Foto Syekh Tijani bersama Baqir Al-Shadr Membahas Syiah

Berikut ini adalah kutipan kisah dari sebuah buku perjalanan spiritual seseorang bermazhab Maliki dari Tunisia yang kemudian berpindah menjadi mazhab Ja’fari (Syiah ahlulbait). Buku yang mungkin sudah pernah kita baca dan cukup populer serta telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa menjadi Then I was Guided, ثم اهتديت, dan Akhirnya Kutemukan Kebenaran. Pertemuan Syekh Muhammad al-Tijani dengan Ayatullah Syahid Baqir al-Shadr ini akhirnya membuka keraguan dan kesalahpahaman mengenai beberapa hal tentang mazhab Syiah ahlulbait, seperti posisi marjak taklid, peringatan Asyura, tanah yang digunakan sebagai tempat sujud, tabaruk, dan lain-lain. Semoga kutipan ini bermanfaat dan foto yang ditampilkan menepis keraguan kisah tersebut.

Bersama Abu Syubbar aku pergi ke rumah Sayid Muhammad Baqir al-Shadr. Dalam perjalanan, Abu Syubbar memperlakukanku dengan sangat mesra dan bercerita ringkas tentang beberapa ulama masyhur, taklid dan sebagainya. Setibanya kami di rumah Sayid Muhammad Baqir al-Shadr, kudapati rumahnya penuh sesak dengan para thalabah (pelajar hauzah) yang kebanyakannya para pemuda yang memakai serban.

Sayid berdiri menyambut kedatangan kami. Setelah diperkenalkan, beliau menyambutku begitu mesra dan menempatkanku di sisinya. Beliau bertanya tentang Tunisia dan Aljazair dan beberapa ulama yang terkenal seperti Khidhir Husain, Thahir bin ‘Asyur dan lain sebagainya. Aku merasa gembira sekali dengan obrolannya.

Sayid Baqir al-Shadr walau memiliki wibawa yang sangat agung di sisi pengikut-pengikutnya, namun kudapati diriku tidak begitu kaku dengannya seakan telah kukenal beliau sejak lama sebelum pertemuan itu. Banyak ilmu yang sempat kutimba dari pertemuan kami pada waktu itu. Kudengar berbagai pertanyaan diajukan kepada sayid, lalu kemudian dijawabnya dengan bijak. Waktu itu aku betul-betul menyaksikan betapa tingginya nilai mentaklid para ulama yang masih hidup. Karena mereka akan segera menjawab setiap persoalan yang diajukan kepada mereka dengan sejelas-jelasnya.

Sejak saat itu, aku mulai percaya bahwa syiah adalah juga kaum muslimin yang menyembah Allah Swt. dan beriman kepada Risalah Nabi kita Muhammad saw. Sebelumnya aku masih ragu, dan setan juga menaburkan rasa was-was bahwa segala apa yang kulihat adalah sandiwara semata-mata. Mungkin inilah yang dikatakan oleh mereka sebagai taqiyah, yakni menampakkan sesuatu yang tidak mereka percayai.

Tetapi sikap demikian akhirnya segera lenyap dari benakku. Karena pikirku tidak mungkin setiap orang yang kulihat dan kusaksikan dengan bilangan yang mencapai ratusan semuanya akan bersandiwara. Untuk apa mereka lakukan itu padaku? Siapa aku? Apa yang mereka harus khawatirkan dariku sehingga mau ber-taqiyah dihadapanku? Bukankah di sini ada kitab-kitab mereka cetakan lama dan baru. Semua mengesakan Allah dan memuji rasul-Nya Muhammad saw. seperti yang kubaca dalam berbagai mukadimahnya.

Kini aku tengah berada di rumah Sayid Muhammad Baqir Ash-Shadr, seorang marjak (mujtahid yang diikuti fatwanya) Syiah yang sangat terkenal di Irak dan di luar Irak. Setiap kali nama Muhammad disebut, maka semua akan mengangkat suara agak keras membaca salawat: Allahumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad [Ya Allah sampaikanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad—eja].

Waktu salat tiba. Kami pergi ke masjid yang terletak di samping rumah. Kami salat Zuhur dan Asar yang diimami sendiri oleh Sayid Muhammad Baqir al-Shadr. Ketika itu terasa dalam diriku seakan aku tengah hidup di sekitar para sahabat yang mulia. Di antara dua salat diselingi bacaan doa dengan suara yang sangat memilukan hati. Sungguh terharunya aku dan terkesan sangat dalam. Usai baca doa, secara serentak para jemaah membaca salawat beramai-ramai: Allahumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad. Isi doa semuanya berupa pujian pada Allah Swt., Muhammad serta keluarganya yang suci.

