Memahami Hakikat Persatuan antara Suni-Syiah

Mungkinkah ahlusunah dengan Syiah bersatu? Apakah persatuan mengharuskan pengikut Syiah menjadi suni terlebih dahulu, atau sebaliknya? Sekretaris Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab Islam, Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri, mengatakan bahwa persatuan antara suni dengan Syiah mungkin dan tidak mengharuskan para pengikutnya untuk berpindah. Persatuan atau wahdah adalah ittihâd dan ukhuwah adalah salah satu fondasi dasar teoritis untuk terelasisasinya persatuan Islam. Persatuan Islam berdiri di atas kesamaan pandangan dunia dan persaudaraan Islam berdiri di atas persaudaraan iman.

Namun ada perbedaan antara persatuan dan pendekatan (taqrîb) karena pendekatan itu adalah (merujuk pada usaha mendekatkan suatu pemikiran) di antara berbagai pemikiran yang berbeda-beda. Pemikiran itu tidak mungkin menjadi satu, disebabkan oleh perbedaan tingkat intelektual dan perbedaan interpretasi. Maka, apa yang kita maksudkan dengan pendekatan antar-pemikiran itu adalah menguak area kesamaan dan meluaskannya agar dapat bekerja sama dalam menerapkan area yang sama tersebut.

Adapun wahdah (persatuan) adalah persatuan di dalam sikap dan praktik. Artinya, diharapkan agar umat ini memiliki sikap yang satu di saat berhadapan dengan tantangan besar yang datang dari luar dan sikap yang satu dalam hal menyelesaikan problem intern dalam menegakkan syariat dan nilai-nilai akhlak. Ringkasnya, dari satu sisi tidak ada beda antara wahdah dan ittihâd. Keduanya berdiri di atas persaudaraan iman yang menjadi pondasi teoritis demi terselenggaranya persatuan Islam.

Ayatullah Taskhiri di Jakarta

S: Lawan dari istilah-istilah tersebut kita mendapatkan istilah khilâf dan ikhtilâf? Adakah perbedaan antara keduanya?

T: Mungkin saja kata khilâf ditafsirkan sebagai pertentangan praktis dan amali. Adapun ikhtilâf ditafsirkan sebagai pertentangan teoritis dan pemikiran. Namun saya tidak melihat ada perbedaan substansial di dalam pembahasan dua istilah tersebut. Perbedaan dan pertentangan di dalam pemikiran tidak ada salahnya dan tidak ada teks agama yang menolak adanya perbedaan dalam pemikiran. Sebagaimana saya tidak pernah menemukan teks agama yang menuntut adanya kesamaan pemikiran.

Akan tetapi yang tercela dan dilarang oleh agama adalah pertentangan dan perbedaan di dalam tataran praktis. Di saat Allah Swt .berfirman, “Wa’tashimû bihablillâhi jamî’ân walâ tafarraqû [Berpeganglah pada tali Allah dan janganlah berpecah belah”] ingin menekankan adanya kesamaan sikap dalam praktik dan amal dengan berpegang teguh pada tali Allah yang kokoh dan tetap yang merupakan jalan menuju Allah yang bebas dari kesalahan (maksum) yang tidak ada perselisihan padanya.

S : Apakah persatuan meniscayakan adanya keyakinan akan kebenaran yang majemuk dan plural?

T : Tidak. Kebenaran itu tunggal. Hanya saja sudut pandang dan metode yang ditempuh berbeda-beda. Kami di dalam agama Islam meyakini, bahwa syariat Islam itu satu. Syariat yang ada di sisi Tuhan adalah tunggal. Namun interpretasi untuk memahami syariat tersebut berbeda-beda. Seorang mujtahid yang melakukan interpretasi bisa salah dan bisa benar. Seperti di dalam hadits disebutkan, bahwa mujtahid yang salah akan mendapatkan satu pahala dan yang benar akan mendapatkan dua pahala. Ini tidak meniscayakan adanya kebenaran yang banyak dan majemuk. Kebenaran atau hakikat adalah kesesuaian antara yang ada di dalam benak kita sebagai konsep dengan realitas yang terjadi di luar. Ini adalah definisi kebenaran. Bila sesuai, maka berarti telah benar dan bila tidak sesuai, maka berarti yang ada di benak kita itulah yang salah dan bukan berarti kebenaran itu berubah dan menjadi banyak.

