Oleh: Madiha Zaidi

Imam Husain as. tidak membaiat Yazid.

Inilah pesan umum yang banyak dari kita ajarkan pada anak-anak, baik di sekolah akhir pekan, rumah, atau bahkan kelas-kelas Muharam bagi anak-anak di sepuluh malam pertama. Kemudian kita ajarkan “Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala.”

Benarkah demikian? Bagaimana mungkin? Padahal Imam Husain tidak syahid setiap hari. Bunda Zainab dan Bunda Sukainah as. tidak dipukul dan tidak dirampas hijab mereka setiap hari. Yazid tidak merampas hak-hak Islam setiap hari. Atau memang demikian?

Ketika hal tersebut berhubungan dengan Islam, baik peristiwa sejarah atau pemikiran hukum fikih, ada banyak cara untuk memahami dan mempelajari dari apa yang mata lihat atau telinga dengar.

Ketika Imam Husain memanggil “Hal min nâshirîn yanshurnâ?” (Apakah ada dari kalian yang menolong kami?), beliau cukup sadar bahwa tidak ada lagi anggota keluarganya yang tersisa. Karena itu kita semua harus tahu sekarang ini, bahwa panggilan itu untuk kita!

Kita semua juga harus tahu, bahwa Islam adalah agama untuk setiap zaman dan masa, hingga akhir masa. Lalu apa hikmah dibalik ucapan Imam Ja’far ash-Shadiq as. “Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala”?

Kalau setiap hari adalah Asyura, artinya ada banyak “Husain” yang dibunuh demi agama Islam setiap harinya. Bisa karena janggut mereka atau hijab mereka, dan inilah yang terjadi. Ada banyak “Zainab” dan “Sukainah” yang kehilangan hak-hak kemanusiaan setiap harinya—lihatlah apa yang terjadi di Irak, Palestina, Somalia, dan seluruh dunia.

Sebagian orang mungkin mengira semua ini adalah urusan politik internasional, dan tidak ada hubungannya dengan Asyura atau kemenangan Karbala. Untuk orang-orang seperti itu saya bertanya, apakah Imam meminta bantuan yang sia-sia?

Hari ini ada begitu banyak “Yazid”.

Percaya atau tidak, mereka merusak citra Islam dengan mengambil manfaat Islam dan mencuci-otak umat muslim. “Yazid-Yazid” ini mengatakan kepada pemuda muslim bahwa waktu senggang mereka harus dihabiskan di tempat terlarang. Mereka katakan kepada orang tua kita, khususnya para imigran, bahwa mereka harus melupakan akar mereka dan “berasimilasi” [“menyesuaikan diri”] seperti mereka; jika tidak, mereka tidak akan diterima atau tidak menerima apapun dalam kehidupan.

Hari ini “Yazid-Yazid” menargetkan muslimah kita, guru bagi generasi masa depan, bahwa tubuh mereka, otak mereka dan segala sesuatu tentang mereka, telah “ditindas” oleh agama mereka—dan mereka berhasil untuk itu.

Hari ini “Yazid-Yazid” menggunakan uang pajak kita untuk menciptakan propaganda yang dirancang penuh intrik dan mencoba untuk merusak agama kita. Tidak percaya? Itu artinya mereka berhasil!

Lalu apa yang kita—yang disebut “Husain-Husain”—akan lakukan? Apa yang sudah kita korbankan sejauh ini?

Sudahkah kita mengorbankan sedikit dari gaji kita untuk berdiri melawan perusahaan yang membiayai pembunuhan brutal dan penjajahan saudara kita di Palestina dan Irak?

Sudahkah kita mengorbankan sebagian kebiasaan kita demi mengajak banyak orang kepada Islam, agar mereka dapat juga mencintai ahlulbait as. dan tertarik pada Islam?

Sudahkah kita mengorbankan beberapa jam dari pekerjaan untuk menghadiri salat Jumat, untuk menunjukkan bahwa umat muslim berdedikasi pada agamanya?

Insya Allah kita sudah, dan akan lebih banyak berkorban. Karena tidak akan bertambah seorang ayah [Imam Husain] yang mengorbankan bayi berusia enam bulannya [Ali Asghar] untuk kecintaan pada Allah dan kita tidak cukup bersyukur. Kapan kita akan mengorbankan uang kita, status sosial kita, rasa takut akan deportasi, takut kehilangan pekerjaan, takut dilihat, takut menjadi seorang muslim, bagi diri kita, dan bagi Allah yang menyediakan segala apa yang ada di bumi dan kehidupan kelak?

Inilah tanggung jawab kita untuk menjawab panggilan Imam Husain, untuk berdiri tegak melawan para Yazid zaman ini. Jika tidak ada Yazid zaman ini, maka Islam akan sempurna, dan seluruh pengikut ahlulbait akan siap menerima Imam Zaman (semoga Allah mempercepat kemunculannya). Tapi sayangnya, hati dan mata kita tertutup untuk melihatnya. Kita hidup tanpa rasa percaya diri pada agama, dan tidak mempercayai Pencipta kita. Kapan kita akan berdiri seperti Imam Husain? Dengan sedikit pasukan, kita bisa hidup dengan (jumlah) sedikit dan membuat pengaruh besar.

Kita tidak perlu berjabat tangan dengan para Yazid, ketika kita memiliki Tuhan yang menjaga alam semesta.

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2010