Berbicara dalam Pernikahan

Oleh: Fatima HK

Mari kita bicarakan soal pernikahan… lagi! Tapi percayalah kali ini berbeda. Kita sudah sering membaca artikel atau mendengar ceramah islami tentang topik ini dan harus diteruskan, karena penting untuk selalu diingatkan. Kita juga harus menyadari kriteria dalam memilih pasangan yang tepat dari sudut pandang Islam. Artikel ini akan berusaha meningkatkan kesadaran bagi individu yang akan memulai perjalanan spesial dan tentu saja yang sedang menjalani “masa pertunangan”.

Pernikahan adalah sebuah lembaga yang pertama dan utama yang membawa kita lebih dekat kepada Allah dan ahlulbait (saw.). Oleh karena itu, seseorang harus paham tentang faktor penting ini dan terus berjuang untuk mencapai tujuan; entah kita sedang dalam proses dalam memilih pasangan atau sudah memasuki lembaga sakral ini.

Mengapa ketika datang waktunya untuk memilih program studi, misalnya, kita seperti menguras semua kemungkinan dalam meneliti lembaga pendidikan terbaik dan menentukan jalan masa depan, tapi tidak menunjukkan antusias dan persiapan yang sama untuk perjalanan pernikahan? Kita baru berkonsultasi agama ketika mendapati masalah. Kenapa tidak mempersiapkan diri kita sendiri sebelum melanggar hak orang lain dan diri sendiri?

Kita akan menemukan beberapa topik yang dibicarakan di awal hubungan, dan akan ditinjau ulang serta terus dibicarakan sepanjang kehidupan pernikahan:

Agama: Bicarakan praktik dan pemikiran agama kalian. Bicarakan tentang marjak taklid [ulama rujukan] kalian dan peraturan mengenai pernikahan itu sendiri, salat, puasa, khumus, dan hak-hak orang tua kalian. Hal ini akan membantu kalian memahami sudut pandang masing-masing, khususnya jika kalian mengikuti marjak yang berbeda. Kenapa juga tidak mencari tahu tentang ulama atau topik keislaman favorit lainnya?

Keluarga: Bicarakan tentang pentingnya keluarga dan berbagi tanggung jawab. Ingatlah bahwa kedua pasangan mendapat persiapan ekstra sebagai orang tua, yang memiliki hak seimbang, dan akan ditanyakan pada Hari Akhir tentang bagaimana kita memperlakukan mereka. Beberapa orang berada dalam pengaruh budaya ketika seorang perempuan menikah, kesetiannya secara otomatis diarahkan ke keluarga pasangan dan gagal menyadari bahwa kedua pasangan bertanggung jawab dalam menjaga dan memelihara hubungan yang baru diperoleh. Diskusikan kebiasaan kita dan keluarga kita dengan pasangan yang baru sehingga ia tidak kewalahan tapi sadar, karena perlu waktu bagi orang-orang untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan orang-orang dan lingkungan yang baru. Berbagi pengalaman dapat membantu dalam menyingkirkan kegugupan atau kesalahpahaman yang muncul.

Keuangan: Diskusikan anggaran dan keuangan kita sebagai pasangan. Tidak pernah terlalu dini untuk membuat anggaran dan menyiapkan tujuan keuangan! Diskusikan tanggung jawab keuangan kita untuk orang tua; apakah mampu diberikan sekarang atau masa depan. Mulailah menabung untuk rumah, haji, ziarah, dan dana darurat. Bukalah rekening tabungan untuk masa depan anak! Lihatlah produk keuangan seperti perabotan rumah tangga, pensiun, polis asuransi kesehatan, dan lain-lain. Pernikahan layaknya sebuah bisnis kecil yang harus diusahakan. Siapkan rekening keuangan, karena akan membantu dalam menempatkan sesuatu dalam perspektif, dan evaluasikan keuangan kita secara berkala.

