Bunda Maria dan Bunda Fatimah

Beberapa tahun yang lalu saya menyaksikan film Saint Mary. Film produksi Iran ini mencoba untuk menampilkan sosok suci ibunda Yesus dari sudut pandang Alquran dan riwayat lain. Islam memposisikan Bunda Maria dan keluarganya dalam tempat tinggi, sebagaimana dicerminkan dalam Alquran yang memiliki dua surah bernama Keluarga Imran (Joachim) dan Mariam.

Memperhatikan kisah dalam kehidupan Bunda Maria mengingatkan saya dengan sosok wanita suci lain dalam Islam, Fatimah putri Muhammad saw. Dua wanita suci ini hidup dalam kondisi sosial yang hampir serupa. Namun karena kedudukannya yang tinggi di mata Tuhan, membuat dua wanita ini dimuliakan dan diperlakukan secara khusus.

Kedudukan Wanita

Pada tahun 16 SM, penduduk Yerusalem menantikan kelahiran putra Imran yang diharapkan sebagai penolong Bani Israil, Almasih. Istri Imran yang bernama Hannah (Saint Anne) juga berharap anak yang dilahirkan adalah laki-laki agar kelak dapat menggantikan suaminya sebagai pelayan Baitulmakdis.

Harapan seperti itu muncul karena pada masa itu hanya anak lelaki yang boleh bertugas di rumah Allah, karena tempat suci itu tidak boleh didatangi oleh seseorang yang haid atau nifas. Wanita pada zaman itu menjadi makhluk kelas dua dalam mengabdi kepada Tuhan.¹ Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Hannah sudah bernazar dan menyiapkan sebuah nama yang sebelumnya tidak pernah ada.

Dalam bahasa Ibrani, Mariam berarti seorang wanita yang tekun beribadah dan menjadi pelayan Allah Swt. Melalui Mariam, Allah hendak menegaskan bahwa dalam pandangan-Nya, wanita dan pria itu sama dan tidak ada beda untuk meraih kedekatan dengan Tuhan. Mariam pun akhirnya diasuh oleh Nabi Zakaria (Zechariah).

Masa ketika wanita tidak diharapkan juga terjadi di masa Nabi Muhammad saw. Ketika putra nabi wafat, Ash bin Wail berkata kepada pemuka Quraisy, “Sungguh Muhammad tidak punya keturunan lagi dan tidak punya anak yang akan menjadi penerusnya!” Allah Swt. menjawab cemoohan itu dengan memberi nabi nikmat yang besar. Nikmat yang besar itu adalah dengan lahirnya Fatimah, dan beberapa ahli tafsir mengatakan bahwa kelahirannya adalah sebab turunnya surah Al-Kautsar:²

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang besar. Maka salatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah (hewan korban). Sesungguhnya orang yang membencimu dialah yang terputus (keturunannya).

Anggapan bahwa hanya laki-laki yang menjadi penerus keturunan telah dibuktikan keliru oleh Keluarga Imran dan Keluarga Muhammad. Yesus yang lahir dari Bunda Maria tetaplah keturunan Ibrahim (Abraham). Begitu juga dengan Hasan dan Husain yang lahir dari Bunda Fatimah tetaplah keturunan Muhammad saw.

Sumber: gholikhani.com

Hidangan dari Tuhan

Tidak hanya Yesus yang mampu menyembuhkan orang yang sakit. Bunda Maria pun sering dimintai pertolongan untuk menyembuhkan orang sakit. Beliau juga menampung orang-orang yang kelaparan. Beliau rela memberikan roti untuk makannya kepada orang yang lapar dan membutuhkan kesembuhan darinya. Sampai akhirnya Bunda Maria menahan lapar dan pingsan. Kemudian Tuhan menurunkan hidangan dari langit. (Lihat: Âli ‘Imrân ayat 37)

Rumah Fatimah pun selalu mengutamakan orang-orang yang membutuhkan. Sudah tiga hari berlalu, tetapi tidak ada sesuatu pun yang bisa dimakan. Saat Ali, suaminya, memasuki rumah, ia menjumpai Rasulullah sedang duduk dan Fatimah mendirikan salat. Di antara mereka berdua, ada sesuatu yang tertutup. Setelah salat, Fatimah membuka penutup tersebut dan terlihat mangkuk besar yang penuh roti dan daging. Ali bertanya, “Wahai Fatimah, dari mana makanan ini?” Fatimah berkata, “Dari Allah, sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki.”

Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kalian aku ceritakan hal yang serupa dengan ini?” Mereka menjawab, “Baiklah.” Rasullah melanjutkan, “Wahai Ali, engkau bagaikan Nabi Zakaria yang setiap kali mendatangi Mariam melihat Mariam sedang beribadah di mihrabnya dan di dekatnya telah tersedia makanan, kemudian berkata, ‘Wahai Mariam, dari mana datangnya makanan ini?’ Mariam menjawab, ‘Dari Allah, sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki.’ Saat itu makanan tersebut cukup untuk satu bulan…”³

Komunikasi dengan Malaikat

Beberapa orang yang menganggap Fatimah hanya sebagai manusia biasa dan putri dari seorang nabi, merasa heran tentang riwayat yang menyebutkan bahwa Fatimah dikunjungi dan berkomunikasi dengan malaikat. Alquran telah membuktikan bahwa Bunda Maria dan Sarah istri Ibrahim a.s. mampu berkomunikasi dengan malaikat. Sementara Fatimah sendiri, telah Rasulullah saw. katakan sebagai pemimpin wanita ahli surga, pemimpin wanita mukmin, pemimpin wanita alam semesta. Maka potensi yang dimiliki dan kedudukannya di mata Tuhan berada di atas wanita lain.

Kaum perempuan penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Mariam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim istri Firaun.

4 thoughts on “Bunda Maria dan Bunda Fatimah

  1. saya juga ucapin thank’s buat mas Reza dengan sukarela membagi ilmunya, yang tadinya saya tidak tahu menjadi faham

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s