Sayid Shadr tetap duduk di mihrabnya seusai salat. Sebagian orang datang menyalaminya lalu mengajukan berbagai pertanyaan secara perlahan atau kadang-kala dengan suara yang agak keras. Sayid juga menjawab setiap pertanyaan dengan perlahan apabila pertanyaannya memang demikian. Dari sana kupahami bahwa pertanyaan tersebut adalah yang berkaitan dengan masalah-masalah pribadi. Apabila jawaban yang diharapkan telah diperoleh, maka sipenanya akan mencium tangannya kemudian pergi. Berbahagialah mereka dengan orang alim yang mulia ini yang ikut membantu menyelesaikan segala permasalahan mereka dan ikut serta dalam suka dan duka mereka.

Sambutan sayid yang demikian hangat serta perhatiannya yang begitu tinggi membuatku seakan berada di tengah keluargaku sendiri. Kurasa seandainya aku berada bersamanya selama satu bulan saja, niscaya aku akan menjadi syiah karena melihat akhlaknya yang sangat tinggi, sikap tawaduknya dan kemurahan hatinya. Setiap kali mataku terpandang pada matanya kulihat beliau tersenyum dan memulai menyapaku. Beliau juga menanyakan keadaanku yang mungkin perlu bantuan dan sebagainya. Alhasil, sambutannya padaku sangat mesra sekali.

Selama empat hari aku jadi tamunya. Dan selama itu pula aku tidak berpisah dengannya kecuali saat tidur saja, kendatipun yang datang berziarah atau ulama-ulama yang berkunjung padanya cukup banyak. Aku juga berjumpa dengan orang-orang Saudi di sana. Aku tidak pernah tahu bahwa orang-orang Syiah juga ada di Hijaz. Demikian juga ulama-ulama dari Bahrain, Qatar, Emirat Arab, Lebanon, Syria, Iran, Afghanistan, Turki dan Afrika.

Peran Marjak Taklid

Sayid berbicara dengan mereka dan membantu hajat-hajat mereka. Semua yang keluar dari rumahnya menampakkan kegembiraan hati. Aku tidak akan pernah lupa pada suatu peristiwa yang kusaksikan di hadapan mataku sendiri dimana Sayid dapat menyelesaikannya sebuah persoalan yang berat dengan begitu bijak. Kukatakan demikian karena ia menyirat suatu pelajaran yang sangat penting agar kaum muslimin tahu betapa ruginya mereka lantaran meninggalkan hukum-hukum Allah.

Ada empat orang datang menghadap Sayid Muhammad Baqir al-Shadr. Aku menduga bahwa mereka adalah penduduk Irak, karena logat bahasanya kupahami demikian. Seorang dari mereka telah memperoleh waris sebuah rumah dari datuknya yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Kemudian rumah tersebut dijualnya kepada orang kedua yang juga hadir di sana. Setahun setelah penjualan, datanglah dua orang yang mengaku sebagai
pewaris syar’i (sah) dari si mayit.

Keempat-empat mereka duduk di hadapan sayid, dan masing-masing mengeluarkan berbagai kertas dan surat bukti. Setelah Sayid membaca surat-surat tersebut dan berbicara sejenak dengan mereka, kemudian dia keluarkan fatwanya seadil-adilnya: si pembeli tetap mempunyai hak atas rumah yang dibelinya; dan si penjual juga harus memberikan hak waris bagian dua saudara tadi dari hasil jualannya. Usai Sayid memberi fatwa empat orang ini kemudian berdiri lalu mencium tangan sayid dan mereka saling berpelukan tanda damai dan setuju.

Aku sangat terkejut dan seperti tidak percaya. Kutanyakan kepada Abu Syubbar apakah kasusnya telah selesai. Ya, jawabnya. Setiap mereka telah mendapatkan haknya masing-masing. Subhanallâh. Semudah ini dan dalam waktu yang sesingkat ini; hanya beberapa saat saja permasalahan itu dapat diselesaikan! Kasus seperti ini apabila terjadi di negeri kami, paling tidak ia akan memakan waktu sepuluh tahun sampai kadang-kadang sebagian dari mereka telah mati lalu kemudian diteruskan oleh anak-anaknya. Tambah lagi mereka harus bayar biaya pengadilan, pengacara dan lain sebagainya yang kebanyakannya tidak kurang dari nilai rumah itu sendiri. Mula-mula pengadilan umum, kemudian negeri lalu Mahkamah Agung sampai akhirnya semua kecewa setelah melalui serangkaian kekusutan serta biaya yang mahal dan menyogok sana-sini yang tidak sedikit. Disamping sikap permusuhan dan kebencian yang timbul antar keluarga akibat dari semua itu.

