Membangun Pernikahan yang Harmonis

Oleh: Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Bismillahirrahmannirrahim. Sebelum mengikrarkan sebagai suami dan istri, saya ingin menyampaikan beberapa kata kepada pengantin dan keluarganya yang terhormat. Pertama, saya harus mengatakan bahwa akibat langsung dari ucapan Anda sebagai suami dan istri adalah terbangunnya sebuah hubungan Ilahi. Benar bahwa ia merupakan hubungan manusia paling natural, maka Allah menjadikan hubungan natural dan naluriah ini menjadi sebuah hubungan suci yang akan membuahkan hasil begitu besar. Dengan demikian, pentingnya membentuk sebuah keluarga tidak boleh diremehkan.

Salah satu kesalahan penting yang dilakukan Barat hari ini adalah menganggap remeh dan mendiskreditkan pernikahan dan pembentukkan keluarga. Peradaban Barat memperlakukan institusi penting ini—yakni sebuah ikatan besar antara pria dan wanita—sebagai sesuatu yang dangkal dan biasa, seperti mengganti pakaian kemudian pergi ke toko yang berbeda. Dari sudut pandang ini, emosi individu, selera, dan perasaan naluriah berlawanan dengan kelanjutan hubungan keluarga. Jadi, setiap kali salah satu pasangan memiliki perbedaan tentang sesuatu hal maka dengan segera pasangan pernikahan menghadapi masalah dan kelemahan. Jika salah satu pasangan menyukai hal lain yang lebih menyenangkan, maka fondasi institusi keluarga akan terancam!

Islam tidak membenarkan perilaku seperti itu. Keluarga dalam Islam didasari oleh fondasi paling kuat. Pertama, ia menganjurkan Anda untuk hati-hati dalam memilih pasangan yang baik, jujur; pasangan yang sesuai bagi kehidupan, dan Anda akan berusaha memberikan perhatian penuh bagi kelangsungan kebahagiaan dan kelestarian hubungan manusia terbesar ini. Anda harus melakukan yang terbaik untuk menjaga hubungan baru ini, seperti merawat tunas; sehingga ia tumbuh menjadi indah, subur menghasilkan buah yang manis.

Dalam hal ini, ia tidak berhubungan dengan tingkat keuangan, sains, atau kerja profesional Anda. Emosi dasar manusia, berkaitan dengan pernikahan dan pembentukan keluarga, hampir sama bagi seorang ilmuwan, akademisi, olahragawan, atau pekerja biasa, karena perasaan alami dan kebutuhan utama ini sama bagi semua manusia. Tidak ada bedanya dalam hal dia kaya ataupun miskin. Kedua pasangan ingin rumah mereka menjadi surga keselamatan, kenyamanan, dan ketenangan pikiran setelah menyelesaikan tugas sehari-hari. Semua suami dan istri memilki keinginan seperti itu dan harapan bagi kehidupan pernikahan mereka: suasana bahagia dan manis bagi mereka berdua. Mereka mungkin terlibat dalam bisnis, politik, pekerjaan rumah tangga, dan membesarkan anak, entah bagaimana mereka membagi tugas dan kewajiban, keduanya lelah baik karena yang satu bekerja di rumah dan lainnya kembali dari kerja, keduanya mengharapkan lingkungan keluarga yang bahagia, dan ini harapan yang sangat dibenarkan.

Ini bukan tentang bagaimana Anda menjadi orang berada. Banyak orang kaya yang tidak dapat menikmati kehidupan keluarga yang bahagia: hidupnya penuh dengan perselisihan, kecemburuan, dan harapan yang keliru. Seorang pria atau wanita yang berkuasa yang memerintah rakyat mungkin dihadapkan dengan banyak masalah pribadi di rumah; dia mungkin memiliki pasangan yang pemarah, aneh, pemalas. Oleh karena itu, hal-hal seperti kekayaan, gelar sosial, hidup di kota atau daerah pedesaan tidak mengubah atmosfir kekeluargaan jika pasangan tidak memahami dan bersepakat dalam hubungan pribadi mereka satu sama lain.

