Korban Kekerasan Tayangan Media

Kita perlu tahu tentang hal ini untuk menjaga anak-anak, keponakan, dan siapa pun yang kita sayangi untuk menghindari tayangan yang sarat kekerasan. Tentu tidak dengan cara keras, tapi dengan menghindarinya dan memberikan alternatif lain yang lebih bermanfaat. Perlu kita sadari bahwa tidak semua kartun dan film animasi adalah untuk anak-anak. Orang tua wajib ikut menyaksikan dan mengawasi acara kartun yang dilihat anaknya.

Mulai dari Tom and Jerry, Scooby-Doo, Powerpuff Girls, Spongebob, hingga Happy Tree Friends dipenuhi dengan kekerasan, misteri-mistik, hingga hal-hal negatif lain yang tidak patut bagi perkembangan anak. Tidak mengherankan kalau kita kadang melihat anak kecil berani ngelawan orang tua, remaja yang penuh amarah dan gemar tawuran, sehingga dewasanya bisa melakukan hal yang lebih buruk.

Korban Kekerasan Tayangan Media

Oleh: Nabila Rizvi

Kalau kita duduk dan menyaksikan acara televisi, meskipun hanya 10 menit, cobalah untuk terus memperhatikan betapa banyak perilaku penyerangan dan kekerasan yang kita lihat—pasti kita akan kaget! Baik itu film, kartun, komik, permainan, iklan, buku, internet, atau bahkan mainan anak-anak, kita semua diarahkan kepada kekerasan dari sejak kecil. Menurut Asosiasi Psikologi Amerika, seseorang menyaksikan 8.000 pembunuhan dan 100.000 perilaku kekerasan di televisi selama masa kanak-kanak!

Tapi apa sebenarnya “perilaku penyerangan dan kekerasan”? Sebuah “perilaku penyerangan” adalah kesungguhan untuk menyakiti atau memperoleh keuntungan orang lain (secara psikologi), sedangkan sebuah “perilaku kekerasan” adalah kekuatan sesungguhnya yang digunakan untuk melawan orang lain (secara fisik). Dengan definisi tersebut, banyak yang kita temukan di media adalah kekerasan dan penyerangan.

Akademi Psikiatri Anak dan Remaja Kanada memberikan rincian untuk sebuah studi yang dilakukan oleh dua profesor Université Laval tentang kekerasan di televisi. Mereka menemukan bahwa rata-rata seseorang menyaksikan 7.636 perilaku kekerasan fisik dan psikis setiap tahun. Melihat jumlah televisi yang orang saksikan, artinya ada 83,05 perilaku kekerasan setiap jamnya—mengejutkan, bukan? Bahkan kita tidak menyadari bahwa jumlah itu sangat tinggi!

Media di sekeliling kita telah meningkatkan jumlah konten kekerasan secara drastis setiap tahunnya. Dalam studi sama yang dilakukan oleh dua profesor, data menunjukkan bahwa konten penyerangan meningkat hingga 325 persen hanya dalam dua tahun!

Masih teringat dengan fenomena “six-pocket”—gagasan bahwa keluarga yang punya sedikit anak, maka terdapat lebih banyak uang untuk masa muda—media khususnya menargetkan generasi muda karena mereka lebih punya banyak modal untuk membeli produk-produk media.

Sejak usia rawan tiga tahun, pemaparan kepada berbagai bentuk media dimulai. Ketika anak mulai dewasa, konten kekerasan mulai meresap ke dalam kartun dan mainan. Meskipun mereka tampak tidak berbahaya, secara teknis, dunia Bugs Bunny dianggap [mengandung] kekerasan—semua kasus di mana besi besar dijatuhkan di atas kepala tokoh dan ancaman yang terus-menerus mengejar satu tokoh lain akan dianggap sebagai perilaku kekerasan dan penyerangan.

Pada tahun 1950an, sebuah penelitian dilakukan di mana 12 anak-anak berusia 4 tahun dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok satu ditunjukkan kartun berjudul The Little Red Hen, sementara kelompok yang lain ditunjukkan kartun Woody Woodpecker. Kartun yang kelihatan lucu itu, Woodpecker secara teknis lebih mengandung kekerasan dibandingkan Red Hen. Setelah menyaksikan kartun, kelompok yang melihat Woodpecker mempertunjukkan perilaku lebih agresif dibandingkan kelompok lain.

