Katakan Tidak Pada Ramadantainment

Bulan Ramadan merupakan bulan ampunan dan penghayatan sempurna akan ajaran agama. Bukan bulan hiburan, komedi apatah lagi reality show. Tapi itulah kenyataan yang kita saksikan dalam program tontonan bulan Ramadan di industri televisi. Paling tidak, beberapa tahun belakangan ini. Jangan mencoba untuk mengharapkan acara yang kental nuansa relijiusitasnya. Tayangan yang mencerahkan dan mencerdaskan pemirsa seperti itu rasanya cuma ada dalam khayalan. Aspek bisnis dan kejar iklan adalah pangkal soalnya. Akhirnya, di televisi, bulan Ramadan sama dengan bulan industri hiburan atau “Ramadantainment”.

Mengapa kira-kira stasiun televisi tidak menyajikan acara yang memuat substansi dari bulan Ramadan? Alasan mereka sederhana: acara macam itu tidak disukai pemirsa jadi rating-nya rendah. Dan, itu artinya tak akan ada iklan yang bakal masuk. Akibatnya, stasiun televisi tak mau rugi dengan menayangkan acara yang tak membuat rating naik. Jawaban semacam itu dari aspek bisnis kelihatan logis, tapi dari logika agama itu keliru.

Mari kita buka kembali file Ramadan 1430 H. Hampir sepanjang hari selama bulan Ramadan, porsi tayangan program hiburan dan religi di televisi menjadi 27 persen dari total jam tayangan sehari. Peningkatan itu berasal dari jam tayang saat buka dan sahur. Itu yang dikatakan AGB Nielsen Media Research (September 2009), lembaga pemeringkat yang penelitiannya kerap dijadikan landasan bagi perusahaan dalam memilih stasiun televisi tempat mereka beriklan.

Ragam acara yang paling digemari pemirsa ketika sahur adalah komedi “Saatnya Kita Sahur”. Lalu, “Para Pencari Tuhan Jilid 3”, USC: FC Barcelona vs. Shakhtar (RCTI), dan Opera van Java (Trans|7). Masih menurut AGB Nielsen Media Research, rating lima besar tayangan televisi ketika buka puasa: “Take Me/Him Out” (Indosiar), “Termehek-mehek” (TransTV), “Cinta dan Anugerah” (RCTI), “Para Pencari Tuhan Jilid 3” (SCTV), dan “Manohara” (RCTI). Artinya, program sinetron dan reality show masih menguasai rating kepemirsaan di televisi.

Demikianlah ideologi “rating share” telah menguasai paradigma dalam industri pertelevisian Indonesia. Motif televisi, seperti kata pakar media, Dedi N. Hidayat, adalah orientasi akumulasi kapital. Logika intinya senantiasa never ending of circuit capital accumulation, kata Hidayat.

Acara Ramadan tahun 2009 itu tak luput dari perhatian dan kritik keras Majelis Ulama Indonesia, Komisi Penyiaran Indonesia, dan Departemen Komunikasi dan Informatika RI. Ketiga lembaga ini menilai mayoritas program televisi bermasalah. Di antaranya: Opera van Java Sahur (Trans|7), dinilai program ini penuh kata-kata kasar, makian, dan olok-olok pelecehan dan perendahan; Bukan Empat Mata yang menampilkan Ust. Hariri yang diperolok-olok Tukul; Happy Sahur (antv) ketika Aming memegang kemaluannya pada 25 Agustus 2009; Saatnya Kita Sahur (TransTV), komedi yang dinilai penuh cemooh; dan sejumlah tayangan lainnya.

Hasil kajian Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) juga mengeluhkan hal serupa. Bahkan, menurut kajian UII beberapa tayangan Ramadan sudah masuk kategori tidak patut dan melanggar kode etik Komite Penyiaran Indonesia.

Pelanggaran yang dilakukan sejumlah televisi itu terutama Pasal 36, Ayat 6 UU 32/2002 tentang penyiaran yang melarang “Memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan atau mengabaikan nilai agama, martabat manusia Indonesia atau merusak hubungan internasional.” Peraturan KPI No. 2/P/KPI/5/2006 tentang pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran, juga melarang “menyajikan penggunaan bahasa atau kata-kata makian yang mempunyai kecenderungan menghina atau merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar, serta menghina agama dan Tuhan.”

Meski demikian, secara objektif kita juga mesti memuji beberapa program yang mendidik dan mencerahkan. Dari sinetron misalnya “Para Pencari Tuhan Jilid 3” (SCTV) dan program kajian “Tafsir Al-Mishbah” oleh Prof. Quraish Shihab (MetroTV). Keduanya menayangkan sejumlah kebajikan Islam, sarat dengan keilmuan Islam dan mencerdaskan pemirsa.

Semoga pada Ramadan tahun ini seluruh stasiun televisi menyajikan program Ramadan yang lebih bermakna dari pada sekedar “Ramadantainment”.

Sumber: Gema Mustadhafin, Edisi II, 12 Juli-12 September 2010

3 thoughts on “Katakan Tidak Pada Ramadantainment

  1. televisi hanya menjadi teman di saat menganggur masyarakat di bulan puasa
    nganggur nungguin buka
    nganggur nungguin sahur
    nganggur sambil nahan laper

    karena teman itu harus menghibur ditambah adanya hukum ekonomi mengenai permintaan dan penawaran (bener ga ya hehe) ya jadilah Ramadhantainment

  2. Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam. (QS An-Nisaa’: 140)

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s