Nasihat Jilbab dari Karbala

Oleh: Zara Syed

Seusai tragedi Karbala, Imam Zainal Abidin a.s. sering ditanya tentang pengalaman apa yang paling sulit dan menyakitkan. Orang mungkin mengira bahwa setelah menyaksikan sendiri lebih dari 70 keluarga dan sahabat dibunuh, kedua tangan pamannya Abbas ditebas, kepala ayahnya dipenggal, dan leher saudaranya yang berusia enam bulan ditembus anak panah bercabang tiga, putra Imam Husain ini akan mengatakan bahwa perlakukan barbar musuh Islam adalah yang paling menyakitkan. Namun, kita tahu bahwa imam selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban, “Syam… Syam… Syam…”

Setiap Muharam, kita menangis dan meratapi tragedi Karbala untuk menjaga kisah Imam Husain tetap hidup, untuk mempelajari prinsip-prinsip keadilan dan pengorbanan, untuk menjadi mukmin yang lebih baik, dan tidak menjadi orang zalim. Namun kita melihat dari satu Muharam ke Muharam berikutnya, hijab kita sebagai muslimah tidak jauh berbeda dari sebelumnya.

Suatu saat, orang mungkin mengira itukah mereka yang disebut sebagai pengikut dan pendukung Sayidah Fatimah dan Sayidah Zainab yang melakukan kezaliman pada diri sendiri? Kezaliman adalah melakukan ketidakadilan. Wanita-wanita suci tersebut mengorbankan seluruh keluarganya demi agama dan kebanyakan kita tidak menghargai kehormatan itu. Keluarga Sayidah Fatimah terbunuh dan karenanya hari ini kita dapat memahami Islam sejati. Apakah kita tidak peduli atas segala milik keluarga Sayidah Fatimah yang dihancurkan?

Menurut beberapa riwayat, Sayidah Fatimah selalu hadir di mana pun tragedi putranya diceritakan. Dengan tujuan menjalankan keadilan bagi Sayidah Fatimah dan wanita suci Karbala, dan kami berharap dapat membuat mereka bangga pada Muharam kali ini, izinkan kami menjelaskan beberapa poin.

Kepada Kelompok Tak Berjilbab

Wanita-wanita ini karena satu atau lain hal belum memakai jilbab meskipun telah menjadi kewajiban bagi perempuan yang berusia sekitar 8,5 tahun. Beberapa dari mereka memiliki keberanian untuk memakai jilbab namun belum berhasil dengan sempurna, sedangkan yang lain berencana (insya Allah) menjaga kecantikan mereka suatu hari nanti, tidak hari ini. Anehnya, yang dibutuhkan hanyalah inisiatif kecil untuk melangkah ke arah yang benar, dan subhanallah, hijab akan mudah! Allah berfirman dalam hadis qudsi, “Ketika seorang mukmin melangkah kepada-Ku satu langkah, Aku mengambil sepuluh langkah kepadanya. Ketika seorang mukmin berjalan kepada-Ku, Aku datang berlari kepadanya.”

Di kota Kufah dan Damaskus, wanita suci dari keluarga nabi dipertontonkan dalam pawai tanpa hijab; kecantikan suci mereka membuat lelaki asing terpana. Rambut mereka terlihat, perhiasan yang ada di telinga dan tangan dirampas, di leher mereka membekas ikatan rantai bagaikan tawanan bengis, dan mereka didorong oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Inilah wanita-wanita mutiara nabi… yang terlindungi dan selalu terjaga.

Jika hari ini kita meratap dan bersedih atas penderitaan wanita suci, maka tentu kita tidak boleh menghina kenangan mereka dan memakai hijab saat hijab mereka dilepas secara paksa. Tentu, inilah yang sedikitnya bisa kita lakukan untuk menunjukkan rasa simpati dan membuktikan kesungguhan air mata kita.