Tempat Tinggal: Bicarakan di mana kita akan tinggal sebagai sepasang suami-istri. Akankah tinggal bersama orang tua agar dapat menabung untuk rumah sendiri? Kalau memang begitu, bicarakan juga jangka waktunya, dan lagi, beradaptasilah dengan gaya hidup [kultur] baru yang mungkin membutuhkan waktu, agar dapat lebih nyaman. Kalau berencana untuk membeli rumah sendiri, bicarakan tempat dan jenis rumah tinggal yang dibutuhkan sesuai dengan anggaran yang ada.

Anak-Anak: Bicarakan tentang masalah memajukan keluarga kita. Kapan berencana untuk mempunyai anak dan langkah apa yang dibutuhkan untuk memastikan bahwa kita berdua siap sebagai pasangan? Mulailah membaca buku-buku agama dan pendidikan saat membesarkan anak-anak. Mulailah menabung untuk masa depan anak-anak.

Pendidikan: Bicarakan juga kesempatan pendidikan kita jika salah seorang dari pasangan masih menjalani studi. Akankah kita mendukung pasangan kita yang menjalani studi? Mungkin saja bisa melakukan belajar bersama [untuk mengisi waktu luang] sebagai pasangan, baik pendidikan agama atau yang lainnya.

Kesehatan: Bicarakan berbagai implikasi penyakit dan kesehatan dalam jangka pendek atau jangka panjang. Lakukan olahraga, dan berhentilah dari kebiasaan buruk seperti merokok. Bicarakan juga segala skenario yang mungkin terjadi, seperti anggota keluarga yang jatuh sakit dan tanggung jawab kita kepada mereka.

Karir: Bicarakan kesempatan karir bagi kedua pasangan, baik di dalam negeri atau di luar negeri. Bagaimana kita akan menghadapi pasangan yang kerja berjam-jam? Bagaimana kita menghadapi kehilangan pekerjaan dan saling mundukung keuangan masing-masing untuk memastikan seluruh tagihan terbayar tepat waktu? Bagaimana jika pasangan kita harus menerima pekerjaan dengan gaji-rendah setelah sebelumnya berhasil, baik itu karena sakit atau berubahnya kondisi? (Kita semua menghadapi penangguhan hukuman melalui kredit baru-baru ini!)

Perayaan: Bicarakan juga perayaan seperti pertunangan, pernikahan, dan walimah. Bicarakan dampak keuangan yang orang tua kita siapkan. Ingat, Islam adalah agama sederhana yang berharap pernikahan kita dilangsungkan dengan cara paling sederhana. Oleh karena itu, jika (calon) pasangan kita bersedia untuk pernikahan sederhana, kenapa tidak lebih baik menyarankan kepada keluarga yang ingin memiliki acara besar untuk berkontribusi pada kehidupan pernikahan yang baru?

Itulah beberapa isu utama yang perlu diatasi, dan dengan menjalankannya, kita akan mampu menentukan religiusitas, kealamian, dan kesesuaian masa depan pasangan kita. Tidak ada seorang pun yang bisa meramalkan masa depan, tapi kita selalu bisa merencanakannya dan mengambil ketentuan yang tepat. Seperti halnya pernikahan yang berhasil, seseorang harus memelihara komposisi utama, seperti iman, kejujuran, pengertian, dukungan, dan cinta, untuk meraih pahala.

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2010

I’ll try my best, my dear (future) wife!

11 thoughts on “Berbicara dalam Pernikahan

  1. ciyeeeh….who is then ure future wife jaa?
    well this is very useful advise for me especially :d
    tfs

    • The question is out of topic😛

      Artikel ini akan berusaha meningkatkan kesadaran bagi individu yang akan memulai perjalanan spesial dan tentu saja yang sedang menjalani “masa pertunangan”

      Which one, Kak?

  2. Sementara blm siap…mutah aja seminggu sekali, sebagai ketaat an pada agama imam, krn masyur dikitab kitab agama imam, keutamaan dan pahala mutah jauh lebih besar (hal keutamaan mutah bisa buka di youtube, banyak ulama ustadz agama imam ceramah ttg itu)
    Ya gak..?

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s