Antara Istri Nabi dan Istri Firaun

Di beberapa tempat dalam Alquran, Allah Swt. sering kali menggunakan perumpamaan dalam menjelaskan maksud dari firman-Nya. Tamtsîl atau perumpamaan adalah memberikan kedudukan sesuatu bagi sesuatu yang lain, melalui jalan penyerupaan, pengkiasan, majâz, atau lainnya. Salah satu tujuannya adalah agar manusia berpikir dan dapat menjadikannya sebagai pelajaran (Q.S. al-Hasyr: 21).

Perumpamaan Alquran mecakup penjelasan tentang perbedaan ganjaran dan balasan, pujian dan celaan, pahala dan siksaan, meninggikan dan merendahkan perkara, dan membenarkan dan membatilkan perkara. Di antara ayat perumpamaan tersebut dapat kita temukan dalam surah at-Tahrim yang memberikan contoh tentang perempuan dari dua sisi. Berikut ini sedikit penjelasan yang saya rangkum dari buku al-Amtsâl fil Qurân karya Syekh Jafar Subhani yang diterjemahkan oleh Muhammad Ilyas.

Istri Nabi

Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. Maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (Q.S. at-Tahrim: 10)

Ayat di atas merupakan perumpamaan setelah pada ayat ketiga dalam surah yang sama Allah Swt. menceritakan kisah penyebaran rahasia Rasulullah saw. melalui sebagian istri beliau. Ayat ketiga surah at-Tahrim secara ringkas mencakup beberapa hal.

  • Pertama, Nabi Muhammad saw. merahasiakan sebuah perkataan kepada sebagian istri beliau. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa.
  • Kedua, nabi saw. berbicara kepada istrinya secara rahasia tapi dia tidak memegang rahasia suaminya bahkan menyebarkannya. Ia bicarakan rahasia itu kepada istri nabi yang lain. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah).
  • Ketiga, Allah Swt. memberitahukan penyebaran rahasia itu kepada nabi. Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad.
  • Keempat, Nabi saw. memberitahu sebagian apa yang telah Hafsah sebut dan beliau berpegang pada kemuliaan akhlak sehingga tidak menyebutkan semuanya. Maka Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). 
  • Kelima, Hafshah bertanya siapa yang telah memberi tahu dan Rasulullah saw. menjawab bahwa Allah Mahatahu. Hafshah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Allah membuka kesalahan mereka dan memerintahkan mereka untuk bertobat karena hati mereka telah menyimpan dosa. Seandainya mereka tidak berhenti bekerja sama untuk menyusahkan nabi, maka semua itu akan sia-sia karena Allah, malaikat, dan orang-orang mukmin akan membela Nabi saw. (Q.S. at-Tahrim: 4)

Surah ini menjelaskan bahwa Allah menyebutkan perumpamaan keadaan mereka berdua seperti dua istri nabi sebelumnya yang telah mengkhianati suaminya. Mereka mengira hanya bermodalkan kedekatan dengan rasul—tanpa iman, amal saleh, dan taubat—bisa menjauhkan diri dari azab Allah. Jika kedekatan itu tidak disertai iman dan amal saleh, maka tidak akan memperoleh manfaat.

Istri Firaun

Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” Juga Mariam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya. Dia termasuk orang-orang yang taat. (Q.S. at-Tahrim: 11-12)

Setelah Alquran memberikan perumpamaan dengan contoh nyata dari perbuatan buruk, dalam ayat ini Alquran menyebutkan contoh lain tentang penjagaan kehormatan dan ketakwaan perempuan. Alquran menampilkan Asiyah binti Muzahim, istri Firaun, sebagai perempuan yang mencapai keimanan dan ketakwaan tinggi. Ia mengimani Musa a.s. tatkala menyaksikan mukjizatnya. Ia berani menampakkan keimanannya dan tidak merasa takut dengan ancaman Firaun.

Tatkala menyambut kematian, ia memohon kepada Tuhan untuk dibangunkan sebuah rumah di sisi-Nya dalam surga dan diselamatkan dari perlakuan kaum zalim. Ia memilih rumah kekal di sisi Allah dibandingkan istana fana milik Firaun yang megah.