Di sinilah letak kesalahan paham Marxisme, di mana mereka menganggap, bahwa perbedaan pandangan atau konsep yang ada di benak kita tentang kebenaran atau hakikat dapat mengubah kebenaran dan hakikat itu sendiri. Karena itu, di saat pandangan manusia berubah-ubah, maka kebenaran itu sendiri juga berubah-ubah. Di saat terjadi perkembangan pada cara berpikir manusia, maka terjadi pula perkembangan dalam hakikat dan kebenaran. Sekali lagi keragaman keyakinan dan praktik amali tidaklah meniscayakan keyakinan akan keragaman kebenaran yang banyak, namun hal itu memberikan makna, bahwa kebenaran itu adalah satu. Hanya saja ada beberapa perbedaan pandangan tentang kebenaran tersebut, sebagiannya benar dan sebagian yang lain salah.

Pluralisme juga memiliki makna adanya saling menghormati antar pemeluk keyakinan yang berbeda-beda. Di dalam Alquran di Surah Sabâ ayat 24 Allah memerintahkan Nabi saw. untuk menyeru kepada orang-orang musyrik saat itu, “Dan sesungguhnya kami atau kalian (orang-orang musyrik) pasti berada dalam petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata.” Ini sama sekali tidak dalam rangka menjelaskan, bahwa kebenaran itu berbilang, namun di dalam dialog ada kalanya Anda yang salah dan ada kalanya saya yang salah. Di dalam ayat berikutnya Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa yang kami lakukan dan kami tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu lakukan’.” Coba perhatikan! Di dalam ayat ini ada dua hal yang patut kita petik.

Pertama, Aquran melarang kita—di saat masuk dalam sebuah dialog—untuk mengungkit-ungkit masa lalu dan menuduh dengan perbuatan-perbuatan jelek yang dilakukan dengan mengatakan, “Bukankah engkau dulu yang begini dan begini,” sehingga pada akhirnya melupakan pembahasan aslinya dengan mengalihkan pada masalah pribadi.

Kedua, Alquran mengajarkan kepada kita agar menghormati lawan bicara dengan tidak menganggap apa yang dia lakukan sebagai sebuah kesalahan, sebaliknya kita harus menganggap perbuatan yang kita lakukan sebagai perbuatan jelek (ajramnâ) yakni sesuai dengan pandangan lawan bicara, sedangkan pekerjaan lawan bicara tidak boleh kita anggap sebagai perbuatan jelek, walaupun menurut kita salah. Karena itu, di dalam ayat itu ia menggunakan kata ‘amma ta’malûn (apa yang kamu lakukan) padahal lawan bicara Nabi di dalam ayat itu adalah musyrik. Maka, bagaimana jika dia seorang Ahlulkitab bahkan Muslim?

Jadi, persatuan di dalam tataran praktik tidaklah bertentangan dengan keyakinan pluralis, namun haruslah berada di dalam koridor umum. Artinya, haruslah ada aksioma yang general dan diterima oleh semua, seperti keimanan akan satu Tuhan (tauhid) dan keyakinan akan nilai-nilai absolut. Selama berada di dalam koridor tersebut, maka tidak ada larangan untuk terjadi perbedaan pandangan dan pemikiran, bahkan dalam agama sekalipun. Masyarakat Islam bisa hidup bersama pemeluk agama lain dan dapat memberikan hak-hak mereka. Maka, pluralisme adalah suatu hal yang wajar di dalam koridor peradaban, agama, dan mazhab dalam satu agama. Saya tidak melihat hal itu sebagai problem. Malah saya menganggapnya sebagai sebuah keniscayaan dengan masing-masing pemeluknya memiliki jiwa toleransi dengan yang lain serta bekerjasama secara logis.

S: Bagaimana pendapat Anda berkenaan dengan isu dan tuduhan yang dilontarkan oleh mereka yang tidak sejalan dengan upaya persatuan, dengan mengatakan, bahwa “persatuan” yang diperjuangkan oleh orang-orang Syiah dan Republik Islam Iran memiliki motivasi strategis dan politis bukan dalam rangka memperjuangkannya sebagai bagian dari ajaran Islam?

