Apa Warna Anjing Ashabul Kahfi?

Alkisah ada sebuah masyarakat muslim yang jumlahnya sedikit namun semakin banyak dalam keimanan dan kuat dalam tindakan. Saking banyaknya, orang-orang kafir tidak bisa mengalahkan mereka dalam perang meskipun jumlah orang kafir lebih banyak.

Hingga suatu hari seorang pemuda dari pihak musuh berpura-pura memeluk Islam dan mengunjungi ulama besar di suatu kota untuk mendengarkan ceramahnya tentang Alquran. Temanya kebetulan tentang salah satu surah dalam Alquran yang disebut Al-Kahf [The Cave/Gua, surah ke-18).

Ketika ulama itu menyelesaikan pembicaraannya, ia menawarkan kepada hadirin untuk bertanya. Kesempatan itu sampai pada orang kafir dan iapun bertanya:

“Tuan, dalam kisah orang yang tertidur di gua, disebutkan tentang seekor anjing. Saya jadi ingin tahu dan bertanya apa warna anjing itu? Saya harap Anda tidak keberatan dengan pertanyaan saya, khususnya jikalau mungkin Anda tidak tahu jawabannya.”

Dengan segera ulama itu berkata kepada pemuda, “Sama sekali tidak masalah, setiap orang harus tahu bahwa anjing itu berwarna KUNING.” Pemuda itu bertanya, “Apa Anda yakin? Maksud saya, mungkin saja memiliki warna yang lain?”

“Tidak,” jawab guru tua itu. “Warnanya benar KUNING.” Sekali lagi pemuda itu berterima kasih kepadanya, kemudian pergi.

Malam berikutnya pemuda itu kembali berpura-pura sebagai muslim untuk mencari jawaban dan pergi ke kota lain untuk duduk di sebuah majelis ilmu. Mereka juga sama-sama mendiskusikan berbagai hal tentang ayat dalam Alquran.

Ketika sampai pada waktu sang ulama memberikan kesempatan bertanya pada yang hadir, penipu muslim ini mengangkat tangan dan kemudian bertanya, “Di bagian surah Al-Kahf, orang yang tidur disebutkan dalam jumlah yang berbeda tapi selalu menyebutkan anjing dan dihitung bersama mereka. Sekarang saya jadi penasaran, ya atau tidak, orang yang berilmu tidak pernah menyebutkan tentang apa warna anjing itu?”

Ulama itu segera menjawab, “Ya! Anjing dalam kisah Alquran ini berwarna HITAM.”

Pemuda kafir ini merasa puas dan melanjutkan, “Tuan, apakah Anda benar-benar yakin kalau warna anjing yang disebutkan dalam cerita itu berwarna HITAM?”

“Anak muda,” jawabnya cepat, “Saya mempertaruhkan reputasi saya tentang hal itu sebagai kebenaran.” “Terima kasih, Tuan,” kata pemuda kafir itu.

Malam berikutnya, orang kafir itu masih berpura-pura sebagai seorang muslim dan kembali ke ulama yang pertama. Ketika tiba waktunya untuk tanya-jawab, ia mengangkat tangan dan bertanya, “Tuan, Anda memiliki pengetahuan luas dan saya hanyalah orang awam. Saya masih ragu, bisakah Anda mengingatkan saya tentang jawaban atas pertanyaan malam yang lalu, apa warna anjing dalam gua di surah Al-Kahf?”

Guru itu bertanya, “Tidak ada keraguan sedikitpun di antara ulama besar Islam tentang pertanyaan ini. Anjing itu berwarna KUNING, dan siapapun yang mengatakan selainnya maka ia tidak punya ilmu.”

Mendengar hal tersebut, pemuda itu kembali bertanya, “Tuan, apa yang akan Anda katakan kalau ada orang lain yang mempertaruhkan reputasinya sebagai ulama Islam tentang jawaban bahwa anjing itu bukanlah kuning, tapi anjing itu berwarna hitam?” Ulama itu dengan cepat menjawab, “Berarti reputasinya bukanlah sebagai ulama tapi sebagai orang bodoh.”

Hari berikutnya musuh ini pergi ke ulama yang percaya bahwa anjing itu berwarna hitam, ia mengatakan bahwa ulama di kota sebelah menyebut namamu dan mengatakan bahwa anda tidak punya ilmu tentang Islam dan warna anjing yang benar adalah KUNING.

Ulama ini menjadi marah dan berteriak, “Kamu katakan padanya, bahwa saya mengatakan bahwa dialah orang yang tidak punya ilmu. Saya orang yang lulus dari madrasah terbesar Islam, tapi dia hanyalah orang bodoh.”

Rencananya sedang berjalan. Sudah lama masyarakat itu dipecah menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok mengklaim bahwa ulama merekalah yang memiliki jawaban paling benar. Keributan pecah di jalan-jalan dan umat muslim mulai saling menyerang satu sama lain di seluruh kota. Setiap orang jadi terlibat luas hingga tidak ada seorangpun yang tidak terlibat dalam situasi mengerikan ini. Berteriak, memaki, memukul dan perang terjadi di mana-mana.

Setelah hal itu terjadi, orang kafir kembali ke kelompoknya dan mengatakan pada mereka, “Mari kita lawan mereka sekarang. Kalian akan lihat bahwa mereka mudah untuk dikalahkan.” Itulah yang benar-benar mereka lakukan. Semoga Allah melindungi kita dari fitnah ini. Ilahi amin.

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2010

9 thoughts on “Apa Warna Anjing Ashabul Kahfi?

  1. bergunaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…!!!!!!!!!!!!!
    meeeeeeeeen,mantaaaaaaaaaaaaaaaap skaliiiiiiiiii.

  2. Diskusi tentang jumlah pemuda kahfi saja sudah bertengkar (7 orang, yg ke-8 adalah anjingnya), ini koq memperbincangkan masalah warna anjingnya?! padahal warna anjing mereka tidak dijelaskan di qur’an…

    Artikel yang menarik… terima kasih… mint izin copy…

  3. yah……emang gitu deh keadaannya. sampe sekarang di mana2 masi terjadi. btw kok namanya ali reza? reza tuh maksudnya ridha? cuman penasaran aja…….

  4. Allah Maha Besar dan Allah Maha Skenario…
    fitnah di akhir jaman akan bertambah banyak… sesuai dengan tanda-tanda kiamat.. ketika itu keadaan yang paling buruk adalah para ulama… karena mereka akan berselisih yg disebabkan fitnah… belum lagi fitnah dajjal yang mempertaruhkan keimanan kita… ingat islam dibagi 3: 1. islam beriman 2.islam munafik 3.islam KTP (haha)… dan ingat jg yang membedakan muslim dan orang kafir ialah sholatnya… mudah2an iman kita kuat untuk fitnah2 seperti diatas dan fitnah dajjal…

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s