Selanjutnya, Allah juga membuat perumpamaan lain bagi wanita beriman yaitu Mariam binti Imran. Dalam ayat itu, Allah menyifati Mariam dengan wanita yang telah memelihara kehormatannya dan karenanya Allah karuniakan dengan seorang anak yang menjadi nabi agung. Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Kaum perempuan penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Mariam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim istri Firaun.

35 thoughts on “Antara Istri Nabi dan Istri Firaun

  1. sedikit nambahin ya mas….

    Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari isteri-isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah), dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafsah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu Hafsah bertanya:` Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu? `Nabi menjawab:` Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal `.(QS. 66:3)
    merupakan teguran Allah langsung krn Dia Maha Penyayang yg menginginkan keselamatan thd seluruh keluarga RasulNya (gak seperti kita mas bikin dosa segede gunung gak pake ditegur langsung)

    Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.(QS. 66:4)
    Allah dan RasulNya lebih tau akan toubat mereka (Hafsah dan Aisyah) layakkah kita memvonis sementara Rasul Saw tau mereka berdua condong untuk menerima kebaikan sehingga Belau tetap memperlakukan mrk dg baik sebagaimana sebelum ayat diatas turun.

    Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.(QS. 66:5)
    Sejarah mencatat bahwa Rasul Saw tdk menceraikan mrk. (Tuhannya akan memberikan ganti yg lebih baik kepadanya) siapa yg menggantikan mereka ?

    Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. 66:6)
    Saya yakin Rasul Saw selalu dapat menjaga keluargaNya. kalo mas yakin gak?

    ane setuju dg pendapat mas Ali ttg (QS.66 10-12) merupakan petunjuk/peringatan Allah Yang Maha Penyayang akan akibat durhaka dan taat kpd Allah dan Rasul Nya..

    • Jazakallah tambahannya. Pada dasarnya setiap orang bisa melakukan penafsiran terhadap ayat Quran. Hanya saja dalam tulisan di atas saya merujuk pada karya salah satu ulama yg cukup berkompeten (link-nya sudah ada).

      Kebetulan juga tulisan di atas fokus pada perumpamaan ayat (ada pembahasan panjang tentang hal ini), belum kepada asbab an-nuzul, sejarah individu yang disinggung dalam ayat tersebut, dan sebagainya. Setahu saya, terjemahan ayatnya (termasuk dalam kurung “condong menerima kebaikan”) berasal dari Depag, bukan ayat itu sendiri.

      Saya bermaksud mengirim paket (DVD dan buku) ke Anda. Kalau berkenan, bisa dilanjutkan dng kirim alamat ke email di sini.

    • Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. 66:6)
      Saya yakin Rasul Saw selalu dapat menjaga keluargaNya. kalo mas yakin gak?

      berati nabi tidak bisa menjaga isrti2nya dari api neraka….ckckckckck. salah pikir..?
      kontra diktif bego ga punya otak ..baca dong yg benar ..hati kamu sesat dan Allah menyesatkan kamu karena sebab kamu sendiri maka kamu ga bisa menerima kebenaran….hanya menambah kesesatan..

    • Nabi Adam a.s. tidak bisa menjaga keluarganya? Nabi Ibrahim a.s. tidak menjaga keluarganya? Nabi Nuh a.s. tidak bisa menjaga keluarganya? Nabi Luth a.s. tidak bisa menjaga keluarganya? Kalau sudah paham makna ayat dan paham kedudukan istri, silakan kembali dengan membawa akhlak. Terima kasih.

