Belajar dari Kesabaran Ahlulbait

Di suatu hari yang indah, Rasulullah saw. berkumpul bersama putrinya, Fatimah, dan menantunya, Ali. Bersama beliau juga telah ada cucu yang berasal dari rahmatullah, Hasan dan Husain. Berkumpulnya keluarga tersebut sangat menyejukkan hati. Siapa lagi orang yang seperti nabi? Siapa lagi yang seperti Ali? Siapa lagi yang seperti Fatimah? Siapa lagi yang seperti Hasanain? Sebuah momen indah dalam sejarah kemanusiaan.

Tak lama kemudian, tiba-tiba Jibril turun menemui nabi saw. “Wahai utusan Allah, apakah engkau dalam keadaan senang dan bahagia?”

“Tentu saja,” jawab nabi. “Ini Ali, ini Fatimah, dan ini Hasan serta Husain. Inilah keluargaku yang indah.”

Jibril berkata, “Aku akan sampaikan apa yang akan terjadi kepada mereka sepeninggalmu.” Kemudian Jibril menjelaskan tentang cucu nabi yang syahid di Karbala. Tiba-tiba tangisan mulai mengalir dari mata nabi yang suci. Segala sesuatunya berubah.

Sumber: hedzzation.deviantart.com

Nabi tertunduk dan sujud di hadapan Allah dalam waktu yang sangat lama. Tangisannya membuat sujud semakin lama. Barulah nabi bangun. Manusia yang paling dekat dengan nabi, Ali, bertanya tentang apa yang terjadi. Nabi berkata akan menjelaskannya setelah mengambil janji dari mereka, “Keluargaku, zuriahku, ahlulbaitku! Akankah kalian bersabar?” Mereka menjawab, “Tentu saja, wahai rasulullah.” Lalu nabi menceritakan apa yang akan menimpa mereka… sampai semuanya terjadi.

Di antara syarat untuk mempunyai hubungan dan keanggotaan yang hakiki dengan nabi saw. melalui nasab atau cinta dan ketaatan adalah memiliki kesabaran yang sempurna atas segala ujian dan kesengsaraan yang akan dihadapi.

Zainab binti Ali tidak berada di sana saat berkumpulnya keluarga nabi. Tapi hadis nabi tersebut telah disampaikan oleh ibu dan ayahnya. Zainab sangat ingat dengan hadis tersebut. Dia mengambil janji sendiri dan telah memahami pelajarannya. Zainab telah bersabar sepanjang waktu… sampai dia tiba di Karbala.

Imam Ali bin Husain Zainal Abidin berdiri di samping jasad ayahnya. Beliau melihat apa yang dilihat. Tak ada yang bisa menggambarkan apa yang dia lihat. Beliau melihat apa yang dilihat. Beliau melihat sampai ruhnya seakan-akan keluar dari tubuhnya.

Ketika itu Zainab berlari menuju keponakannya, Zainal Abidin. “Wahai keponakanku, sayangku, kami tidak memiliki siapa-siapa lagi selain dirimu. Aku melihat dirimu seolah-olah hendak mati… Ada apa?”

“Bibi!” serunya menangis. “Bukankah jasad ini hujah Allah (di atas muka bumi)? Ini Husain… Nabi biasa menggendong di pelukannya. Tapi lihat keadaannya sekarang?!”

Saat itu, barulah Zainab mengingatkan keponakannya tentang berkumpulnya keluarga nabi saat dulu. Janji itu telah diambil. “Allah telah mengambil janji dari kami, ahlulbait, bahwa kami akan sabar dan tegar di atas segala musibah.”

Penerjemah: Ali Reza Aljufri © 2012

Catatan: Ceramah yang disampaikan oleh Ayatullah Sayid Hadi Modarresi. Dimuat untuk memperingati empat puluh hari wafat Imam Husain bin Ali pada 20 Safar.

Baca Juga:

12 thoughts on “Belajar dari Kesabaran Ahlulbait

  1. PANDAI BANGET YA ORANG SYIAH MENGARANG CERITA! KASIHAN SEKALI KALIAN TERJEBAK DALAM NAFSU DUNIAWI DAN PENGKULTUSAN KELUARGA NABI!! BERTAUBATLAH

  2. Majusi @ apabila syi’ah adalah mencintai ahli bait nabi . . . Saksikanlah wahai 2 golongan jin dan manusia , aku akan berusaha menjadi orang paling syi’ah , , ,

    tpi apabila syi’ah adalah mengutuk kholifah abu bakar umar n utsman maka saksikanlah wahai jin dan manusia , , kan kuperangi ke syi’ahan tsb . . .