“Hal seperti itu juga ada di sini; bahkan lebih dari itu.” Kata Abu Syubbar menjawab. “Maksud Anda?” Tanyaku. “Jika orang mengangkat permasalahan mereka dan mengajukannya kepada pengadilan negeri maka hasilnya seperti yang Anda ceritakan tadi. Namun jika mereka mentaklid seorang marjak agama dan terikat dengan hukum-hukum Islam maka mereka tidak akan mengangkat permasalahan mereka kecuali kepadanya saja. Dan si marjak pada gilirannya akan menyelesaikan masalah mereka dalam waktu yang sangat singkat seperti yang Anda saksikan. Apakah ada hakim yang lebih baik selain daripada Allah bagi orang-orang yang berakal? Sayid Shadr juga tidak memungut sebarang biaya dari mereka. Apabila mereka pergi ke instansi pemerintah yang berkaitan niscaya mereka akan menderita kerugian yang tidak sedikit.”

Subhanallâh. Aku masih tidak percaya apa yang kulihat. Kalaulah mata ini tidak menyaksikannya sendiri mana mungkin aku akan percaya pada kejadian ini. “Begitulah wahai saudaraku. Kasus ini masih ringan dibandingkan dengan kasus-kasus yang lain yang lebih rumit dan menyangkut nyawa. Tapi para marjak ini dapat menyelesaikannya dalam waktu yang relatif singkat.”

“Jadi di Irak ini ada dua pemerintahan, pemerintahan negara dan pemerintahan ulama, begitu?” tanyaku takjub.

“Tidak. Di sini ada pemerintahan negara saja. Namun kaum muslimin dari mazhab Syiah yang bertaklid pada marjak mereka tidak memiliki sebarang hubungan dengan pemerintahan. Karena ia adalah pemerintahan Ba’ath bukan pemerintahan Islam. Mereka patuh pada hukum-hukum sipil, pajak, dan hal-hal pribadi lainnya. Seandainya terjadi suatu kasus antara seorang muslim yang saleh dengan seorang muslim lain yang tidak saleh, maka pasti ia akan terpaksa mengangkatnya kepada pengadilan negeri. Karena orang kedua ini tidak setuju dengan ketentuan hukum para ulama. Namun jika yang berselisih adalah sesama orang-orang mukmin, maka mereka akan mengembalikannya kepada para marja’. Apa saja yang dihukumkan oleh marja’ tersebut akan diterima oleh semua tanpa ada sebarang keberatan. Itulah kenapa kasus-kasus tertentu dapat diselesaikan oleh para marja’ dalam waktu satu hari, sementara pengadilan negeri mungkin berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.”

Peristiwa itu menggetarkan jiwaku hingga kemudian kurasakan suatu kesadaran untuk rela atas segala hukum Allah Swt. Dari situ aku memahami makna firman Allah yang bermaksud: “Barang siapa yang tidak menghukumkan dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka adalah orang-orang kafir. Barang siapa yang tidak menghukumkan dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka adalah orang-orang yang zalim. Dan barang siapa yang tidak menghukumkan dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Al-Maidah: 44, 45, 47).

Jiwaku juga memberontak dan memprotes orang-orang zalim yang telah mengubah hukum-hukum Allah Swt. yang adil kepada hukum buatan manusia yang zalim. Bahkan mereka mengejek hukum-hukum Allah dengan cara yang keji. Mereka katakan bahwa hukum Allah adalah barbar dan kejam karena menegakkan hukum hudud yang memotong tangan pencuri dan merajam pezina serta membunuh si pembunuh. Dari mana datangnya teori-teori yang asing seperti ini? Sudah pasti ia datang dari barat dan dari musuh-musuh Islam yang melihat bahwa pelaksanaan hukum-hukum seperti itu berarti tamatnya kekuasaan mereka secara total. Hal ini tiada lain karena mereka sendiri adalah para pencuri, pengkhianat, pezina dan pembunuh. Apabila hukum-hukum Allah dilaksanakan terhadap mereka maka kita sudah aman dari mereka.

Pada hari-hari yang penuh kenangan itu terjadi serangkaian diskusi antara aku dan Sayid Shadr. Kuajukan padanya berbagai pertanyaan, besar atau kecil dari kesimpulan yang kubuat setelah berbagai diskusi dengan teman-teman, baik yang berkaitan dengan akidah, sahabat (semoga Allah meridai mereka) atau kepercayaan mereka akan imam dua belas, Ali dan anak-anaknya dan lain sebagainya yang tidak sama dengan akidah kami. (Lanjut ke halaman 2).

6 thoughts on “Foto Syekh Tijani bersama Baqir Al-Shadr Membahas Syiah

  1. ALLAHU AKBAR..YA ALLAH YA RABBI HADIRKAN KEMBALI MANUSIA2 MULIA SEPERTI MEREKA YA RABBI..BIAR PARA MUSUHMU MENJADI SEMAKIN TAKUT….

  2. Kalau saya pribadi cenderung tidak mengucapkan tambahan tentang Ali Waliyullah dalam azan dan iqamat karena sulit untuk memilah niat antara “bagian azan/iqamat” dan “bukan bagian azan dan iqamat”

  3. “…jiwa yg brsih, merdeka, dan jauh dari kefanatikan buta niscaya akan sambut suara kebenaran…!” Syukran Ustadz., mhn ijin brbagi..

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s