  2. namun”kasat mata” aja deh…istri Nabi Nuh dak mau beriman, walau hendak diselamatkan Nabi Nuh dg naik perahunya tapi tetap berpegang kuat pada kesesatanya dan memilih mati tenggelam, begitu juga istri Nabi Luth yg menentang suaminya tdk mau beriman dg meninggalkan kebiasaan kaumnya yang homo sex, kok dibandingin dg istri Rasulullah Saw yang muslimah (perumpamaan yg sangat dipaksakan). kisah istri Nabi Ayub As yg meninggalkan beliau dikala sakit dan miskin lalu dimaafkan Allah dan RasulNya Ayub As, dpt menjadi pembanding yg lebih tepat walaupun kesalahanya mungkin lebih berat dibanding istri Rasul Saw.
    Asbabun nuzul nya ok telah disepakati ulama, namun perumpamaan yg lebih tepatnya vonis spt dikemukakan diatas hanya disepakati rafidah.

    • “Kasat mata” dan asbabun nuzulnya memang demikian, sehingga saya tidak perlu menambahkan dengan hadis mengenai pribadi yang dimaksud.

  3. Disurat tsb At Tahrim . bisa disimpulkan kriteriia sbb :

    1. Beriman yg diwakili Asiyah istri Firaun dan Mariam binti Imran
    2. Kafir yg diwakili Istri Nabi Nuh as dan Istri Nabi Luth as.

    Tapi kok Yg Munafik kagak ada tamsilnya pak eja….bukankah ada 3 kelompok manusia dlm
    Islam Beriman, Kafir dan Munafik…. apakah ada di surat lain yg menjelaskan wanita munafik ?…pls share….

    • Pertanyaan yg bagus. Meski saya tidak bisa memberikan jawaban memuaskan, saya akan beri sedikit preview. Karya Syekh Subhani ini memuat penjelasan mengenai apa itu tamsil, macam, pembagian, baik dalam Quran maupun hadis (penting untuk pendahuluan). Kedua, dari yg saya perhatikan, tidak semua surah atau hadis memberikan tamsil kpd tiga kelompok tersebut (seperti dalam Q.S. 2: 14-18). Tapi kadang juga membagi hanya pada kafir-mukmin, musyrik-mukmin, hak-batil, dsb. Mengenai pria dan wanita munafik, mungkin bisa rujuk ke Q.S. 9: 67. Wallahualam.

  4. @ Boy
    Rosululloh saw ‘TERLALU DAN SANGAT BISA MENJAGA’ keluarganya! Hanya saja ada sebagian dari para Istri Beliau yang ‘TIDAK MAU DIJAGA OLEH NABI SAW NAMUN SENANTIASA MENYAKITI HATI BELIAU SAW YG SUCI DAN MULIA ITU!!!’ Salam Damai.

  5. Tambahan : Apakah manusia seluruh dunia Islam? Kalo tidak, apakah Rosululloh saw tidak mampu alias bego dalam berdakwah mengajarkan Tauhid ( Islam ) ? Mohon direnungkan!!!

  6. istri Rasul gak mau dijaga….dapat sumber drmn ?…..jgn sembarang menuduh mas, beliau istri Rasul Saw yg selama hidup Rasul Saw memperlakukan nya dg baik lo, krn Ummul Mukminin Aisyah dipilihkan Allah untuk Rasul Saw :

    Pernikahan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dengan beliau bukan sembarang pernikahan, akan tetapi perintah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana hal tersebut dikisahkan oleh wanita yang jujur ini rodhiyallohu ‘anhaa dalam Shohih Bukhori bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

    أُرِيْتُكِ فِي الْمَنَامِ ثَلاَثَ لَيَالٍ؛ جَاءَنِي بِكِ الْمَلَكُ فِي سَرَقَةٍ مِنْ حَرِيْرٍ فَيَقُوْلُ: هَذِهِ امْرَأَتُكَ، فَأَكْشِفُ عَنْ وَجْهِكِ، فَإِذَا أَنْتِ هِيَ، فَأَقُوْلُ: إِنْ يَكُ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ يُمْضِهِ.

    “Engkau ditampakkan padaku dalam mimpi selama tiga malam; seorang malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih, lalu malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu’, maka aku menyingkap wajahmu dan ternyata engkau, lalu kukatakan, ‘Seandainya mimpi ini datangnya dari Alloh, pasti Dia akan menjalankannya’.