Kepada Kelompok Jilbab Paruh-Waktu

Kelompok wanita ini melakukan yang terbaik menurut mereka, memakai jilbab. Tapi ternyata, beberapa wanita ini memiliki “bakat” saat memakai jilbab; mereka menjadikan wanita yang berjilbab sempurna terlihat “amatir”. Tapi ada satu saat di mana para wanita ini terlihat bimbang. Suatu ketika kita melihat mereka memakai jilbab saat makan di rumah ulama [atau saat peringatan keagamaan], dan di lain waktu, kita tidak bisa mengenalinya saat mereka ada di pusat perbelanjaan.

Untuk beberapa hari wanita ini memahami cantiknya memakai jilbab, di mana untuk melakukannya membutuhkan rasa harga diri, dan karenanya kami (wanita berjilbab) tidak membiarkan pria asing merebut kecantikan kami, di samping bahwa kami tidak ingin melanggar hukum Allah. Tapi di sisi lain, wanita kelompok ini bisa bangun pagi dalam keadaan membenci jilbab. Seolah-olah seseorang telah membunuh malaikat [kebaikan] “Jilbab adalah Hak Perlindungan Saya” yang ada dalam dirinya.

Wanita ini patut dihormati (lebih) setidaknya di saat mereka memakai jilbab. Tapi kita dengan tulus mendorong wanita ini untuk mempertimbangkan memakai jilbab dengan sempurna. Mengapa? Karena telah diriwayatkan bahwa Allah mencintai makhluk-Nya 70 kali lebih dari seorang ibu yang mampu mencintai anaknya. Jika melakukan hal ini untuk pahala atau menyelamatkan seseorang dari hukuman di dunia dan akhirat tidak menarik perhatian kelompok wanita jilbab paruh-waktu, maka mungkin menyadari bahwa sebagai wujud menghormati wanita yang mengorbankan hijab mereka di Karbala demi menjaga Islam sejati tetap hidup, kita akan menyenangkan Dia yang mencintai dan menjaga kita lebih dari yang lain, Allah!

Kepada Wanita Berjilbab

Inilah kelompok wanita beriman, yang hampir ada di jalur ketika menggunakan hijab, memiliki bagian yang paling sulit dikuasai, dan itulah jilbab. Namun, memakai jilbab tidak berhenti sampai di situ. Kita juga harus belajar bagaimana meningkatkan hijab kita dengan segala cara, setiap Muharam. Inilah “area permasalahan” yang banyak wanita berjilbab tidak tahu, lupa atau perlu diingatkan untuk menyempurnakan hijabnya.

Pakaian yang menutup sempurna: Terkadang, seorang wanita yang berjilbab secara sempurna tidak sengaja bimbang dalam hijabnya dengan memakai pakaian yang “sedang mode”. Atasan lengan pendek, potongan leher besar, celana tiga-perempat, celana panjang yang menunjukkan bagian yang wajib ditutup, dan lain-lain, yang merupakan sebuah wilayah mutlak. Selain fakta bahwa memakai pakaian seperti itu tidak juga halal, jika masuk waktu salat, maka satu-satunya cara agar salat wanita ini diterima adalah jika pakaian mereka panjang.

Pergelangan tangan: Banyak dari kita tidak memahami sebuah masalah besar dengan menutup pergelangan tangan, dengan [mengatakan] “itu cuma sekedar bagian tangan”. Menariknya, dalam budaya Jepang, wanita penghibur yang dikenal sebagai geisha sengaja membuka pergelangan tangan mereka di hadapan pria sebagai cara menarik perhatian. Sebenarnya banyak toko-toko Islam menjual “sarung lengan”, yang baik untuk dipakai karena mudah digunakan untuk meningkatkan hijab kita. Ingatlah bagaimana pergelangan tangan wanita suci Karbala dirantai dan diikat, yang insya Allah membantu kita untuk menutup pergelangan tangan.