Sebuah penelitian yang lebih terkenal dilakukan oleh psikolog Alfred Bandura yang dilakukan pada tahun 1960-an yang berhubungan dengan teori “pembelajaran sosial”-nya. 72 anak laki-laki dan perempuan mulai dari usia 3-6 tahun mengambil bagian dalam studi; studi ini membagi anak-anak ke dalam berbagai sub-kelompok berdasarkan jenis kelamin dan kecenderungannya. Mereka melalui serangkaian tahap di mana kelompok pertama ditunjukkan lingkungan penuh kekerasan, sementara kelompok kedua ditunjukkan lingkungan penuh kedamaian.

Salah satu studi utama dalam penelitian itu melibatkan seseorang yang melakukan kekerasan verbal dan fisik terhadap balon badut. Ketika anak-anak punya kesempatan untuk bermain dengan badut itu, mereka langsung meniru perilaku kekerasan yang sebelumnya dilihat. Kelompok anak-anak yang lain melihat seseorang bermain bersama badut, sehingga mereka melakukan hal yang sama ketika diberikan mainan. Bagian lain dari penelitian melibatkan anak-anak mengambil sekumpulan mainan—mereka yang ditunjukkan perilaku agresif memilih palu dan senjata panah, sementara anak-anak yang lain memilih krayon dan perlengkapan teh.

Penelitian ini mendukung teori Bandura tentang pembelajaran sosial (social learning) yang menunjukkan perilaku berbeda dapat dipelajari dari lingkungan seseorang, meskipun orang itu sebenarnya hanya melihat dan tidak terlibat secara aktif. Mengingat hal itu, pemuda juga dapat dipengaruhi oleh selera teman-temannya—jika video game kekerasan yang setiap orang mainkan, maka akan menambah risiko dan pengaruh kekerasan media, ikut serta atau tidak.

Setelah bertahun-tahun terekspos—tidak perlu mencari kekerasan, tapi sudah dikelilingi olehnya—hasilnya adalah habituation dan desensitization. Sementara desensitisasi mengacu pada kurangnya respon yang tepat ketika melihat kekerasan, habituasi mengacu pada ketidaksadaran akan peristiwa kekerasan. Terlepas dari perbedaannya, keduanya sangat berbahaya, khususnya bila terbawa sejak usia muda.

Insiden mengerikan seperti penembakan di Columbine dan Virginia Tech menggambarkan bagaimana pengaruh desensitisasi. Meskipun tidak diragukan ada pengaruh lain yang berperan dalam setiap peristiwa teragis, kekerasan media juga memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku penembak. Penembak Columbine mengatakan bahwa dia dipengaruhi oleh game “Doom” dan “Quake”, lokasi penembakan [dipengaruhi] adegan film The Basketball Diaries, dan berbagai kelompok musik seperti KMFDM dan juga Marilyn Manson. Penembak Virginia Tech juga dipengaruhi oleh hal-hal serupa, begitu juga Rage karya Stephen King. (Buku ini tidak dicetak lagi karena banyak menginspirasi berbagai penembakan).

Contoh lain peristiwa yang terinspirasi oleh video permainan. Seorang pembajak mobil berusia 17 tahun menembak seorang polisi dan membunuh dua orang lain, kemudian mengatakan, “Hidup ini seperti video game, setiap orang terkadang harus mati.” Sebuah contoh bagaimana kekerasan dalam media menyebabkan perilaku irasional dan berbahaya pada anak-anak seperti kejadian ketika seorang anak berusia enam tahun—yang mengaku mempelajari bagaimana menyetir dari video permainan—mengendarai mobil dan akhirnya menabrak. Contoh-contoh seperti itu akan terus terjadi, dan kekerasan media tidak diragukan lagi merupakan sumber ‘inspirasi’.

Terlepas dari semua penelitian itu, tapi tidak semua orang menjadi jahat hanya karena ekspos mereka, kan?