    Dari Utbah bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata, bahwasanya ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anhaa – istri Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam – berkata:

    “لَمَّا ثَقُلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَأْذَنَ أَزْوَاجَهُ أَنْ يُمَرَّضَ فِي بَيْتِي، فَأَذِنَّ لَهُ”.

    Tatkala Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam sakit berat, beliau meminta ijin kepada istri-istrinya agar beliau dirawat di rumahku.

    satu lagi dari Amr bin Yasir tuk referensi akan mulianya Ummul Mukminin Aisyah.
    (Aisyah adalah istri Rasul dunia Akhirat)

    لَمَّا بَعَثَ عَلِيٌّ عَمَّارًا وَالْحَسَنَ إِلَى الْكُوفَةِ لِيَسْتَنْفِرَهُمْ، خَطَبَ عَمَّارٌ فَقَالَ: إِنِّي َلأَعْلَمُ أَنَّهَا زَوْجَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَلَكِنَّ اللَّهَ ابْتَلاَكُمْ لِتَتَّبِعُوْهُ أَوْ إِيَّاهَا.

    Ketika Ali mengutus Ammar dan al-Hasan ke Kufah untuk memerintahkan mereka keluar berperang, Ammar berpidato lalu berkata, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui bahwasanya dia (‘Aisyah) adalah istri beliau (Rosululloh) di dunia dan di akhirat, namun Alloh menguji kalian apakah kalian mengikuti dia (Ali) atau beliau (‘Aisyah).

    .
    Apakah manusia seluruh dunia Islam? Kalo tidak, apakah Rosululloh saw tidak mampu alias bego dalam berdakwah mengajarkan Tauhid ( Islam ) ? Mohon direnungkan!!

    seluruh manusia????…kok dibandingin dg keluarga Rasul yg Beliau jaga disaat Beliau msh hidup..
    mas JACK ,dakwah selanjutnya di teruskan oleh sahabat-sahabat mulia hingga sampailah ke bumi nusantara ini .
    Alhamdulillah yg sampai bkn agama para penghujat yg krn dengki akibat runtuhnya kekaisaran persia lantas mempropagandakan fitnah dan kedengkian.

    • namun Alloh menguji kalian apakah kalian mengikuti dia (Ali) atau beliau (‘Aisyah).

      Hadis riwayat siapa? Antum mengikuti Ali atau Aisyah?

      Sekedar mengingatkan, di saat Nabi saw. hidup pun ada dari kalangan keluarga besar dan sahabat beliau yg tidak beriman dengan tulus. Tapi itu bukan ukuran. Walhasil, semoga tidak ada yg membawa hadis tentang sisi lain kehidupan Ummulmukminin Aisyah. Kalau ada yg menyampaikan, bisa panjang perdebatan tentangnya; dan itu bukan tujuan😀

  7. KALAU SESEORANG BERANI MENENTANG PERINTAH RASULULLAH BERARTI ORANG ITU SUDAH JATUH DALAM KEKUFURAN (BERBALIK KEBELAKANG=MENGINGKARI=MENOLAK=TIDAK MAU)! Dan pertanyaannya adalah : Apakah Aisyah termasuk ‘seseorang’ yang ada didalam pernytaan tsb ato tidak?

  8. Ana bingung antum mencontoh siapa?? kalau Quran syiah sama dg asbabunnuzul jg sama silahkan baca “surah An-Nur” …yg .sebagianya adalah persaksian Allah atas kesucian dan kemuliaan Umul Mukminin Aisyah, (Allah Maha tahu awal dan akhir)
    juga silakan antum cari & baca hadis2 ttg bgm sikap Rasul thd Aisyah selama hidup Beliau, (ini ana ragu antum bisa dpt ..hehehe krn konon kalian gak pernah mau denger/pake hadis hingga buku2 agama antum gak memuat perkataan dan perbuatan Rasul Saw)
    yg ini ajalah,..antum baca tarikh ttg perlakuan Imam Ali thd Umul Mukminin saat perang jamal,. semoga antum bisa mencontoh tauladan Manusia penebar rahmat tsb.

