Menangisi Kehidupan

Pagi menjelang siang pada hari Senin (16/05) yang lalu saya masih ada di sebuah stasiun, ketika tiba-tiba handphone bergetar. Suara kakak di telepon seakan ikut bergetar mengabarkan bahwa jiddah meninggal. Kabar ini mengejutkan karena beberapa hari terakhir nenek terlihat lebih sehat. Sepupu dan khalati masih sempat sarapan bersama dengannya. Setelah sarapan beliau mandi, wudu, berdoa, kemudian berjemur di halaman depan sambil duduk di kursi roda.

Saya berbicara dengan sepupu tentang betapa cepat waktu mengambil orang kesayangan satu per satu. Sifat kematian yang tidak pernah kenal permisi membuat kita harus selalu waspada. Waspada dalam menjaga perasaan orang lain, khususnya orang tua. Saya membayangkan betapa banyak kesalahan saya kepada orang tua, kerabat, dan ketika kematian mengambil mereka dan tidak ada kesempatan bagi kita untuk meminta maaf?

Tangis air mata tentu saja akan menghiasi setiap wajah yang berduka. Lebih dari sekedar karena kita kehilangan orang tersayang. Pelipur duka dari tangisan ini adalah kalimat innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’un (sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali). Pengertian kembali ke sisi Allah dan keluar dari kehidupan dunia untuk memasuki kehidupan lain inilah yang disebut dengan maut (kematian).

Kematian di sini bukan yang umum dipahami dan kita lihat sehari-hari sebagai hilangnya fungsi indera, punahnya kemampuan beraktivitas, dan lenyapnya kehidupan fisik. Definisi kematian bidang kedokteran berbeda dengan defisini kematian dalam Alquran, begitu kata Prof. Quraish Shihab. Bukankah orang yang syahid di jalan Allah tidak mati dan justru mendapat rezeki?

Di dalam Alquran surah Qâf ayat 19, kata maut diikuti dengan frasa bil-haqq. Allamah Thabathabai mengatakan bahwa dari ayat inilah kita tahu bahwa kematian bukanlah ketiadaan, kesirnaan ataulah kehilangan, tapi kembali ke sisi Allah, atau dalam bahasa Quran yang lain kembali ke kampung halaman. Rasulullah saw. bersabda, “Kalian tidak diciptakan untuk kebinasaan, tapi kekekalan. Hanya saja kalian berpindah dari satu alam ke alam lain.”

Karenanya, air mata yang kita keluarkan idealnya secara hakiki bukan karena kematian orang yang kita cintai. Tangisan itu lebih tepat jika kita tujukan kepada diri kita sendiri, yang masih terperangkap di dunia ini. Imam Husain a.s. yang berada di medan Karbala tidak menampakkan kesedihan. Ketika kondisi semakin kritis, para tentara Yazid justru melihat wajah cucu nabi semakin berseri. “Dunia adalah penjara orang-orang mukmin dan surga bagi orang-orang kafir,” ucapnya.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah bersyair:

Ketika ibumu melahirkan,
engkau menangis menjerit…
Sementara orang di sekelilingmu,
tertawa bahagia…
Maka berusahalah untuk dirimu,
ketika ajal menjemput…
Di saat orang-orang di sekelilingmu,
menangis sedih,
Ruhmu tersenyum gembira…

Catatan: Bagi yang membaca tulisan ini, kirimkan Alfatihah untuk Syarifah Chadijah binti Hussein Alattas. Terima kasih.

Baca Juga:

7 thoughts on “Menangisi Kehidupan

  1. semoga kita semua bisa belajar dari kematian-kematian yang terjadi sehingga kita tersadar bahwa kematian sangat dekat dengan kita

    semoga husnul khotimah…. aamiin

  2. Salam
    Allahhummasholi ‘ala Muhammad wa ali Muhammad
    Seluruh team banjarkuumaibungasnya.blogspot.com mengucapkan takziah bela sungkawa dan alfatihah untuk Syarifah Chadijah binti Hussein Alattas
    innalillahi wa inna ilaihi roji’uun..
    baraqallah…InsyaAllah

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s