T: Tuduhan-tuduhan seperti itu sering kali kita dengar dan bukanlah hal yang baru. Sepanjang sejarah kita dapatkan tuduhan-tuduhan murahan seperti itu. Kita harus membedakan antara strategis dan taktik. Strategis adalah upaya yang berkepanjangan dan tetap, sedangkan taktik adalah bersifat sementara dan berubah-ubah. Kita mengakui, bahwa upaya persatuan itu adalah masalah strategis, yakni sebuah garis panjang yang telah digariskan Islam seperti firman Allah dalam Surah Anbiyâ ayat 92: “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”

Begitu juga di dalam Surah al-Mu’minûn ayat 52, “Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” Artinya, di saat Islam menekankan pentingnya persatuan dan mewajibkan persaudaraan dan di sisi lain membuka pintu kebebasan berijtihad yang konsekuensinya adalah adanya perbedaan dan menentukan batasan-batasan di mana siapa yang berada di dalamnya berarti masuk dalam keluarga besar umat Islam, yakni mereka yang meyakini akan keesaan Tuhan, kenabian Nabi Muhammad saw. dan hari akhir serta menerima aturan-aturan Islam yang disepakati, seperti salat, puasa, haji dan jihad. Mereka yang berada di dalam area ini adalah keluarga besar umat Islam, semuanya memiliki kedudukan yang sama (mutakafiûn, mutadhaminûn) dan memiliki hak dan tanggung jawab yang sama. Ini yang dikatakan oleh Islam dan bukanlah yang dikatakan oleh Iran atau Syiah. Iran dan Syiah tidak memiliki perkataan lain.

Di saat kita mengajak kepada persatuan dan pendekatan antarmazhab, maka kami tidak menginginkan selain dari hal ini. Muawiyah bin Abi Sufyan di dalam salah satu suratnya kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Apa yang Anda sampaikan bukanlah sesuatu yang baru, namun sudah disebutkan oleh Alquran dan sunah Nabi.” Imam Ali menjawab, “Itu adalah kebanggaanku, di mana apa yang aku sampaikan adalah sesuai dengan Alquran dan sabda Rasulullah. Aku memang tidak memiliki sesuatu yang lain selain dari apa yang telah diturunkan oleh Allah di dalam Alquran dan apa yang telah disabdakan oleh Nabi saw. Engkau bermaksud untuk mencela diriku namun, itu adalah penghormatan dan pujian bagiku.”

Republik Islam Iran memang tidak memperjuangkan sesuatu yang baru. Segala apa yang diperjuangkan adalah dari dalam Alquran dan sunah. Kelompok Salafi dan kelompok yang mengkafirkan kelompok lain (التكفرية) yang sering melakukan tuduhan seperti di atas, mereka sendirilah yang telah keluar dari logika Islam dan Alquran di saat mereka mengafirkan orang yang tidak kafir dan menuduh orang yang tidak tertuduh. Kami meyakini, bahwa siapa yang mengimani rukun Islam dan iman, maka ia telah masuk di dalam kesatuan umat Islam sekalipun belum pernah mengamalkan ajaran Islam.

Di sisi lain, kami mengajak untuk melakukan pendekatan antara mazhab-mazhab Islam dan makna pendekatan itu bukanlah meleburkan semua mazhab menjadi satu atau melakukan campur aduk antar ajaran mazhab yang berbeda-beda. Namun pendekatan mazhab yang ingin kami realisasikan adalah menyingkap area persamaan, memperluasnya, dan bekerja sama dalam melaksanakan yang disepakati tersebut dan saling memahami dan memaafkan atas perbedaan yang dimiliki. Apakah ini sesuatu yang keluar dari garis dan koridor Islam?

Islam menyuruh kita untuk mencari titik temu dengan Ahlulkitab, seperti firman-Nya dalam Âli ‘Imrân 64: “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah’. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” Saya meyakini, bahwa ayat ini menyuruh kita untuk mencari area persamaan dengan orang musyrik sekalipun, tidak hanya Ahlulkitab. Artinya, jika memang ada titik persamaan dengan orang-orang musyrik, maka wajib kita cari titik-titik persamaan tersebut. Tentunya lebih-lebih lagi kita harus mencari titik-titik temu antara kaum Muslimin sendiri. Inilah yang kami perjuangkan di dalam upaya melakukan pendekatan dan dialog antarmazhab.