Karenanya Alquranulkarim menyatakan: “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya.” (7: 189)

Kata yang digunakan dalam Alquran berarti “tinggal satu sama lain dalam cinta dan menemukan ketenangan dan kedamaian satu sama lain”. Suami dan istri harus menjadi sumber kedamaian, ketentraman, cinta dan ketenangan untuk satu sama lain. Kalian, pemuda dan pemudi, harus selalu mengingat hal ini. Pernikahan kalian akan membuahkan hasil dalam penciptaan sebuah keluarga. Rumah yang Anda tinggali harus menjadi tempat istirahat, ketenangan, dan keamanan bagi kalian berdua dan anak-anak kalian.

Poin berikutnya yang harus saya sebutkan bahwa keadaan seperti itu tidak terjadi secara otomatis. Anda harus mengusahakannya! Untuk menciptakan atmosfir ini, pasangan harus berbaik hati dan mencintai satu sama lain. Anda mungkin bertanya: bagaimana caranya? Seperti ungkapan masyhur mengatakan, “Anda tidak bisa membawa cinta dan kebaikan dengan menggunakan tongkat (sulap)!” Cinta ibarat bunga lembut; harus diairi, dijaga dan dirawat. Apapun yang Anda lakukan untuk mendapatkan bunga indah juga harus Anda lakukan untuk cinta. Semua ini sepenuhnya ada di tangan kalian sendiri, wahai para pemuda dan pemudi. Cara untuk mencapai hal ini adalah saling setia satu sama lain dan menunjukkan kepada pasangan Anda cinta dan perhatian sejati. Buktikan bahwa Anda bergantung satu sama lain, dan semua ini akan membantu memperkuat rasa cinta dalam hati pasangan Anda.

Semua perintah Islam tentang hijab terutama ditujukan untuk mengamankan ikatan pernikahan. Jika Anda sebagai pengantin muda tidak memperhatikannya saat berada di luar rumah; jika mata Anda tertarik pada pria atau wanita lain; jika hati Anda mulai condong pada daya tarik terluar; dan jika Anda terlibat dalam kontak tertentu di luar pernikahan dengan pria atau wanita lain yang setiap hari mungkin terjadi di banyak tempat dalam berbagai bentuk dan warna, maka konsekuensi bagi pernikahan Anda akan menjadi bencana besar.

Pertama, pasangan Anda secara bertahap akan kehilangan daya tarik orisinal yang penting untuk saling mencintai dan berbuat baik. Meskipun seseorang memiliki ketampanan masyhur Nabi Yusuf, dengan berlalunya waktu maka itu akan menjadi fenomena biasa. Oleh karena itu, seperti contoh bunga di atas, pernikahan dan cinta Anda harus terus dijaga dan dirawat.

Seperti telah disebutkan, cinta dan kebaikan sejati tidak datang dengan sendirinya; Anda harus berusaha untuknya. Di Barat, dalam komunitas tertentu, laki-laki dan perempuan terlibat dalam kontak seksual sebelum menikah. Itu sebabnya usia pernikahan mereka lebih tinggi dibandingkan beberapa masyarakat lain, biasanya antara 20 dan 30, dan dalam banyak kasus, bahkan lebih dari 30 tahun. Dalam masyarakat seperti ini, baik pria maupun wanita, khususnya pria, terlibat dalam segala macam hubungan seksual sebelum pernikahan. Dengan demikian, pernikahan mereka nantinya tidak akan ada hal yang baru, dan bukan sebuah peristiwa penting. Kemudian, bagaimana mereka bisa dibandingkan dengan pemuda muslim yang menjauhkan diri dari pelanggaran hukum seperti itu dan hidup dalam kehormatan dan kemuliaan? Akankah dua pasangan berbeda dari pria dan wanita memiliki nilai yang sama untuk menikah? Apakah mereka menghormati pernikahan dan kehidupan keluarga yang sama? Tentu saja tidak!