    • Ini menarik karena Anda berusaha mempertahankan seseorang yg tidak suci, sementara di kitab yg sama Anda meyakini bahwa orang yg paling maksum (Nabi Muhammad) berbuat sesuatu yg tidak suci.

      Saya pernah baca riwayat itu, meski bertentangan dengan kesaksian Khalifah Umar tentang dua wanita yg melawan nabi dalam surah At-Tahrim di atas (baca satu riwayatnya dalam Bukhari di sini). Juga menimbulkan pertanyaan karena nabi lalai terhadap istrinya sendiri sampai tertinggal, lalu setelah tersadar, nabi terpengaruh oleh gosip yg disebarkan oleh sahabat berbulan lamanya, sampai Ali menyarankan nabi untuk mentalak Aisyah? Sila dicari “alternatif” riwayat lain tentang hadis ifik (yakni tuduhan terhadap istri nabi, Mariah Al-Qibthiah).

      Menarik memang hubungan antara Ali dengan Aisyah. Tapi perlakuan Ali tidak termasuk pembahasan karena bukan ia fokus pribadi yg dibicarakan. Justru seharusnya pertanyakan perlakuan penentangan Aisyah terhadap Ali sebagai khalifah sah. Kalau mengkritik perlakuan khalifah yg empat bisa dianggap munafik, kafir, sesat, bagaimana orang yang memeranginya? Saya tidak ingin panjang mendedah pribadi Aisyah yg menyebut Khadijah sebagai perempuan ompong bergusi merah (Bukhari, baca di sini). Saya juga tidak ingin perpanjang lebar dengan ilmu konon. Syiah ahlulbait menghormati umulmukminin sesuai dengan pribadinya.

  9. tdk suci itukan tuduhan klasik dari kaum anda, makanya ana berusaha membuka cakrawala bagaimana sikap Rasul Saw yg paling tahu akan makna ayat2 Al-quran, baik ayat At-Tahrim yg antum ulas diatas maupun An-nur.
    sdh sepatutnya dalam bersikap Rasul Saw akan sesuai dg apa yg Allah wahyukan. akan jadi aneh kalau setelah divonis durhaka, kemudian berzinah namun perlakuan Rasul Saw sebagai pemilik otoritas agama, sebagai hakim yg memutuskan (yg bahkan kalau Fatimah mencuri Beliau sendiri akan memotong tangan Fatimah). tapi tetap memperlakukan UmulMukminin sebagai istri tercinta …lalu ana minta antum baca tarikh perang jamal biar antum tahu bgmn sikap Imam Ali thd Aisyah.
    ini masuk pembahasan krn Sikap Ali yg pemegang kunci ilmu tentu sesuai dg ilmunya (dan kami meniru sikap beliau),..lalu siapa yg antum tiru dlm menghujat/memfitnah Aisyah ? Nabi Saw ? atau Ali ?……atau siapa ?.perlu antum selidiki…
    akan hal nya ifik ,kalau riwayat dari syiah memang sudah makfum dg fitnah dan simpang siur yg tdk jelas periwayatannya.(baca aja sendiri buku buku rujukan syiah ), atau mungkin antum jika kelak jadi ustadz syiah akan mengeluarkan/mengarang riwayat baru yg lebih buruk ?

    Didalam riwayat Tirmidzi dikisahkan…
    “Bahwa ada seseorang yang menghina Aisyah dihadapan Ammar bin Yasir
    sehingga Ammar berseru kepadanya,’ Sungguh celaka kamu. Kamu telah
    menyakiti istri kecintaan Rasulullah SAW.”

    selamat anda dkk..termasuk dlm apa yg diucapkan Amr bin Yasir

    • “Tuduhan” tidak suci ada di kitab Bukhari yg saya kutip di atas. Saya rasa cukup ketika nabi saw. berkata kepada Aisyah “Tidak ada wanita di muka bumi kecuali Khadijah” (Bukhari, di sini) untuk memperlihatkan pribadinya. Tidak ada yg meragukan keutamaan Imam Ali dalam menyikapi Perang Jamal, silakan antum baca Nahjul Balaghah. Tapi jangan tutup fakta bahwa terjadi perang antara Ali dan Aisyah, Talhah, Zubair. Tanya kenapa?