    Dan apabila syi’ah adalah melaknat yazid , , , maka spt halnya imam ahmad ibnu hambal akupun kan tergolong syi’ah . . .

    Tpi apabila syi’ah adalah sekte/firqoh rofidloh musuh sekte wahabi nashibi maka saksikanlah wahai jin dan manusia , , itu adalah urusan dua sekte aneh tsb ! ! !

  3. Yang berhak atas kepemimpinan umat islam adalah ahlul bait karena hal tersebut sudah dijanjikan oleh Allah SWT dalam al Quran. tetapi tidak semua ahlul bait pantas/layak jadi pemimpin umat islam.

    • Yang berhak atas kepemimpinan umat islam adalah ahlul bait.
      Tidak semua ahlul bait pantas/layak jadi pemimpin umat islam.

      Di mana akal sehat??

    • Atas dasar firman Allah SWT.:

      Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (QS. 2: 124)

      Khalifah Abu Bakar ra., Khalifah Umar bin Khatab ra., Khalifah Ustman ra. dan Khalifah Ali ra. adalah para ahlul bait, mereka adalah orang-orang yang bertakwa sehingga pantas menjadi pemimpin umat Islam (seperti yang dijanjikan Allah SWT. dalam ayat tsb). tetapi abu jahal meskipun dia ahlul bait termasuk orang yang celaka karena perbuatannya yang zalim. (Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. – QS.2:124 )

      Dalam ajaran syiah mungkin ahlul bait itu terlahir ke dunia sebagai seorang yang maksum (terbebas dari dosa dan kesalahan) sehingga semuanya berhak atas kepemimpinan umat Islam…. kalau demikian logikanya dimana? ingatlah! alhlul bait juga “manusia” tidak luput dari kesalahan….

    • Oh… bisa yah Abu Jahal dan khalifah yang tiga pertama masuk ke dalam “ahlulbait”? Beda pemahaman bahasa Arab, beda tafsir ayat Quran, beda memasukkan siapa yang tergolong ahlulbait.

      Jadi, umat manusia dipimpin dan diperintahkan oleh Allah Swt. untuk mengikuti “manusia” yang tidak luput melakukan kesalahan?? Di mana akal sehat?

    • Nabi Muhammad SAW dan keempat Khalifah adalah keturunan nabi Ibrahim termasuk juga abu jahal….
      Keturunan dari Nabi Muhammad SAW juga termasuk ahlul bait karena masih keturunan Nabi Ibrahim juga kan…
      Pemahaman saya ttg ahlul bait berdasarkan ayat Al Quran di atas…kalau pemahaman syiah tentang ahlul bait berdasarkan apa?

      Kenapa hanya Khalifah Ali ra. saja yg termasuk ahlul bait?…atas dasar apa? padahal beliau dan ketiga khalifah yg lainnya juga bukan termasuk keturunan langsung dari nabi Muhammad SAW.
      Tolong mas Ali Reza jangan berdasarkan akal sehat semata gunakanlah Al Quran dan Hadist sebagai dalil! biar sama-sama kita pahami…Wallohu ‘alam.

    • Penjelasan cakupan ahlulbait dalam beberapa tempat di Alquran: Kata Ahlulbait dalam Alquran. Penjelasan Allamah Alusi Baghdadi dalam kitabnya Ruh Al-Ma’ani, yang juga berbicara tentang makna itrah dan ahlulbait, “Sesungguhnya para wanita yang suci tidak termasuk ke dalam ahlulbait (sebagaimana hadis ats-tsaqalain).” Jika istri saja tidak termasuk, lalu mengapa hanya Khalifah Ali r.a. saja? Baca asbabun nuzul Al-Ahzab ayat 33 di Hadis yang Menjelaskan Siapa Ahlulbait.

    • QS. al Ahzab: 31-33
      31. Dan barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.

      32. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,

      33. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

      dalam 3 ayat tsb jelas kata “ahlulbait” tidak dikhususkan pada Siti Fatimah ra. Ali ra., Hassan ra. dan Hussen ra semata tetapi lebih ditujukan pada keluarga Rasullulloh SAW.

      Dalam ayat lain kata ahlulbait juga ditujukan kepada keluarga nabi Ibrahim

      QS. Huud: 71-73
      71. Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.

      72. Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.”

      73. Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”

    • Penjelasan tentang ahlulbait dalam artikel “Kata Ahlulbait dalam Alquran” cukup jelas dan memperbaiki pemahaman saya sebelumnya.
      Jadi ahlulbait adalah keturunan atau keluarga para Nabi yang tetap lurus dalam imannya, dan tidak termasuk mereka yang zalim meskipun dari keluarga atau keturunan nabi sekalipun.
      Terima kasih.

Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s