Adapun upaya merealisasikan persatuan Islam itu agar umat Islam bersatu dalam menghadapi musuh bersama. Apakah Islam tidak menginginkan demikian? Artinya, apakah Islam menyuruh kita untuk bercerai berai dalam rangka menghadapi musuh kalian? Apakah Islam menyuruh kita bercerai-berai dalam menyelesaikan problem internal dan penting umat Islam? Saya benar-benar tidak dapat memahami perkataan dan tuduhan mereka, kecuali salah satu kemungkinan berikut: (1) karena kebodohan mereka dan memang mayoritas mereka demikian; (2) karena fanatisme mereka dan mayoritas mereka memang demikian (3) karena kepentingan politik (4) karena mereka merupakan kaki tangan musuh-musuh Islam.

S: Sebagaimana masyhur di kalangan ulama ushul fikih dan hadis Syiah, bahwa salah satu solusi untuk keluar dari kemelut adanya dua hadis yang bertentangan adalah pertentangannya dengan pendapat umum (mukhalafatul ‘ammâh) bahkan di dalam kitab Al-Kâfî disebutkan, bahwa “Da’uw mâ yuwafiqul qaum fainnar rusydu fî khilâfihim” artinya hadis yang sesuai dengan pendapat umum (jumhur) itu adalah salah dan yang tidak sama dengan mereka itu adalah yang dapat diambil dan diamalkan. Apakah ini tidak bertentangan dengan upaya wahdah dan taqrîb?

T: Sama sekali tidak. Sebab yang dimaksudkan dengan kata ‘ammâh dalam hadis tersebut bukanlah ulama Ahlussunah. Namun para ulama kerajaanlah yang memproduksi fatwa itu sesuai dengan keinginan raja. Sebagai bukti atas hal itu, hadis tersebut disampaikan oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq as. dan saat itu belum ada mazhab-mazhab Ahlussunah yang empat. Jadi, maksud dari kaidah dan hadis tersebut adalah di saat kita menemukan ada dua hadis yang bertentangan dan kedua-duanya dari Imam Ahlulbait, yang satu menyuruh dan yang satu lagi melarang. Tentu, hanya satu di antara keduanya yang betul dan tidak mungkin betul kedua-keduanya.

Salah satu cara untuk menyelesaikan problem itu dan memastikan mana yang benar di antara dua perintah dan larangan tersebut adalah dengan mengambil yang bertentangan dengan yang difatwakan oleh ulama kerajaan [bayaran]. Sebab yang sesuai dengan fatwa mereka memiliki kemungkinan Imam as. menyampaikannya dalam rangka taqiyah itu. (Harus kita ingat) kondisi dan tekanan yang dialami Imam, meniscayakan Imam untuk ber-taqiyah dengan menyatakan yang bersesuaian dengan fatwa mereka. Sebaliknya, yang bertentangan dengan fatwa mereka, maka tidak ada kemungkinan hal itu disampaikan oleh Imam dalam rangka taqiyah. Kesimpulannya, kaidah ini sangat jauh dari yang dipahami sebagian orang dan pada akhirnya tidak bertentangan dengan prinsip pendekatan dan persatuan antarmazhab.

S: Dalam ilmu hadis Syiah, kita tahu bahwa da perbedaan penerimaan ulama antara perawi Suni dengan Syi’ah. Bagaimana komentar Anda?

T: Memang betul hal itu terjadi. Namun bukan berarti setiap hadis yang diriwayatkan oleh non-Syiah itu harus ditolak. Karena itu kita kenal ada istilah hadis “muwatstsaq” yaitu hadis yang diriwayatkan oleh para perawi adil non-Syiah. Hadis muwatstsaq itu dapat dipergunakan (hujjah) sebagaimana ada istilah lain yang dikenal dengan “maqbulah”. Sungguh sebuah kesalahan besar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa Syiah hanya menerima hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para perawi Syiah saja atau Ahlulbait saja. Yang benar setiap hadis yang diriwayatkan oleh para perawi adil, baik Syiah atau bukan, dari Ahlulbait atau bukan, yang penting periwayatannya bersambung hingga seorang maksum (Rasul atau Ahlulbaitnya). Sekali lagi saya ingin tegaskan, bahwa jika ada hadis, sabda Nabi yang diriwayatkan oleh para perawi adil non-Syiah, maka kami menerimanya. Begitu juga hadis yang disabdakan oleh para Imam Ahlulbait dan diriwayatkan oleh para perawi adil non-Syiah. (Baca Halaman 2)

7 thoughts on “Memahami Hakikat Persatuan antara Suni-Syiah

  1. Assalammualaikum..wrwb

    Sebelumnya saya minta maaf
    Atas komentar saya yang kadang pesimis..terhadap persatuan yang didengungkan dari para saudaraku yang mengaku pengikut ahlul bait.