Kaki: Menurut mayoritas ulama, kaki juga bagian dari hijab kita dan harus ditutup di depan non-mahram. Cara yang paling sesuai adalah menggunakan kaos kaki warna kulit (tidak transparan) ketika memakai sendal, misalnya. Bagi wanita yang suka memakai sendal pemisah-jempol, banyak dari toko hijab juga menjual kaos kaki pemisah-jempol dan tersedia dengan warna alami. Ingatlah bagaimana wanita-wanita Imam Husain dipaksa untuk jalan di gurun pasir Irak yang panas, dan insya Allah memberi kita kekuatan untuk menutup kaki kita.

Pakaian loose-fitting: Celana panjang ketat, jins ketat, bentuk-kerah yang membuka bagian atas, dan rok pinggul-ketat adalah jenis kebanyakan pakaian yang ada di busana kita. Cara terbaik untuk berpakaian di depan umum adalah dengan memakai pakaian yang pelaku salat akan diterima. Jika seseorang ragu dengan klasifikasi ketat atau tidak, tanyakan kepada ayah, saudara, suami, atau anak lelaki apa yang terlihat baik, dan mereka tentu akan memberikan opini yang dapat dipercaya.

Warna mencolok dan makeup: Sayangnya, gagasan hijab yang bertujuan untuk tidak menarik perhatian disalahartikan oleh sebagian dari kita. Ketika menutup tubuh adalah salah satu bagian dari hijab, bagian lainnya adalah untuk tidak membuat diri kita benar-benar menarik perhatian dan membuat kepala berpaling. Idealnya, banyak dari kita melakukan hal ini dengan tidak memakai warna mencolok dan tidak mewarnai wajah kita dengan seluruh tujuh warna pelangi. Ingatlah bagaimana mukjizat Imam Husain yang mulai membacakan ayat-ayat Quran di pasar Kufah dengan tujuan mengalihkan perhatian rakyat dari melihat para wanita (keluarga nabi), yang insya Allah akan membantu memahami penjelasan poin ini.

Pakaian transparan dan hijab: Pada saat cuaca lebih hangat, kita merasa akan lebih sesuai untuk memakai cardigan yang terbuat dari bahan ringan dan warna ramah-cuaca. Satu hal untuk memakai penutup-lengkap, longgar, dan pakaian warna netral, tapi bukan cara yang benar untuk memakai hijab yang semuanya tembus. Jika seseorang bisa memahami mengapa orang-orang tidak menyembunyikan harta mereka di kontainer transparan, maka tentu memahami larangan memakai hijab transparan akan masuk akal, insya Allah.

Jika semuanya gagal, marilah kita memikirkan bagaimana putri Imam Husain berusia lima tahun, Sukainah, menangis panik, menendang, dan berteriak untuk melarikan diri dari orang-orang jahat yang dengan kasar menarik hijabnya bahkan menarik anting dari telinga mungilnya. Tidak diragukan bahwa kisahnya telah membuktikan kekuatan bahkan memiliki potensi untuk membuat wanita non-muslim memakai jilbab. Insya Allah, tidak akan lama lagi sebelum seluruh wanita beriman akan dihormati dan membuat Sayidah Fatimah dan Sayidah Zainab bangga. Nilai sejati, rasa hormat, dan praktik hijab yang benar akan membangkitkan posisi kita di mata Allah di hari-hari suci ini.

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2010

6 thoughts on “Nasihat Jilbab dari Karbala

  1. Jilbab/menutup aurat mmg wajib bagi wanita2 muslimah, tp tdk ada hubungannya dgn meratapi kematian karbala, sbb meratapi sampai menganiaya tubuh sprti upacara karbala itu haram bagi ahlussunahwaljama’ah pengikut 4 imam mazhab, tetapi malah ibadah pemilik blog ini yg tak lain jg termasuk dari golongan syi’ah rafidah yg penuh dgn TAQIYYAH (kepura2an)… hati2 lah teman2 dlm mmbaca tulisan2 sekuler yg kelihatannya mndukung jilbab, tp jg mendukung penzholiman thdp diri sndiri (karbala syi’ah) dan caci maki dan fitnah thdp sahabat nabi

