Dosa dan Bencana Alam

Setelah geregetan membaca garis waktu di Twitter semalam, suka atau tidak suka, saya harus membahas tema ini yang bagi sebagian orang mungkin disebut sebagai “pendekatan teologis”. Bukan sebagai bentuk pembelaan terhadap eksistensi Tuhan. Terlalu tolol untuk menghubungkan hal itu. Tapi menafikan “kuasa” Tuhan dalam kejadian bencana alam yang belakangan ini terjadi bisa jadi jauh lebih tolol.

Seingat saya, berawal dari status Twitter Menkominfo, Tifatul Sembiring, yang beberapa saat setelah letusan Gunung Merapi menyebut bencana alam ini sebagai azab karena mendustakan ayat-ayat Tuhan. Langsung saja pengguna Twitter kesal dan menyebutnya tidak pantas. Tifatul serta-merta mengatakan, “Ini keyakinan saya, dari Alquran.”

Sampai akhirnya, setiap orang yang mengatakan bahwa bencana alam adalah salah satu bentuk teguran Tuhan, disebut sebagai penganut tifatulisme. Menurut saya, apa yang dikatakan oleh Tifatul Sembiring tidak sepenuhnya salah, sebagaimana saya pernah menulis tentang hal tersebut. Tapi keyakinan yang dianggap benar tersebut disampaikan di waktu yang tidak tepat! Bagaimana pantas terhadap sesama manusia, setelah bencana dan kesusahan menimpa lalu kita katakan “ini semua karena dosa kamu”?

Tapi menolak hubungan sebab-akibat kehendak Tuhan dalam “fenomena alam” yang terjadi juga menjadi sesuatu yang… melemahkan kuasa Tuhan. Lalu bagaimana hubungan dosa dengan bencana alam? Sengaja tulisan ini saya masukkan dalam kategori akidah, jadi bagi mereka yang menuhankan ilmu pengetahuan, memang akan sulit menerimanya. Karena, bagaimana bisa kita menjelaskan kuasa Tuhan yang tak terbatas dengan ilmu pengetahuan yang terbatas dan materiil?

Meyakini hal inipun tidak mengharuskan kita menolak hukum sebab-akibat alam. “Gejala-gejala dan bencana alam yang menyakitkan itu merupakan kelaziman dari perbuatan-perbuatan yang bersifat materi, di mana benda-benda itu saling berinteraksi, bergesekan dan berbenturan. Mengingat bahwa kebaikan gejala-gejala tersebut lebih banyak daripada keburukannya, hal itu tidak bertentangan dengan Hikmah Ilahiah,” jelas Syekh Taqi Misbah Yazdi. Inilah mungkin yang disebut sebagai keseimbangan alam dalam sunatullah.

Apa yang bisa kita lakukan adalah mempelajari kejadian-kejadian masa lampau—yang tercatat dalam kitab suci dan telah dibuktikan secara ilmiah kebenarannya—sebagai bekal di masa sekarang dan masa mendatang. Apakah kemudian, kejadian yang menimpa kaum terdahulu, seperti kaum Ad, Tsamud, Luth, Nuh, atau bahkan Firaun dengan laut terbelah, hanya sebatas fenomena alam? Dan kitab suci hanya sebatas buku cerita? Apakah dengan mempercayai hal itu membuat kita irasional dan terbelakang? “Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi yang bertakwa.” (QS. 2: 66).

Kalau memang ada hubungan dosa dengan bencana alam, muncul pertanyaan seperti, “Jika memang bencana terjadi karena dosa-dosa bangsa ini, maka yang duluan kena mestinya koruptor-koruptor itu.” Atau pertanyaan seperti, “Kenapa bukan Amerika dan Israel yang diberi azab oleh Tuhan?” Sebagaimana yang pernah dijelaskan dalam tulisan yang lain, “teguran” adalah salah satu bentuk kasih sayang Tuhan. Terkadang, guru memarahi murid demi kebaikan murid di masa mendatang; orang tua juga akan memarahi anaknya agar tidak mengulangi kesalahan yang telah lalu.