    Kalau antum semua para pengikut ahlulbait ikhlas kepada arah persatuan islam,

    Tolong rubah prasangka buruk terhadap kami yang bukan syiah atau diluar syiah.

    Camkan ini kalau anda ikhlas terhadap persatuan..

    Demi Alloh,Kami yang bukan syiah sangat mencintai ahlulbait bahkan kadang kami lebih percaya kecintaan kami kepada ahlul bait lebih dari dari saudaraku yang mengaku syiah atau pengikut ahlutbait.

    Terus terang kami agak kurang senang terhadap syiah karena memonopoli kencintaan ahlulbait..(Bisa dikatakan Cemburu).

    Kami adalah muslim bukan syiah terkadang sakit hati kepada antum para syiah yang selalu bernada menuduh terhadap pembunuhan Imam Ali RA, Hasan dan Husen terhadap golongan suni (golongan para sahabat Rasulluloh)
    Seakan-akan hanya para syiah saja yang sangat bersedih terhadap pembunuhan para ahlulbait kami yang tercinta.(Monopoli lagi)

    Bedanya kencintaan kita hanya kami tidak seperti antum para syiah yang sangat membenci Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan para sahabat dan istri Rasullulloh.

    Anda selalu menuduh mereka para sahabat Rasulluloh seperti pemahaman saudara.

    Anda tak pernah mau merubah kepercayaan anda sedikit kearah koreksi pemahaman anda siapa syiah yang kok bisa-bisanya memonopoli ahlutbait dan nyeleneh dari pemahaman umum tidak mengakui para khalifah selain Ali R.A sebelumnya.

    Padahal Ali RA, Hasan,Husen juga Ibunda Fatimah bukanlah Syiah atau membenci para sahabat Rasulloh termasuk Muaiwiyah..

    Tahu dari mana antum kalau mereka ahlulbait sakit hati dan tidak menerima khalifah
    Abu Bakar, Umar dan Usman.
    Dari kitab syiahkah atau hadits syiahkah ?? Karena kitab kami dan hadits kami juga riwayat dari versi bukan syiah tidak pernah mengatakan itu.

    Jadi permasalahan semua ada di kepercayaan anda terhadap kitab syiah anda yang selalu memonopoli dan menuduh.

    Ya kami mengerti karena semua perbedaan itu berangkat dari cara mendapatkan hadits.

    Kita sepertinya gak nyambung kalau kita sudah berbeda referensi.

    Tetapi persatuan didada kita sebagai muslim punya itikad dan semangat untuk bersatu maaf jangan monopoli yang satu ini.

    Kami bukan syiah tetap mengakui antum masih saudara kami.

    Kami selalu berpikir dan berpikir dan terus berpikir kenapa kita berbeda sedemikian tajam..??.

    Dalam berdebat dan berselisih sebenarnya kami menangis kami juga percaya antum menangis..

    Kami juga tak ingin antum lapar atau dianiaya orang lain.. Begitu juga kami percaya antum juga.

    Kami merasa dan selalu berimajinasi mungkin kita sedang diadu domba..
    Oleh siapa…???

    Cobalah kita koreksi. Atas semua tuduhan dari kitab kita masing-masing

    Mohon maaf saudaraku syiah…
    Kalau kami juga komit atas kepercayaan kami diatas.