      Setelah berkomentar dengan ilmu konon, sekarang berandai-andai saya membuat riwayat baru?? Kalau penghinaan terhadap Aisyah, saya pikir Anda telat dan belum membaca fatwa haram tentang itu. Baca di sini. Adakah Anda melihat penghinaan dalam blog ini?

  10. yup..ana sangat setuju mengenai kecintaan Rasul Saw pada Khadijah, serta kecemburuan Aisyah padanya dan sebagian riwayat sebagaimana yg antum maksud Aisyah sendiri yg meriwayatkan,
    sangat manusiawi (rasa cemburu Aisyah) karena selama Rasul Saw hidup bersama istri istri beliau (Umul Mukminin Khadijah telah berpulang),Aisyah lah yg paling Beliau cintai namun Rasul Saw terkadang menyebut2 keutamaan Khadijah serta cinta Beliau padanya.
    in this case there is no difference between us

    who make a difference is INTERPRETATION QS At-Tahrim 10 above by aligning Aisyah with the wife of Prophet Lut and Noah who God punished for choosing reneges / pagan and did not want to believe of Allah and His Messenger

    link ini cukup menarik untuk di baca http://kumpulanhadistkumpulanhadist.blogspot.com/

    • KIta tidak bisa selalu membenarkan kesalahan setiap orang hanya alasan “manusiawi”. Jika kita diperintahkan untuk berperilaku karena Allah semata, apakah cemburu karena Allah, dengan menyebut Khadijah (istri “monogami” tercinta) yg sudah meninggal sebagai wanita tua Quraisy ompong bergusi merah?

      Gelar terhormat ummulmukminin diberikan agar tidak ada lagi sahabat dan orang-orang yg hendak menikahi istri nabi setelah wafatnya; karena mereka adalah ibu. Sejalan dengan artikel ini, gelar itu bukan modal keselamatan dan tidak adanya konsekuensi. Sebagaimana disebut surah Al-Ahzab, jika istri nabi berbuat baik maka pahalanya dua kali, begitu juga jika berbuat keji maka siksanya dua kali pula. Contoh melalui perumpamaan dalam Alquran sudah ada.

  11. Rosulullah SAWW menikahi banyak wanita, merupakan perintah Allah SWT, dengan jalan menikah dengan banyak wanita yg berlainan SUKU (Bani ) akan memersatukan suku2 tersebut, karena pd zaman itu walau sudah banyak yg masuk Islam tapi masih sering terjadi perselisihan antar suku, masalah manusiawi bila Aisyah punya rasa cemburu pada Umul Mukminin Khoddijah yg sudah wafat berarti akalnya sudah tertutup hawa nafsunya, berarti layakkah Aisyah mendampingi Rosulullah? Istri YG paling dicintai ya sudah jelas KHODDIJAH , perjuangannya bersama Rosulullah dalam penyebaranan agama Islam di Makah amat berat , tidak seperti Aisyah Agama Islam sudah banyak pengikutnya dan Rosulullah menjadi pemimpin .

  12. sampean itu siapa kok membicrakan orang… coba dilihat dirimu sendiri… apakah kamu lebih baik dari mereka… atau hanya nafsumu aja yg bicara, agar diliat orang bahwa dirimu lebih islam dari yang lain…

  13. layakah Aisyah mendampingi Rasul Saw ?,,,, pertanyaan yg terlontar dari org yg menutup akalnya dg kefanatikan. wong sampai ajal Sang Rasul mulia dak pernah mengutuk apalagi sampai menceraikan Aisyah, bahkan Rasul Penghulu manusia wafat di rumah Beliau dan Aisyah
    lantas ana ulang kembali pertanyaan ana, anda sekalian mencontoh siapa ? (dlm menghujat)
    wong Imam Ali yg berperang dg beliau dak pernah mencela/memaki UMULMUKMININ AISYAH, dan sumber hujatan tsb dpt kita telaah bersama.

