Bercermin Pada Nama

Ketika sedang mendengarkan khutbah Jumat kemarin (7/8), tiba-tiba saya teringat dengan seorang rekan yang arti dari namanya seolah-olah mewakili kehidupannya: beruntung. Dia juga murah senyum kepada semua orang seakan-akan kehidupannya selalu dipenuhi kebahagiaan. Nama yang dia sandang benar-benar menunjukkan perilakunya.

Nama adalah doa, begitu sabda nabi saw. Nama diberikan sebagai sebuah harapan agar yang diberi nama bisa mengikuti kebaikan yang terkandung di dalam nama. Beberapa kali nabi mengganti nama orang yang baru masuk Islam menjadi lebih baik. Bahkan nabi memberi nama (julukan) kepada hewan peliharaannya dan benda lainnya seperti pedang. Mungkin nabi sadar bahwa sebenarnya tidak ada benda yang benar-benar mati.

Izinkan saya memperkenalkan diri: nama saya Ali Reza. Dikatakan bahwa nama saya diambil dari nama dan gelar salah seorang keturunan nabi dan imam ahlulbait. Namanya adalah Ali dan gelarnya adalah Ar-Ridha. Melalui logat Persia nama Ridha kemudian terucap menjadi Reza. (Padahal belum genap tujuh tahun saya “mengenal” ajaran Imam Ali Ar-Ridha.)

Putra beliau, Imam Jawad, pernah ditanya mengapa ayahnya secara khusus digelari Ar-Ridha padahal imam yang lain sebenarnya juga Ar-Ridha. Ia menjawab, “Karena musuh dan pengikutnya rida kepadanya, dan ini tidak terjadi pada ayah-ayahnya.” Bagaimana saya bisa menyenangkan musuh sementara belum seluruh teman senang kepada saya? Itulah yang menjadi harapan dari kebesaran nama yang dilekatkan kepada saya. Tapi jika saya tidak meneladaninya, apalah arti sebuah nama?

Nama apa yang sebaiknya diberikan? Karena nama adalah doa, maka berikanlah nama dengan arti yang baik. Bukan sekedar nama yang sedang populer, terdengar modern, atau asal ambil dari tokoh tertentu. Juga, tidak harus—apalagi wajib—selalu menggunakan nama yang berbahasa Arab atau kearab-araban (islami?), tetapi harus tetap mengandung makna kebaikan.

Dalam bahasa Jawa ada nama Raditya yang berarti “matahari” dengan harapan mampu menyinari orang lain dengan kebaikan tanpa pandang bulu. Makna serupa terdapat dalam bahasa Sansekerta yakni Diyanti yang berarti “berhati matahari”.

Mari kita cari tahu alasan dibalik pemilihan nama, baik dengan cara bertanya pada orang tua atau yang lainnya. Setelah kita tahu arti nama sendiri, barulah kita bercermin apakah kita sudah bisa memenuhi harapan tersebut. Nama Anda adalah pengingat Anda dalam berbuat kebaikan. Jadi, siapa nama Anda?

Catatan: Bukan kebetulan, hari ini 11 Zulkaidah adalah hari kelahiran Imam Ali Ar-Ridha.

6 thoughts on “Bercermin Pada Nama

  1. saya baru tahu ;antum mengambil mazhab dari yg mengatasnamakn ahlul bait,yg ana tahu yg menciptakan ajaran ini adalh orang2 munapik dari tokoh2 ulama shiah rafidhoh, mrk tak segan2 telah banyak mendustakan parkataan rasulullah [pi babi hadzisatil maudhu].

    • Yahudi itu terbagi 70 golongan dan yang kan masuk surga hanya 1 golongan. Nasrani itu terbagi 72 golongan dan yg kan msk surga cuma 1golongan, Islam terbagi menjadi 73 golongan dan yg kan masuk surga hanya pengikut ajaran RASULLULLAH yaitu kaum salaf salafi yg benar (pengikut ajaran rosul murni). pencetus aliran syiah yaitu abdullatta bin saba yg mati dbakar oleh Syaidina Ali karena dia tdk mau bertobat dr mengultuskan Ali. Ingat bawah syiah pintar memutar balikan fakta, syiah itu pendusta.

    • Lah kitab yang sama menyebutkan hadis nabi saw., “Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah,” yang artinya tidak boleh mengazab dengan (api) sebagaimana Allah mengazab. Jadi apakah Sayidina Ali melanggar larangan nabi?

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s