    Mohon maaf kami juga selalu bertahan akan pendapat kami dan tidak membenarkan pemahaman antum tentang syiah

    Karena ini semua adalah keyakinan kami tetapi kita sebagai Muslim antum adalah saudara kami…

    “Aku bersaksi tiada Illah selain Alloh dan Muhammad adalah Utusan Alloh”

    Ikatlah ini sebagai persatuan
    Hilangkan dendam dan sejarah-sejarah kelam yang tak pernah terungkap kebenarannya yang kita tak pernah alami yang hanya tuduhan versi-versi kita

    Mohon maaf atas lanturan saya
    Janganlah semua ini menjadikan antum tersinggung..
    Karena kami percaya semua kita lakukan karena kita menganggap kita saling benar.
    Dan mengajak saudaranya kejalan yang benar dan takut saudaranya tersesat sampai kita ribut seperti anak kecil untuk bisa saling meyakini..

    Alhakkumirrobik
    Kebenaran itu datangnya dari Alloh

    Wassalammualaikum..wr wb.

    • Alaikumussalam Wr. Wb.

      Poin tanggapan:

      1. Masalah merubah prasangka buruk tidak bisa hanya dari satu pihak, tapi juga semua pihak. Sedangkan para pengikut (Syiah) Ahlulbait sudah begitu “terbiasa” dengan penindasan, pembunuhan (zaman sekarang dengan bom bunuh diri), dan tuduhan kafir, yang diterima dari zaman Umayyah hingga hari ini. Maka merubah prasangka harus dari kedua belah pihak.
      2. Masalah khalifah dan segenap kerumitannya tentulah bersumber dari sejarah. Namun biarkan menjadi pembahasan ilmiah para ahli sejarah, dan orang awam seperti kita tidak perlu saling serang. Pihak-pihak ekstrim dari masing-masing pihak janganlah dianggap.
      3. Mazhab Syiah tidak sedang memonopoli, karena perintah kecintaan Ahlulbait ada dalam ayat suci dan sabda suci. Ahlulbait bukan milik Syiah. Tapi penindasan yang dialami Syiah, membuat orang “takut” untuk menunjukkan kecintaan terhadap Ahlulbait. Tapi kecintaan hanyalah cinta tanpa praktik dan mencontoh kehidupan mereka.

      Wassalam.

  2. bermanfaat dan bergunaaaaaaaaaaaaaa buaaaaaanget,

    ku ucapkan trima kasih atas penulisnya.

  3. Assallammualaikum…wr b

    Mudahan-mudahan antum semua tidak men-generalisasi suatu kaum atau masa yang telah menzholimi kepada syiah khususnya…

    Cukup kami kehilangan orang terbaik kami, khalifah kami tercinta Abu Bakar RA, Umar RA dan Usman Ra dengan cara dibunuh. Siapa yang membunuhnya ??
    Ditambah ahlulbait kita tercinta Imam Ali,Hasan dan Husen dibunuh dengan cara Tragis..

    Bagaimana Rasululloh jika masih hidup dan mendapatkan semua sahabat dan ahlulbaitnya terbunuh seperti ini…??

    Antum pasti tahu apa jawabnyya dari Rasullulloh…

    Ayo kita ikuti Rasululloh
    Lepaskan dendam…

    Kalau antum selalu bicara terzholimi apakah antum tak pernah melihat saudara antum diluar syiah juga terzholimi.
    Apakah Syiah jg tidak berlaku zholim..??

    Ya sudah kita hentikan semua pembicaraan prilaku zholim dengan tidak men-generalisasikan.

    Saya tambah yakin kita sedang diadu domba sejak dahulu dengan rekaya besar…

    Mohon maaf sebelumnya…

    Wasalammualaikum…

  4. Setahu sy yg terbaca di sebagian besar buku2 Syiah non Syiah Zaidiyah, memang menyebutkan spt yg p.Nurallih tulis : menolak kekhalifan selain Ali r.a & tdk menerima hadits sebagian besar Sunni (misal dr Abu Hurairah & Aisyah). Contoh yg lain ttg Nikah Mut’ah : semua Madzhab Sunni & Syiah Zaidiyah melarang berdasarkan hadits sohih (termasuk dari Alhlul Bait : Ali r.a., Hasan r.a., Husein r.a., & Abbas r.a), sedangkan Syiah non Zaidiyah, misal Syiah Imamiyah yg dominan di Iran tetap menghalalkan mut’ah

  5. Video ini mengajak perpaduan antara Sunni & Syiah dan membongkarkan unsur – unsur (WAHABI) yang memecah belahkan perpaduan umat islam ..

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s