh neraka nyata bagi PENDUSTA quran…. Syiah Rafidhah babiyah!

    • Akalmu masih sakit parah masuk k RSJ dulu…itupun klo sembuh…br bicara Syiah

  2. @jono, seharusnya kamulah yang ke rsj…periksa apakah kmu punya akal sehat? syiah itu sesat yang nyata. Dimana suara syiah pembela Quran (katanya) saat demo 4 nov? Oh iya, sekali2 tidak akan bagi syiah membela Islam (krn bukan islam), apalagi syiah bersekutu dengan kafir (yahudi n nasrani) makanya kalian bertolak belakang dengan surah Al Maidah 51. Jono, anda syiah? Atau mencoba bertaqiyyah?

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s