Tapi kalau orang tua tidak peduli dengan kelakuan buruk sang anak, maka bisa jadi orang tua itu tidak sayang kepada anaknya. Ketidakpedulian orang tua itu akan menambah buruk perilaku anak. Jadi kalau hidup kita tenang-tenang saja tanpa ujian (padahal Tuhan mengatakan bahwa mereka yang mengaku beriman akan diuji), seharusnya kita harus semakin sadar dan berhati-hati. “Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka…” (QS. Ali Imran: 178)

Pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul, kenapa ada penundaan hukuman terhadap pendosa? Syekh Qaraati mengatakan bahwa hal itu karena Tuhan memang menciptakan manusia sebagai makhluk merdeka dan bebas memilih. Potensi yang diberikan Tuhan kepada manusia yang seharusnya dimaksimalkan. Kalau Tuhan langsung memberikan hukuman kepada para pendosa, misalnya dijadikan lumpuh karena mencuri, apakah berbuat baik karena terpaksa itu patut dipuji? Apakah orang yang dipaksa bersedekah bisa dikatakan dermawan? Orang buta yang tidak melihat hal-hal haram, tidak bisa kita katakan orang suci.

Ketika dikatakan bahwa “kerusakan yang terjadi di darat dan laut karena ulah tangan manusia” dan “musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh tanganmu sendiri”, ini yang menjadi pelajaran kita bersama. Ketika manusia buang sampah sembarangan, maka terjadi “genangan”. Ketika manusia melakukan illegal logging, terjadilah banjir bandang. Ketika manusia lalai dengan mencabut bahkan mencuri alat early warning system, terjadilah korban tsunami lebih banyak.

Senada dengan hal tersebut yang menjadi masalah kita bersama adalah teguran dari Tuhan itu tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat dosa. “Peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” (QS. Al-Anfal: 25). Meskipun hukuman fisik yang diterima sama, tapi tentu saja rasa aman dan akibat yang diterima antara orang zalim dan orang yang tidak zalim berbeda. Pertanyaannya, sejauh mana kita peduli untuk mencegah kejahatan dan perbuatan zalim yang ada di sekitar kita? Kita bersyukur ketika bencana terjadi semakin banyak orang yang ingat Tuhan. Pertanyaa selanjutnya, ketika semua aman dan baik-baik saja, apakah kita tetap mengingat dan menjalankan perintah-Nya? Wallahualam.

“Tidaklah urat terkilir, batu terantuk, kaki tergelincir, tongkat tertusuk, kecuali karena dosa,” sabda Imam Ali as.

Catatan: Maybe you didn’t see any good things in this article, because I write this article just to share and spread my thoughts and feelings. Pertanyaan mengenai fenomena alam yang terjadi sebelum ada manusia, misalnya, sebagaimana yang tertulis di atas adalah keseimbangan alami. Bagaimana membedakan satu dengan yang lain? Silakan merenung. Tapi yang jelas, salah satu hikmah yang bisa kita lihat dari bencana ini adalah kelambanan penanganan dari pemerintah dan solidaritas tinggi masyarakat Indonesia. Apa hubungannya dengan tulisan ini? Tidak ada!😀

Donasikan bantuan melalui Palang Merah Indonesia

Donasikan bantuan melalui Aksi Cepat Tanggap

Artikel Terkait:

8 thoughts on “Dosa dan Bencana Alam

  1. Assalamu’aiakum.wr.wb Akhi Ali Reza.
    Firstly, i like ur article…it is very reality what it is occur in Indonesia and another country.
    and ur article is good,,u can share what u feel with ur word on ur blog.
    Don’t be unyielding man to share what u think and what ur feel. Ok
    ALLAH Hafiz

  2. ikut nimbrung ya..
    hampir senada dengan apa yang anda tulis tadi..
    “orang lagi kena musibah kok malah disalahin?” intinya begitu kan?

    Mungkin pernyataan yang bagus namun tetap tersampaikan pesannya adalah:
    “Ya Allah, hamba-Mu mohon ampun. Dikarenakan dosa hamba, saudara kami terkena getah atas dosa yang kami perbuat ini”
    Seandainya semua orang, baik yang tidak sedang tertimpa bencana maupun yang tertimpa bencana, kiranya mendengar pernyataaan ini tentunya akan melakukan introspeksi masing-masing tanpa harus menghakimi orang lain.
    jangankan jadi hakim, polisi aja bukan ;p

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s