    • kalo hati sudah membeku, maka segala sesuatunya menjadi salah dan berprasangka…

  2. Masih banyak kaum muslim yang tidak pernah jernih memahami sejarah, terutama kebenaran-kebenaran yang terwujud disisi Keluarga Suci Kanjeng Nabi SAW. Masak ada yang mencintai Keturunan Beliau SAW dianggap sesat, namun disisi lain yang bersangkutan sholat 5 waktu tidak pernah tinggal, shaum terus, bersedaqoh rutin, mengaku dekat Kepada Allah SWT…dengan pengetahuan ala kadarnya terhadap Kitab Suci Al Furqon dan beberapa dalil lainnya…tau-tau bisa mengatakan sesat orang-orang yang mewujudkan cintanya kepada Keturunan Suci Beliau SAW. Padahal dirinya belum tentu memenuhi perintah Allah SWT untuk selalu ingat KepadaNya setiap saat. Saudara-saudaraku marilah belajar dengan benar dari sumber yang benar…Aneh apabila seseorang yang baru masuk Islam 3 Tahun sesudah perang khaibar bisa meriwayatkan ratusan ribu hadist dan pekerjaannya hanya nunggu dipasar dan diakui bahwa dia paling hebat, kapan dia bertemu dengan Kanjeng Nabi SAW…apakah nempel terus seperti prangko…jadi lucu. Apabila ada Hadist yang sumbernya Keluarga Suci Beliau SAW, maka perawinya dicari-cari kekurangan-kekurangannya dengan segala rekayasa, maka para “ulama” sepakat bahwa hadist tsb jadi hadast…Nauzubillah. Maka mereka mendapatkan hadiah dari penguasa saat itu, di zaman sekarangpun begitu, Ulama adalah warisatul Anbiyaa namun ketika makan jadi makan sekenyang-kenyangnya sampai-sampai kalo belum punya rumah dan mobil, belum disanjung-sanjung orang, anak-anaknya belum berhasil dalam urusan dunia (PNS misalnya) belum merasa menjadi ulama hebat…Masya Allah. Teringat kepada Sabda Beliau SAW ” Nanti disuatu masa sebagian besar dari umatku yang pembaca dan penghapal Kitab Suci Al Qur.an adalah orang-orang yang munafiq”. Loh bagaimana ini…itu ulama…bagaimana orang-orang yang ilmunya seujung kuku kelingking sudah merasa memiliki ilmu sedalam lautan dan setinggi langit dan berkomentar…sesat si anu. Apakah ybs sudah menyadari dan tau jalan pulang ? Kata Beliau SAW “Kami Ahlul Bait Ibaratkan Bahtera Nuh, siapa yang mengikuti Kami akan Selamat”. Nenek moyang bangsa ini pasti salah satunya ada di Bahtera Nabi Nuh as, kalo tidak… ? Maka janji Beliau SAW bagi yang mengikuti dan mencintai Beliau SAW serta Keluarga Sucinya akan berkumpul dengan Beliau SAW di Telaga Haudh. Mari kita mengkaji diri…jangan-jangan kita yang mengatakan orang lain sesat sesungguhnya adalah yang tersesat, mau pulang tidak tau jalan…ujung-ujungnya mampir dibawah jembatan, pohon beringin dll. Wahai Pemberi Syafa.at makhluk, Wahai Cahaya Penciptaan Makhluk, Wahai Nabi di awal dan di akhir, Wahai Kekasih Allah Robbul Izzati Subhanaka “Kalau bukan karena Engkau Ya Muhammad 2x, tidak Aku Ciptakan Alam Semesta ini”, ma’afkanlah ketidak tahuan kami ini, raihlah dan bimbinglah tangan-tangan kami ini, kalau tidak kami pasti tersesat dan hancur sehancurnya. Yaa Allaah…Ampunilah kami.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s