  14. benar2 sapi, ente tanya bagian mana caci maki ? artikel di atas adalah bentuk cacian yang dibungkus dengan akhlak munafik….

    ana tanya ente sekarang ? ente tahu nggak kalau istri2 nabi itu adalah ummul mukminin ? gelar yang Allah tautkan pada istri2 nabi, Muhammad yang tidak ditautkan untuk istri2 nabi lainnya…

    ente itu yang harusnya belajar akhlak, orang-orang yang memperbincangkan masalah rumah tangga nabi seperti anda dan ulama anda hanya sekelompok keledai yang pura2 santun.

    “Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir.” baca baik-baik!!! perumpamaan bagi orang-orang kafir.
    lalu ente bACA lagi ” dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (Q.S. at-Tahrim: 10)”

    keras ancaman Allah di sana kepada mereka… NERAKA!!!!! Sama juga ketika Allah mengancam keras orang-orang kafir lainnya “Celaka kedua tangan Abulahab”

    semuanya sangat berbeda dengan teguran Allah kepada nabi dan kedua istrinya=====> sifatnya EDUKASI….!!!!!

    • Salah satu alasan penyematan “ibu orang-orang beriman” adalah niatan sahabat untuk menikahi istri nabi saw. setelah wafatnya nabi. Maka turun ayat “…dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat.” Statusnya sebagai ibu maka haram untuk menikahinya. Ibu sebagai orang tua wajib ditaati selama tidak menyelisihi Allah dan rasul-Nya, dan bergaul dengan baik kepadanya juga wajib apapun keyakinannya.

      Seluruh seluk beluk nabi memang pantas dibicarakan, tapi sangat tidak pantas jika berniat menikahi istrinya setelah kewafatannya. Terakhir, kalau ente sudah belajar akhlak, please jangan bawa-bawa sapi ke blog saya. Enggak muat.

  15. emang ente sapi…!!! dan mungkin sapi masih lebih baik dari ente!!!, nah itu ente tahu ? “…dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini istri- istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat.” ? saking dimuliakannya kamu tidak boleh menyakiti hati Rasul dengan mengawini Istri-istrinya, karena mereka adalah wanita-wanita mulia, istri-istri beliau di dunia dan akhirat.

    bukan cuman itu bahkan Allah memuliakan mereka dengan memerintahkan Nabi untuk mengganti mereka dengan yang lain dalam QS. Al-Ahzab ayat 52

    “Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain)….”.

    Allah mendahulukan mereka di awal ayat untuk melaksanakan perintah suci bagi kaum perempuan beriman untuk berhijab dalam QS. Al-Ahzab ; 55

    “Hai Nabi, katakanlah kepada “isteri-isterimu”, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”

    nah sekarang ane kasih tahu ente akhlak ente yang bobrok…!!!!

    Allah telah memberitakan kedudukan dan kemulian mereka Istri2 Nabi SAW dalam ayat ke 53 QS. Al-Ahzab :

    “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.”

    Jika meminta sesuatu keperluan kepada Istri2 Nabi, para sahabat harus meminta dari belakang tabir, karena itu lebih suci bagi hati mereka dan juga hati Istri2 Nabi, sehingga demikian mereka tidak menyakiti Hati Nabi, maka bagaimanakah dengan ente yang tanpa tabir secara terang-terangan memperbincangkan kedua Istrinya dengan perumpamaan interprestasi keledai entwe. Tidakkah ente berpikir walau sejenak bahwa itu sangat menyakiti Hati Nabi SAW ??

    bagi ana bicara dengan orang2 seperti ente tidak perlu bertutur halus, karena ente pun tidak bertutur halus, kalau pun ada, tutr bahasa halus ente itu dibungkus dengan kedengkian, yang sok cerdas padahal dungu dan tidak tahu malu…!!!!

