Fondasi Moral Rumah Tangga

Di banyak kehidupan masyarakat, misalnya, di bagian tertentu suatu kota kita menemukan seorang ayah meninggalkan anak-anak mereka dalam usia muda, memaksa sang ibu untuk bekerja ekstra-keras agar mendapatkan makanan di meja mereka. Contoh seperti ini membuktikan bahwa ibu memainkan peran penting dalam membentuk sebuah rumah tangga. Sebuah masyarakat dengan fondasi ibu yang kuat akan memimpin masyarakat dengan pemimpin kuat untuk masa depan. Inilah sebabnya memahami peran seorang ibu dan perilaku yang tepat seorang suami kepada istri-istri mereka memainkan peran penting dalam mendidik anak-anak.

Di banyak kehidupan masyarakat, pengorbanan yang dilakukan oleh seorang ibu merupakan kekuatan pendorong dibalik keberhasilan dan prestasi yang diraih. Seseorang mungkin bertanya: apa peran ibu di dalam rumah tangga? Memasak? Bersih-bersih? Hal seperti itu nampaknya tidak butuh pemikiran, dan bukan syarat yang harus dipenuhi oleh seorang istri. Memasak dan membersihkan dilakukan karena cinta kepada keluarga, bukan karena dipaksa. Sebab, peran utama seorang ibu adalah mendidik anak-anak dengan baik di dalam rumah tangga.

Di awal pernikahan, kita menemukan seorang ayah bekerja keras sepanjang hari untuk memberikan kehidupan, meninggalkan istri di rumah dengan anak-anak yang pada kenyataannya lebih mendominasi sepanjang hari. Cara seorang ibu berperilaku sebagai individu dan cara dia menghadapi anak-anaknya sejalan dalam menentukan bagaimana seorang anak akan tumbuh.

Inilah sebabnya mengapa penting bagi seorang ibu untuk menjadi fondasi moral sebuah rumah tangga. Kita melihat pada hari ini, di masyarakat, para ibu yang paling sukses adalah mereka yang setia kepada keluarga dan diri sendiri, terus-menerus menjaga keluarga dan memberikan cinta kepada anak-anaknya. Anak-anak dengan ibu seperti ini adalah individu yang tegak-lurus dan pemimpin dalam masyarakat.

Sebaliknya, kita juga menemukan para ibu yang tidak peduli dalam mendekati keluarganya. Kebutuhan materialistis menjadi lebih penting dibandingkan membesarkan anak. Ketika hal ini terjadi, anak-anak terabaikan dan tidak ada yang membimbingnya. Anak-anak yang tumbuh dengan ibu macam ini akan tersesat di dalam masyarakat yang penuh jebakan. Secara moral, anak-anak ini akan mengikuti unsur-unsur setan karena mereka tidak akan mampu mengatasi godaan untuk berbuat pelanggaran. Di masyarakat kita, keluarga berada dalam kekacauan karena kurangnya fondasi moral di dalam rumah tangga.

Memahami peran ibu dalam rumah tangga sangatlah penting, tapi perlakuan yang tepat terhadap istri oleh suami juga sama pentingnya. Cinta haruslah timbal-balik dalam sebuah hubungan. Tanggung jawab suami adalah menunjukkan cinta kepada istrinya secara konsisten. Cinta timbal-balik oleh dua sisi membawa kedamaian lebih dan hubungan yang seimbang. Ketegangan antara istri dan suami akan memiliki dampak dalam perjalanan membesarkan anak. Rumah tangga yang dipenuhi ketegangan akan menggiring perpecahan rumah tangga di mana anggota keluarga tidak akan saling berbicara.

Hari ini, banyak pria memiliki pikiran bahwa wanita adalah pelayan utama dalam sebuah hubungan. Mentalitas terbelakang ini haruslah dicabut. Dikisahkan bahwa sepanjang kehidupan pernikahannya, Imam Khomeini tidak pernah meminta istrinya segelas air sekalipun. Dalam kisah seperti ini banyak pesan yang dapat dipelajari. Pria harus paham bahwa wanita bukanlah mesin yang dapat melakukan sepuluh pekerjaan sekaligus. Kita harus membantu dan menolong di dalam rumah untuk meyakinkan bahwa istri-istri kita tidak terlalu terbebani. Jika mencuci pakaian atau bahkan mencuci piring setelah makan malam dapat mengurangi beban sang istri, maka suami harus dengan senang hati melakukan tugas ini. Seorang pria harus melakukan segala sesuatu semampunya untuk menjaga istrinya bahagia, karena dialah satu-satunya yang bangun di tengah malam untuk memberi makan sang bayi dan menjaga anak ketika demam atau sakit.

Memahami dinamika keluarga adalah penting bagi setiap orang di segala usia. Kemajuan hubungan keluarga sudah pasti menghasilkan masyarakat yang berakhlak dan secara moral menegakkan pemimpin masa depan.

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2010

6 thoughts on “Fondasi Moral Rumah Tangga

  1. msh adakah suami ideal seperti imam Khomeini paling tdk mendekati??..
    yg mempunyai pemikiran seperti beliau ??
    Jarang bgt…:(
    Klw ada ksh 1 buat qu…

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s