Pendukung kekerasan dalam media menyebutkan alasan seperti inoculation (“suntikan”) dan catharsis (perasaan bawaan). Teori inokulasi menyatakan gagasan membangun ketahanan (resistance) tentang sesuatu dengan “menyuntikkan” elemen yang sama. Konsep katarsis menyatakan bahwa kekerasan di media tidaklah nyata—seseorang dapat mengeluarkan amarah dalam video permainan daripada mencelakai seseorang. Katarsis dapat membantu mengembangkan “kesadaran” seseorang yang tidak mengekspresikan perilaku penyerangan dan kekerasan kepada orang lain.

Ada juga sejumlah kritik berkaitan dengan proses penelitianyang dilakukan: tidak seperti kehidupan sehari-hari, anak-anak di laboratorium benar-benar fokus pada kegiatan penelitian; sikap para peneliti seperti menganjurkan beberapa reaksi dari anak-anak, mendorong mereka untuk melakukan “apa yang diharapkan” dari mereka; anak-anak sadar akan perbedaan antara melakukan kekerasan terhadap sesama manusia dan mainan; anak-anak dari penelitian tidak selalu akurat mewakili masyarakat. Secara umum, penelitian memiliki bias yang berpengaruh pada hasilnya.

Alasan lain adalah karena realita: kekerasan ada di sekeliling kita—kalau pun kandungan kekerasan dari acara TV, film, internet, dan permainan dihapuskan, bagaimana dengan berita? Laporan perang dan pembunuhan yang muncul akan tetap memberikan setiap orang terbuka pada kekerasan. Karena alasan itu, nampaknya sia-sia untuk menyalahkan menyaksikan kekerasan ketika segalanya tak dapat dihindari.

Kekerasan jelas hadir bahkan dalam kartun anak-anak, tapi itu tidak berarti mereka harus dilarang—tidak semua orang dipengaruhi oleh media sehingga mereka menjadi keras. Masalah muncul ketika anak-anak ditinggalkan untuk menyaksikan dan bermain apapun yang mereka inginkan, atau jika apa yang mereka lihat tidak dibicarakan.

Sekarang ini, kartun, film, dan permainan mengutamakan kekerasan sebagai hal penting. Banyak bentuk media mempertunjukkan perilaku kekerasan tanpa memikirkan akibat: tokoh kartun yang didorong dari bukit, kemudian hidup lagi dan sehat di episode berikutnya—korban dan pelakunya tidak menderita. Secara alami, seseorang mampu membedakan antara fantasi (khayalan) dan realitas (kenyataan), tapi jika terus diarahkan pada perilaku kekerasan tanpa mempertimbangkannya, seseorang bisa jatuh pada perilaku desensitisasi. Oleh karena itu, psikolog menganjurkan bahwa kebiasaan sederhana orang tua yang berkomentar atas kekerasan dalam sebuah kartun dapat dengan mantap mempengaruhi reaksi anak terhadapnya.

Dengan mengikuti sistem rating di berbagai bentuk media, memastikan dengan sadar dan dengan lantang membedakan antara fantasi dan realita, dan memastikan bahwa kita sadar ada banyak konseksuensi atas perilaku kekerasan, kesempatan mengembangkan kepribadian keras jadi sangat rendah. Kekerasan di media yang begitu luas tidak dapat dielakkan, dan kita tidak bisa mengontrolnya—tapi apa yang bisa kita control adalah bagaimana kita memilih untuk melihatnya, dan itu membuat segalanya berbeda.

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2010

4 thoughts on “Korban Kekerasan Tayangan Media

  1. Lagi2 alat menjadi pemicu ketidakbijaksanaan dalam menggunakannya..menjadi bumerang bagi usernya. bila tak pandai memilah akan timbul mudharat.
    Terasa betul beda hidup ber tv dan tanpa tv bagi anak saya sendiri, selama 1 bulan ini tidak nonton tv/dibatasi sangat ketat, luar biasa perubahannya.. dia lebih kreatif (menggambar, dsb ) dan lebih baik daya tangkapnya (pelajaran Iqranya pindah terus 1-2 halaman tiap hari–separuh dari capaian sebelumnya sbg tv mania)..
    Semoga saja generasi kedepan baik orang tua dan anak semakin bijak memanfaatkan alat/tv ini..

    • Karena isinya yang tidak ramah bagi perkembangan anak, maka mengawasi jadi pilihan yang lebih bijak. Semoga juga para “pengusaha TV” bisa lebih bijak memanfaatkannya. Terima kasih atas sharingnya…

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s