Marilah Memperingati Wafat Sang Nabi

Sungguh telah datang kepada kita seorang utusan yang berasal dari  kalangan kita sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang telah kita alami. Utusan itu sangat menginginkan keselamatan bagi kita. Beliau juga amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman. Beliau telah sampaikan risalahnya secara sempurna. Beliau sangat mengutamakan pengikutnya.

Beliau simpan derita dalam tubuhnya yang suci, demi rasa kasih sayang kepada orang-orang mukmin. Kasih sayang yang berasal dari Tuhannya, hingga tidak ingin umatnya tersesat tanpa petunjuk.

Beliau telah meninggalkan kepada kita semua kitabullah dan keluargaku. Khusus untuk keluarganya, beliau sampai mengulanginya sebanyak tiga kali. “Aku ingatkan kalian tentang ahlulbaitku!” Beliau meneriakkan itu pada haji perpisahan. Didengar oleh puluhan ribu orang dan tercatat dalam buku sejarah dan kitab hadis sahih. Ketika sampai Madinah, beliau mengatakan, “Aku memilih bertemu Tuhanku…”

Nafas harum berhembus terakhir kalinya. Sedikit orang yang mengenang kapan dan bagaimana beliau mengakhiri kehidupan yang fana ini. Ketika orang memperingati wafatnya tokoh fulan, kiai fulan dan habib fulan; wafatnya penutup para nabi dan penghubung makhluk kepada Khalik nyaris terlupakan dan tak terdengar.

Kapan wafatnya sang utusan? Bagaimana wafatnya sang rasul? Terlebih lagi, ada apa dengan kita, umat Muhammad? Mengapa jarang dikabarkan kepada kita bagaimana saat-saat terakhir kota Madinah? Dalih apalagi yang ingin diberikan? Apakah suka cita menyambut kelahiran menghapus duka cita melepas kematian?

Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. (Q.S. At-Taubah: 82)

Adakah peristiwa lain yang ditutupi? Kita membaca dalam buku sejarah bagaimana perintah nabi saw. untuk mengikuti komando Usamah ditolak mentah-mentah oleh segelintir orang. Kita juga teringat keributan di rumah sang utusan hingga nabi perlu mengusir orang-orang dari rumah tempat turunnya wahyu.

Hingga akhirnya kita juga teringat nasib jasad suci nabi, yang hanya dikelilingi oleh keluarga dan segelintir sahabat setia pengikut keluarga nabi. Sedangkan yang terkenal dengan gelar sahabat berkumpul dan berdebat memilih pengganti nabi. Ya, inilah jasad rasul, penutup para nabi. Kita kenang wafat beliau hari ini tanggal 28 Safar dari riwayat keluarga nabi saw. Kita sampaikan duka cita kepada semesta alam.

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran: 144)

2 thoughts on “Marilah Memperingati Wafat Sang Nabi

  1. Beliau lah suri teladan kita rahmat semesta alam,tetapi janganlah kita mengikututi hawa nafsu kita untuk mendustakan ajaran yang Beliau bawa dengan mengikuti hawa nafsu tanpa pedoman dan yang benar-benar disunnahkan oleh Beliau.Beliau paling membenci sanjungan dan penghormatan untuk dirinya.

    • dari mana dalilnya beliau membenci sanjungan dan penghormatan untuk dirinya… ???
      ini dalil untuk sanjungan dan penghormatan bukan atas kemauan Rasulullah, tapi Allah yg memerintahkan :
      33:56. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[1229]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam PENGHORMATAN kepadanya.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s