    • Siapa yg lebih bodoh, sapi atau orang yg berbicara kepada sapi? Ah, lebih baik kita membaca ayat “Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” Kalau pun saya dianggap non-muslim, mungkin Anda baru saja kehilangan satu orang yg tertarik dengan seruan Anda.

  16. maaf revisi “bukan cuman itu bahkan Allah memuliakan mereka dengan memerintahkan Nabi untuk “TIDAK” mengganti mereka dengan yang lain dalam QS. Al-Ahzab ayat 52

    “Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain)….”.

  17. Dalam satu perdebatan : apakah Nabi s.a.w bersalah hingga mendapat teguran dari Allah swt dalam QS. 66 : 1 dan Qs 80: , satu golongan berjuang untuk mengatakan ,; tidak logis jika Nabi s.a.w bersalah, dan teguran tersebut tidak dimaksudkan untuk pribadi Nabi s.a.w, pendapat ini pun di setujui oleh golongan lain yang percaya kemaksuman Nabi s.a.w.
    Akan tetapi, ketika membicarakan tentang Istri2 Nabi s.a.w, golongan ini malah dengan semangat membongkar aib mereka, dan bahkan sebagian tidak segan2 melaknat istri2 Nabi s.a.w.

    Wahai kaum yang mengaku sebagai ummat Nabi yang Mulia, tanpa cela dan berakhlak tiada tara, apa yang kalian akan katakan jika semua tuduhan itu fitnah.? apa yang akan kalian ucapkan di hadapan al-Mustofa Sayyidina Muhammad s.a.w, tentang kritikan kalian terhadap Istri2 beliau ? apakah kalian anggap Istri2 Nabi s.a.w merupakan sesuatu hal yang beda dalam kehidupan Rasulullah s.a.w ? lalu apa alasan Rasulullah s.a.w menikahkan mereka ? ( mohon penjelasan ) adakah kalian punya dalil yang sahih yang mengizinkan perbuatan kalian ini ?ataukah hanya sesuai hawa nafsu kebebasan berpendapat ?
    Mungkin ada satu hal lagi yang diluar konteks tulisan diatas, ketika saya membaca buku di perpustakaan ICC Jakarta, disana di sebutkan Nabi s.a.w marah pada Istri beliau yang cemburu dengan ucapan sangat tidak pantas…apakah ini yang kalian yakini ?

    Tidak mudah untuk memahami hadits2 yang terkandung dalam kitab Sahih Bukhari,.. Abuya Al-Sayyid Muhammad al-Hasan ibn Alawi ibn Abbas ibn Abd al-Aziz al-Maliki al-Hasani, sangat ketat dalam meluluskan murid2 beliau yang mempelajari Kitab ini. namun sebagian orang menganggap remeh, menukil isi kitab ini tanpa penjelasan yang memadai dan bimbingan seorang guru yang tepat, hasilnya……

    • Sejarah yang merekam kehidupan pribadi di zaman dahulu, entah itu perbuatan baik atau buruk–bagi saya–bukanlah sebuah kritikan (termasuk ketika diungkap), tetapi pelajaran dalam memilih siapa orang-orang yang layak dijadikan teladan. Begitu juga jika melihat contoh penolakan terhadap kebenaran dari kerabat atau istri para nabi terdahulu maka itu sebuah pelajaran. Namun caci maki atau penghinaan tidak pernah dibenarkan. Kalau ada golongan yang meyakini nabi (pernah) melakukan perbuatan tidak pantas, mengapa marah jika orang-orang di sekeliling nabi berbuat tak pantas?

    • Dari pernyataan anda.dapat disimpulkan bahwa Nabi s.a.w tidak dapat dijadikan teladan khususnya dalam berkeluarga atau salah mengambil pilihan ? Jika istri Nabi-Nabi lain dijadikan alasan, apakah konteks atau kasusnya sama menurut anda?

    • Jika ukuran mutlak teladan adalah orang-orang sekelilingnya, berapa banyak nabi yang tidak memenuhi persyaratan tersebut? Menurut ayat, kewajiban mereka menyampaikan, bukan memberi hidayah. Terima kasih.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s