Seseorang harus selalu ingat bahwa tidak ada pria atau wanita tanpa kekurangan, cacat, atau kelemahan, dan karenanya tidak ada yang sempurna. Oleh karena itu, Anda akan menyadari bahwa seluruh hukum dan perintah Islam diarahkan untuk menjaga ikatan pernikahan. Hijab juga untuk tujuan ini. Ia bermakna tidak menampilkan tubuh Anda untuk orang lain, tidak tampil di publik tanpa kesopanan, pakaian yang layak, tidak menghasratkan motif tertentu secara tidak pantas dan melawan hukum, sehingga semua dan setiap daya tarik hanya diberikan kepada pasangan kehidupan tercinta Anda.

Dengan demikian, suami dan istri harus melakukan bagian mereka, dari hari pertama pernikahan mereka, untuk memelihara dan mengembangkan cinta yang Allah Swt. ciptakan di hati dan jiwa mereka setelah mereka menikah dalam upacara yang sah. Mereka harus selalu berusaha untuk meningkatkan dan memperkuat itu. Cara untuk mencapai hal ini, sebagaimana yang saya katakan sebelumnya, ialah membantu satu sama lain dan menjaga kepentingan satu sama lain dan kepentingan bersama keluarga. Sebagai dua mitra yang jujur, mereka harus menjaga rahasia satu sama lain, jangan pernah membukanya bahkan kepada sanak dan kerabat terdekat, dan jagalah penampilan kehidupan keluarga Anda. Dengan cara ini Anda pasti akan menikmati kebahagiaan dan manisnya kehidupan bersama.

Poin ketiga yang ingin saya sampaikan di sini adalah pentingnya memiliki sikap kompromi (bersepakat dengan jalan damai). Kompromi mungkin bukan pendekatan yang baik dalam berbagai area kehidupan, tapi penerapan kompromi yang tepat ada di dalam kerangka kehidupan pernikahan. Sebagai pengantin baru, secara bertahap Anda akan menemukan lebih banyak lagi tentang karakter pasangan. Temuan tersebut hendaklah tidak membuat Anda berkecil hati. Setelah semua itu, tidak ada pria dan wanita yang ideal di seluruh dunia. Karenanya, Anda harus toleran ketika menghadapi sesekali kemarahan, kata-kata kasar, dan semacamnya. Kebaikan dan cinta adalah satu-satunya obat bagi peristiwa yang tidak menyenangkan tersebut.

Fakta lain untuk diketahui pria dan wanita ialah bahwa wanita biasanya lebih kuat daripada pria di area toleransi dan kesabaran emosional. Anda mungkin berpikir bahwa banyak pria dengan fisik tangguh lebih kuat daripada wanita. Tidak juga, karena itu hanya penampilannya saja. Mereka mungkin lebih kuat secara fisik, tapi tentang pengalaman mental dan emosional yang bersangkutan, wanita jauh lebih kuat. Mereka memiliki tingkat kesabaran dan toleransi lebih tinggi dan memiliki cara dan metodenya sendiri untuk menjaga kebersamaan keluarga. Wanita sering lebih baik dalam mengenali sumber kelemahan pasangannya. Mereka biasanya lebih menyadari titik-titik positif dan negatif pasangannya, dan karenanya yang terbaik memimpin pria dalam menciptakan hubungan kekeluargaan yang manis.

Poin lain adalah pertanyaan tentang kemewahan, perayaan, dan pengeluaran lain yang berlebih. Apa yang saya sarankan selama bertahun-tahun tentang batasan jumlah mahar tidak berarti bahwa jumlah yang besar akan membatalkan kontrak pernikahan. Tidak! Saya telah menekankan fakta bahwa pernikahan adalah ikatan manusia. Ia adalah hubungan atau janji antara hati dan jiwa. Tapi jika dibayangi oleh masalah keuangan atau kekayaan pihak-pihak yang bersangkutan, ia akan berubah menjadi sebuah kesepakatan bisnis, seolah-olah Anda bertukar barang di pasar! Di sisi berlawanan, mahar semacam ini akan meningkatkan harapan mas kawin yang lebih tinggi, memboroskan suami. Jadi, wanita tidak boleh mengatakan: “Mahar untuk beberapa kerabat saya sekian dan sekian, karena itu milik saya harus lebih tinggi dari mereka.” Itulah mengapa saya sarankan kepada Anda untuk tidak memilih mereka yang mahar dan mas kawinnya mahal. Biarkan mahar pada tingkat yang umum, sederhana sesuai dengan kebutuhan dan keperluan Anda sendiri, dan tidak melampauinya.

