Nasihat Baqir Shadr kepada Para Ulama

Ayatullah Baqir Shadr, pada hari-hari terakhir Ramadannya, memberikan ceramah dari hati-ke-hati kepada para ulama agama. Khotbah ini diterjemahkan dari sebuah buku berjudul Trends of History in the Quran oleh penulis yang sama. Inilah sebagian dari pembicaraannya:

“Seseorang bisa mencintai Allah atau mencintai dunia ini. Tapi kedua cinta itu tidak bisa ada dalam satu hati. Marilah kita uji hati ini. Marilah periksa hati kita untuk melihat apakah cinta kepada Allah atau cinta kepada dunia ini yang ada. Jika cinta kepada Allah yang ada di dalam hati kita, marilah kita perdalam. Jika cinta kepada dunia ini yang ada—semoga Allah mencegahnya, marilah kita selamatkan diri kita dari penyakit mengerikan ini.

“Setiap cinta yang ada di inti hati seseorang adalah salah satu dari dua jenis ini. Kita menyebut cinta yang sempurna sebagai cinta tingkat dua dan cinta yang tidak sempurna sebagai cinta tingkat pertama. Untuk memulainya, cinta (tingkat pertama) menjadi dasar bagi perasaan manusia, emosi dan hasrat. Setelah mendapati pekerjaan atau kebutuhan mendesak, seseorang segera kembali pada objek cintanya, karena cinta menempati pusat pikiran, perasaan dan sentimen.

“Dalam kasus cinta tingkat dua, seluruh perhatian manusia ditarik oleh objek cintanya dan tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian darinya. Dia tidak pernah lalai dari memikirkan kekasihnya.

“Kedua jenis cinta ini ditemukan dalam hal kecintaan mulia kepada Allah. Cinta tingkat pertama muncul di hati orang beriman yang hatinya terbebas dari kekotoran masalah pokok dunia ini. Segera setelah mereka terbebas dari keterikatan, mereka kembali pada keraguan yang merupakan objek cinta mereka.

“Adapun cinta tingkat kedua, ditemukan dalam hati nabi dan para imam. Kalian semua tahu Imam Ali bin Abi Thalib, yang makamnya ada di sekitar kita (Najaf). Manusia besar ini berkata, ‘Saya tidak pernah melihat hal kecuali saya melihat Allah sebelumnya, setelahnya dan bersamanya.’ (qablahu wa ba’dahu wa ma’ahu).

“Sebenarnya, hal ini karena cinta pada Allah menempati hati dan nuraninya  dan sehingga tersembunyilah segala sesuatu darinya. Bahkan ketika dia melihat manusia, dia melihat Allah. Ketika dia melihat karunia Allah, dia mengingat-Nya. Ikatan ini dengan Allah selalu hadir di depan matanya, karena Allah yang benar-benar dia cintai dan kepada-Nya harapan dan cita-cita diarahkan. Dia tidak pernah mengizinkan siapapun untuk mengalihkan perhatiannya dari Allah.”

“Cinta dunia juga mencapai tahap di mana seseorang tidak melihat apapun selain dunia di belakang, depan dan bersamanya. Apapun yang dia lakukan, dia melakukannya untuk sedikit keuntungan duniawi. Dia tidak bisa mengabdikan dirinya sendiri untuk amal saleh lebih dari beberapa hari. Inilah cinta tingkat dua pada dunia. Imam Shadiq mengatakan, ‘Dunia ini seperti air laut. Semakin seseorang meminumnya, semakin haus dia.’

“Itulah cinta kepada Allah yang menjadi dasar keberanian dan kekuatan Imam Ali. Keberaniannya tidak berasal dari buasnya binatang. Keberaniannya berasal dari iman dan cinta kepada Allah. Dia berusia 60 tahun lebih ketika melawan Khawarij dan sendirian membunuh 4.000 orang dari mereka. Dia juga berada pada puncak keberanian sekaligus kesabaran dan tidak menekan apa yang menjadi haknya. Dia tetap diam ketika diminta oleh Allah untuk mengabaikan haknya. Pada saat itu, ia berada dalam kondisi terbaik hidupnya. Hati nuraninya menyala dengan api pemuda. Tapi Islam menyuruhnya untuk tetap diam dan bersabar, meskipun pelanggaran terhadap hak-haknya.

“Setelah semua itu, apa dunia ini bagi kita? Ia adalah kumpulan imajinasi dan hal-hal khayalan. Kata-kata Harun Ar-Rasyid sangat mengesankan. Kita mengutuknya siang dan malam. Kita mengatakan bahwa kita lebih baik, lebih saleh dan lebih bertakwa daripadanya. Apakah dunia Harun Ar-Rasyid telah ditawarkan kepada kita dan kita menolaknya? Jika tidak, bagaimana bisa kita mengaku lebih saleh daripadanya. Dunia yang ditawarkan kepada kita bukan seperti milik Harun. Ia jauh lebih terbatas dan kecil tidak terbandingkan. Ia sementara dan singkat, tidak luas dan banyak seperti Harun. Demi dunia ini, ia telah memenjarakan Imam Musa Al-Kazhim! Apa kita yakin jika kita mendapatkan dunia ini, kita tidak akan membuang Imam ke dalam penjara? Sudahkah kita menguji diri sendiri dan menanyakan pada diri sendiri? Apakah dunianya Harun pernah ditawarkan kepada kita sehingga kita tahu kita lebih saleh?

“Di dunia ini, tidak akan ada kebenaran kecuali di sana ada rida Allah. Jika Imam bekerja untuk keuntungan duniawi, maka ia akan menjadi orang yang paling menderita. Tapi ketika ia bekerja untuk Allah, ia berkata pada akhir hidupnya ‘Demi Tuhan Kakbah, saya orang yang beruntung.’ Dunia ini bukan untuk siswa teologi. Seorang siswa yang mencari dunia ini bisa mendapatkan dunia ini atau akhirat. Oleh karena itu, adalah tugas kita sebagai siswa untuk membatasi upaya kita mencari akhirat bagi dunia ini yang tiada nilainya bagi kita.

“Kita harus memikirkan tentang kematian kita setiap saat. Pada saat kematiannya, ayah saya tidak setua saya sekarang (1). Saudara saya wafat pada usia lebih muda dari saya sekarang ini. Saya telah melewati rentang waktu kehidupan saya (2).

“Kita memohon kepada Allah untuk membersihkan hati kita, dan menyinarinya dengan keimanan. Semoga Dia mengubah pikiran kita agar lebih mencari rida-Nya dan memenuhi hati kita dengan cinta, takwa, dan iman pada-Nya. Semoga Dia membantu kita berdasarkan pengajaran kitab-Nya, amin.”

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2010

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s