Poin terakhir yang harus selalu diingat adalah memperkuat kebaikan dan nilai-nilai islami satu sama lain. Anda harus memperkuat dan memperteguh keyakinan Anda dalam perjalanan kehidupan pernikahan serta dalam bidang sosial: kantor, bengkel, gimnasium, dan di manapun. Hal ini terutama dimulai dari perbuatan, gerakan, dan perilaku Anda yang mempengaruhi orang lain dalam urusan agama. Dengan cara ini Anda akan membangun nilai-nilai agama orang lain dan membantu memperkuat nilai-nilai tersebut. Lakukan salat harian Anda tepat waktu kapanpun Anda berada. Mungkin seseorang datang dan berkeberatan: “Anda bisa melakukan salat nanti!” Jangan perhatikan keberatan seperti itu, dan pastikan bahwa contoh Anda melekat untuk mempengaruhi orang lain nantinya. Perilaku seperti itu bermanfaat untuk diri sendiri dan masyarakat tempat Anda hidup.

Saya berharap, insya Allah, anjuran-anjuran saya akan membantu menjadikan kehidupan pernikahan Anda lebih kuat, manis, dan kekal.

Catatan: Meski di tengah kesibukannya, Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, tetap melakukan tugas—dalam kapasitasnya sebagai seorang fakih—untuk menikahkan pasangan muda. Apa yang beliau sampaikan di atas ada dalam salah satu kesempatan tersebut.

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2011

2 thoughts on “Membangun Pernikahan yang Harmonis

  1. “Poin terakhir yang harus selalu diingat adalah memperkuat kebaikan dan nilai-nilai islami satu sama lain. Hal ini terutama dimulai dari perbuatan, gerakan, dan perilaku Anda yang mempengaruhi orang lain dalam urusan agama”.
    salamu’alaykum…
    mengenai “mengamankan ikatan pernikahan”, saya mau tanya mengenai penikahan,dan agama,serta “perbedaan”.
    misal,ketika Anda memutuskan akan membangun tali pernikahan namun ada hal penting mengenai agama dan “perbedaan” di dalamnya yakni mengenai perbedaan madzhab,mana yang akan Anda utamakan antara mengamankan ikatan pernikahan dengan mencoba “menyamakan” perbedaan tersebut melalui keyakinan bahwa Anda sebagai Pria adalah Imam dan wanita wajib mengikuti imam sehingga wanita yang “berbeda” tersebut Anda coba “luruskan” terlebih dahulu agar sama dengan keyakinan Anda.karna(kurang lebih saya pernah baca hadist yang intinya berbunyi),mengikuti ahlulbayt ibarat masuk ke dalam kapal Nabi Nuh,barangsiapa tidak masuk kedalamnya tidak selamatlah ia(luruskan saya jika salah).atau mengamankan ikatan pernikahan tersebut dengan tetap seiring walaupun keduanya dalam “keyakinan(madzhab)” yang berbeda(dengan tetap menaruh harap didepan keduanya bisa “sama”) dan menghargai perbedaan tersebut walaupun pasti dapat memicu suatu masalah didalamnya?

    • Menghargai perbedaan. Karena perbedaan akan tetap muncul meskipun satu agama, satu mazhab. Satu agama atau satu mazhab bukan jaminan akan amannya ikatan pernikahan. Agama bukan sesuatu yg dapat dipaksakan, demikian pula mazhab. Tapi mengajarkan mengenai keluarga nabi adalah penting. Ini opini saya.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s